Minggu, 07 September 2025

Etika Kehadiran Pemangku di Rumah Duka

Om Awighnam Astu Namo Siddham

Namo Siddham, Om Swastiastu

Dalam rangka menjaga kesucian tugas dan brata kepemangkuan, serta memberikan pedoman yang jelas dalam menghadapi peristiwa kematian di lingkungan masyarakat, maka dengan ini disampaikan aturan dan tata etika kehadiran Pemangku di rumah duka, sebagai berikut:

1. Kehadiran Pemangku Diperbolehkan

Pemangku diperbolehkan hadir ke rumah duka atas dasar dharma, terutama untuk:

  • Memberikan dukungan spiritual kepada keluarga yang ditinggal,
  • Melakukan pamuji/doa ringan untuk mendoakan roh (atma) almarhum,
  • Memberikan kekuatan batin secara niskala.

 

2. Batasan dan Tatacara Kehadiran

Untuk menjaga kesucian, pemangku diharapkan memperhatikan hal-hal berikut:

  • Menghindari larut dalam suasana emosional, tetap menjaga kesucian pikiran dan ucapan.
  • Tidak menyentuh langsung jenazah atau peralatan upacara pengabenan.
  • Tidak duduk dibangunan tempat mayat atau ikut terlibat dalam kegiatan keduniawian (seperti diskusi sosial, makan bersama, dll).
  • Setelah pulang, melakukan penyucian diri (melukat) atau ngaturang canang ajengan di sanggah/merajan masing-masing.

 

3. Kehadiran Bersifat Sukarela dan Berdasarkan Brata

  • Kehadiran pemangku bukan kewajiban sosial, tetapi tugas dharma baik diminta/tidak dan atau dipandang perlu.
  • Jika pemangku merasa secara batin belum siap atau masih dalam masa brata, maka tidak wajib hadir, dan bisa mengirimkan doa dari sanggah atau pura.

 

1.    Tidak Mengubah Status Kesucian

  • Kehadiran di rumah duka tidak menyebabkan cuntaka atau sebulan, sepanjang:
    • Tidak menyentuh jenazah,
    • Tidak melanggar brata kepemangkuan,
    • Menjaga sikap satvika (suci, tenang, netral).

 

5. Penegasan

Ketentuan ini menjadi acuan bersama bagi seluruh pemangku, sekaa pemangku, dan krama pura, agar tidak terjadi salah paham, keraguan, atau konflik adat dalam pelaksanaan dharma kepemangkuan.

 

Berikut ini adalah contoh teks pamuji ringan yang bisa diucapkan oleh seorang pemangku saat hadir di rumah duka, baik saat melayat, atau saat memberikan doa secara pribadi kepada atma (roh) orang yang meninggal:

 

TEKS PAMUJI RINGAN DI RUMAH DUKA.

Om Awighnam astu namo siddham
Om atma tattwam suddha ya namah

Sembahing hulun ring sira sanghyang atma,mapan sampun wus ta ngumbaraning jagat sekala ,mogi sangkaning nugrahan Sanghyang Paratma, sehananing lampahnia paripurna kepangguh. Yan hana dosa polahingulun sanak kadang kalinganta,mogi tan ngawetuang kapiambengin sanghyang atma nyujur sunya loka.

Om moksantu,murcantu,swargantu,sunyantu,ksama sampurna

Om Sad Param Cailo Namah
Om Santih, Santih, Santih Om

 

TERJEMAHAN MAKNA (Singkat):

"Semoga tiada rintangan.
Om, Sang Atma yang suci, kami bersujud.
Kami memuja roh suci yang telah menyelesaikan perjalanan sekala-nya.
Semoga, dengan anugerah Tuhan, segala proses ini berjalan dengan baik.
Jika pernah ada salah atau dosa dari kami sebagai keluarga dan kerabat, semoga jangan menjadi beban bagi atma menuju alam sunya.
Semoga Sang Atma mencapai moksa,sorga alam suci yang sempurna.
Terimalah sembah bakti kami.
Om, semoga damai, damai, damai."

 

KAPAN & DI MANA DIGUNAKAN:

  • Saat pemangku melayat ke rumah duka dan ingin memohonkan doa singkat
  • Bisa dibaca saat memimpin doa saat penanjen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar