Selasa, 16 Desember 2025

MAKNA PALINGGIH DI PERUMAHAN DAN KARANG PANES

1. Rasional

Pembangunan perumahan di Bali khususnya masyarakat yang beragama Hindu,biasanya sebelum memulai pembangunan rumah terlebih dahulu diadakan upacara nuasen,nemakuh dan mlaspas apabila bangunan sudah selesai. Kalau memungkinkan tanahnya cukup luas,maka dalam membuat tata ruang biasanya dibagi sembilan yang terdiri dari Nistaning nista,Nistaning madya,Nistaning utama, demikian seterusnya di komplek Madya dan Utama . Khusus untuk penempatan Palinggih/Merajan dibangun di komplek Utamaning Utama.

2. Acuan/landasan hukum.

a. Lontar Asta Kosala Kosali

b. Lontar Asta Bumi

c. Lontar Kala Tattwa

d. Lontar Sudamala

e. Lontar Kanda Pat Sari

f. Lontar Dewa Tattwa

g. Lontar Widhi papincatan

h. Lontar Gong Besi

i. Lontar Tutur Wiswakarma


3. Jenis-Jenis Pelinggih

Dalam perumahan yang memenuhi standar ada beberapa pelinggih yang pokok yang dibangun di pekarangan perumahan antara lain sebagai berikut:

3.1. Pelinggih yang ada disisi luar sebagai benteng/penunggun ka-rang/Panca Kerta.

a. Angkulangkul f. Durga Raksa

b. Sri Raksa

c. Guru Raksa

d. Ludra Raksa

e. Kala Raksa

3.2. Pelinggih Utama

a. Pelinggih Sang Hyang Wisesa

b. Pelinggih Siwa Reka

c. Pelinggih Dora Sangkala

d. Pelinggih Maha Kala

e. Pelinggih di Piyasan

f. Pelinggih Penglurah

g. Pelinggih Kemulan

h. Pelinggih Tri Upa Sedana

i. Pelinggih Taksu

j. Pelinggih Durga Manik

k. Pelinggih Penunggun Karang


3.3. Pelinggih Song Sombah/Pelepas Mala/Kotoran

a. Song mbah

b. Tembok 


4. Makna dan Maksud Didirikannya Pelinggih.

Adapun maksud didirikannya :

1. Angkulangkul   : Merupakan pintu masuk pekarangan. Pada lebuh angkulangkul ini biasanya diaturkan dua segehan kanan kiri ,yang di tujukan kepada Sang Dhurga Bucari dan Sang Kala Nguyuh.

2. Sri Raksa : bagian dari Panca Kerta yang terletak di paduraksa di pojok Timur Laut sebagai penjaga.

3. Guru Raksa : bagian dari Panca Kerta yang terletak di arah tenggara/paduraksa pojok tenggara.

4. Ludra Raksa : bagian dari Panca Kerta yang berada pada paduraksa  posisi barat daya.

5. Kala Raksa : bagian dari Panca Kerta yang terletak di paduraksa pojok barat laut.

6. Durga Raksa : bagian dari Panca Kerta yang terletak di tengah pekarangan ditandai dengan batu.

7. Pelinggih Sang Hyang Wisesa  :  Pelinggih yang berbentuk Tugu terdapat di lingkungan Nista Mandala disamping pintu masuk pekarangan

8. Pelinggih Sang Hyang Siwa Reka :   Sebuah pelinggih yang terdapat di halaman/natah rumah sering di sebut juga pusering jagat Buana Alit, atau dapt di sebut pula pelinggih Surya

9. Pelinggih Dora Kala   : Sebuah pelinggih yang terdapat di sebelah kiri pintu keluar dari arah Utama Mandala (pemrajan), terdapat pelinggih yang berbentuk tugu , atau boleh berupa patung kala, yang berstana di pelinggih/patung tersebut adalah Sang Dora Kala yang bertugas menjaga kesucian pura.

10. Pelinggih Maha Kala :   Sebuah pelinggih yang terdapat di sebelah kanan pintu keluar dari arah Utama Mandala (pemrajan), terdapat pelinggih yang berbentuk tugu , atau boleh berupa patung kala, yang berstana di pelinggih/patung tersebut adalah Sang Dora Kala yang bertugas menjaga kesucian pura.

11. Pelinggih Piyasan    Piyasan memiliki makna pang yas artinya supaya bersih, damai,suci. Yang berstana di pelinggih tersebut yaitu Sang Hyang Wenang, beliau yang mempunyai kewenangan di lingkungan pemerajan tersebut.

12. Pelinggih Panglurah  :  Pelinggih ini terletak dilingkungan utama mandala terletak di sebelah kiri pelinggih kemulan. Yang berstana di pelinggih tersebut adalah :Ida Ratu Anglurah Sakti Tangkeb Langit, Ida Ratu Anglurah Sakti Wayahan Tebeng, Ida Ratu Anglurah Sakti Made Jelawung, Ida Ratu Anglurah Nyoman Sakti Pengadangan, Ida Ratu Anglurah Sakti Ketut Petung

13. Pelinggih Kemulan  :  Pelinggih ini juga sering disebut dengan pelinggih Rong Tiga/kemimitan. Pelinggih ini sebagai pelinggihan Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya selain itu juga sebagai pelinggihan Dewa Hyang (leluhur yang telah Disucikan).

14. Pelinggih Tri Upa Sedana :   Pelinggih ini Juga disebut pelinggih parahyangan/pariyangan, terletak di sebelah kanan pelinggih kemulan biasanya menghadap kebarat atau ke selatan. Yang berstana yaitu tiga dewi : Bhatari Sri, Bhatari Rambut Sedana, Bhatari Saraswati.

15. Pelinggih Taksu    Pelinggih ini terletak disebelah kanan pelinggih Pariyangan menghadap ke barat, yang merupakan linggih dari Sang Hyang Bhuta Raja beliau adalah Dewanya Taksu (guna).

16. Pelinggih Durga Manik  :  Pelinggih ini terdapat di barat daya (neriti) pakarangan, berbentuk tugu yang merupakan linggih Ida Bhatari Durga Manik.

17. Sedahan Karang/Penunggun Karang/Pengijeng Karang : Penunggun Karang dalam Sastra Dresta disebut Sedahan Karang (di perumahan) untuk membedakan dengan Sedahan Sawah (di sawah) dan Sedahan Abian (di kebun/ tegalan/ abian). Sedahan Karang dalam Lontar Sudamala,disebutkan bahwa Brahman/ Ida Hyang Widi Waca, turun ke dunia dengan mengambil  dua perwujudan yaitu Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Titah. Setelah itu beliau memiliki fungsi sebagai berikut:

Sang Hyang Titah menguasai alam Mistis termasuk didalamnya alam Dewa dan Bhuta kala, sorga dan neraka bergelar Bethara Siwa yang kemudian menjadi Hyang Guru.  Sang Hyang Titah dalam perumahan berada di hulu/komplek merajan linggih para Dewa.

Sang Hyang Wenang turun ke mercapada, berwujud Semar atau dalam susatra Bali disebut Malen/Tualen, yang akan mengemban dan mengasuh isi dunia ini.dalam aplikasinya di kehidupan ini berada di teben yakni di komplek bangunan perumahan atau Penunggun Karang. 

Mengenai bentuk bangunan juga menyerupai penokohan yang berstana didalamnya. Misalnya: stana hyang guru selalu diidentikan dengan kemewahan dan diatasnya menggunakan tutup “gelung tajuk” atau sejenisnya sebagai perlambang penguasa sorga. Sedangkan sedahan karang bentuknya menyerupai bentuk pewayangan “Malen” yaitu sederhana tapi kekar dengan atasan menyerupai hiasan “kuncung” seperti bentuk ornament kepala dari wayang semar.

Dalam Lontar Kala Tattwa disebutkan bahwa Ida Bethara Kala bermanifestasi dalam bentuk Sedahan Karang/ Sawah/ Abian dengan tugas sebagai Pecalang, sama seperti manifestasi beliau di Sanggah Pamerajan atau Pura dengan sebutan Pangerurah, Pengapit Lawang, atau Patih. Semua ini tujuannya untuk melindungi dari gangguan roh-roh gentayangan/jahat. 

Dalam kala tatwa juga disinggung mengenai lahirnya Dewa Kala yang merupakan cikal bakal dari Sedahan Karang, dimana Dewa Kala dikatakan lahir saat dina kajeng klion nemu dina saniscara yang dibali dengan istilah “tumpek”. Jadi baiknya disarankan agar odalan Sedahan Karang disesuaikan dengan hari kelahiran dari Dewa yang berstana disana yaitu saat “tumpek”. Untuk itu silahkan dipilih Tumpek yang mau dijadikan odalan Sedahan Karang dari sekian banyak hari raya Tumpek dibali untuk menghormati keberadaan Dewa Kala.

Penunggun Karang, dalam beberapa susatra dijelaskan bahwa yang distanakan di sana adalah Sang Hyang Bahu Rekso, artinya yang menjadi penguasa alam secara niskala tempat atau wilayah tersebut. 

Hyang Bahu Rekso, diidentikkan dengan Deva Ganesha, jadi Hyang Bahu Rekso dikelompokkan ke dalam GANA BHALA (pasukan Gana), Jadi kalau di rumah menstanakan Ganesha dengan melakukan yadnya caru Rsi Ghana itu sangat baik karena Ganesha memiliki multifungsi diantaranya adalah: 

Sebagai VIGHNASVARA: Penghalau segala rintangan (Om Vaktra Tunda Maha Kaya Surya Koti Samaprabha Nirvighna Kurume Deva Sarva Karyesu Sarvadam). makanya para Balian meuja Beliau agar dapat menghilangkan penyakit. Sebagai Siddhi Data: sebagai pemberi kesuksesan, (Sarva Karyesu Sarvadam).

Sebagai VINAYAKA: Lambang kecerdasan (intelek), makanya dijadikan simbol pengetahuan, dan baik untuk anak-anak.

Sebagai BUDHIPRADAYAKA: Memantapkan kebijaksanaan setiap Vaidika Dharma (pencari kebenaran),

sebagai LAMBODARA: Sumber kemakmuran. 

Akan tetapi pelinggih Penunggu Karang tidak dapat digantikan dengan Arca Ganesha (dewanya para Bahu Rekso), karena fungsi beliau berbeda.

Sedahan Karang dalam Lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bhumi ,dalam perhitungan dasar Asta Bhumi, pekarangan rumah biasanya dibagi menjadi sembilan, yakni dari sisi kiri ke kanan; nista, madya dan utama serta dr sisi atas ke bawah; nista, madya dan utama. seperti gambar disamping. sehingga terdapat 9 bayangan kotak pembagian pekarangan rumah. adapun pembagian posisi tersebut antara lain:

posisi utamaning utama adalah tempat "Sanggah Pemerajan"

posisi madyaning utama adalah tempat "Bale Dangin"

posisi nistaning utama adalah tempat "Lumbung atau klumpu"

posisi madyaing utama adalah tempat "Bale Daje atau gedong"

posisi madyaning madya adalah tempat "halaman rumah"

posisi nistaning madya adalah tempat "dapur atau pawon / pasucian" 

posisi nistaning Utama/kaja kauh adalah tempat "Sedahan Karang" 

posisi nistaning Madya adalah tempat "bale dauh, tempat tidur"

posisi nistaning Nista adalah tempat "cucian, kamar mandi dll" biasanya digunakan tempat garase sekaligus "angkul- angkul" gerbang rumah.

setelah mengetahui posisi yang tepat sesuai dengan Asta Bhumi diatas untuk posisi sedahan karang, selanjutnya menentukan letak bangunan Sedan Karang tersebut. yaitu dengan mengunakan perhitungan Asta Kosala Kosali, dengan sepat atau hitungan tampak kaki atau jengkal tangan. perhitungannya dengan konsep Asta Wara (Sri, Indra, Guru, Yama, Rudra, Brahma, kala, Uma). adapun perhitungannya:

Untuk pekarangan yang luas ( sikut satak ), melebihi 4 are atau sudah masuk perhitungan "sikut satak", posisi Sedahan Karang dihitung dengan: dari utara menuju Kala ( 7 tapak ) dan dari sisi barat menuju Yama ( 4 tampak ).adapun alasannya adalah:sesuai dengan fungsi Sedahan karang yaitu sebagai pelindung dan penegak kebenaran yang merupakan dibawah naungan dewa Yama dipati (hakim Agung raja Neraka), serta tetap sebagai penguasa waktu dan semua kekuatan alam yang merupakan dibawah naungan Dewa kala. ini dimaksudkan agar Sedahan Karang berfungsi maksimal sesuai dengan yang telah diterangkan diatas tadi.

Untuk pekarangan sempit yaitu pekarangan yang kurang dari 4 are seperti BTN, posisi Sedahan Karang dihitung dengan: dari utara  dan barat cukup menuju Sri atau 1 tampak saja. dengan maksud agar bangunan tersebut tetap berguna walau tempatnya cukup sempit, tapi dari segi fungsi tetap sama.

Rumah dikatakan sebagai replika kehidupan kemasyarakatan. dimana setiap bangunan rumah adat Bali tersebut memiliki fungsi yang sangat mirip dengan fungsi bangunan / pura di tingkat desa perkaman. diantaranya:

Sanggah Pemerajan merupakan Sorga, tempat berstana dan berkumpulnya istadewata / dewata nawa sanga, atau merupakan simbol Pura Dalem,

Bale Dangin, merupakan simbol Bathara Guru, dimana setiap upacara adat selalu diselenggarakan di bale ini, sehingga bale ini sering juga disebut bale bali (bali = wali = upacara),

Bale Daja, merupakan simbol Bathara Sri Sedhana, simbol kewibawaan, tempat penyimpanan harta benda, sehingga sering juga disebut dengan istilah Gedong, atau Bale penangkilan (tempat tamu menunggu),

Bale Dauh, merupakan simbol Dewa Mahadewa, balai sosial tempat beristirahat,

Bale Delod, biasanya digunakan sebagai dapur atau Paon, merupakan simbol Dewa Brahma, Dewa Agni, merupakan sumber pembakaran (pamuwunan), pemunah tapi merupakan sumber kesejahtraan,

Sumur merupakan simbol Dewa Wisnu yang merupakan pemelihara lingkungan rumah,

Bale Lumbung atau Klumpu, merupakan simbol Dewi Sri, tempat menyimpan makanan,

Depan dapur tempat ditanamnya Ari-ari, merupakan symbol Hyang Bherawi, penguasa kuburan

Sedahan Karang merupakan simbol Hyang Durga Manik, merupakan Pura Prajapatinya atau ulun kuburan di rumah.

      Simbolis rumah kita sebagai khayangan gumi yaitu:

Hulu adalah Pura dalem (sanggah pemerajan),

Teben, sebagai setra adalah lebuh natah (tempat ari-ari) dengan Dapur sebagai pamuhunan dan pura prajapati bernama Sedahan Karang.

     Yang perlu diperhatikan, bangunan Palinggih Sedahan harus    memenuhi syarat:

pondamennya batu dasar terdiri dari dua buah bata merah masing-masing merajah “Angkara” dan “Ongkara”

sebuah batu bulitan merajah “Ang-Mang-Ung”; berisi 

akah berupa tiga buah batu: merah merajah “Ang”, putih merajah “Mang”,dan hitam merajah “Ung” dibungkus kain putih merajah Ang-Ung-Mang.

di madia berisi pedagingan: panca datu, perabot tukang, jarum, harum-haruman, buah pala, dan kwangen dengan uang 200, ditaruh di kendi kecil dibungkus kain merajah padma dengan panca aksara diikat benang tridatu

di pucak berisi bagia, orti, palakerti, serta bungbung buluh yang berisi tirta wangsuhpada Pura

Persyaratan ini ditulis dalam Lontar Widhi Papincatan dan Lontar Dewa Tattwa. Jika palinggih sedahan tidak memenuhi syarat itu, yang melinggih bukan Bhatara Kala, tetapi roh-roh gentayangan itu antara lain Sang Butacuil.

Jika sedahan karang di-”urip” dengan benar, maka fungsi-Nya sebagai Pecalang sangat bermanfaat untuk menjaga ketentraman rumah tangga dan menolak bahaya sehingga terwujudlah rumah tangga yang harmonis, bahagia, aman tentram, penuh kedamaian. 

18. Song Mbah berfungsi untuk pembuangan sehananing Mala,yang melinggih disana adalah Sang Bhuta Anungkarat seehingga patut di beri lelabaan sesuai kebiasaan/kemampuan.

19. Diatas tembok juga melinggih Sang Bhuta Ngintip yang bertugas memantau serangan dari luar sehingga perlu diberikan lelabaan dengan posisi diatas song mbah/atau tempat diatas tembok yang pantas untuk itu.



21. Kutipan lontar Gong Besi untuk melakukan persembahan di

a. Di Lumbung/Jineng/Glebeg/Penyimpanan padi. Sang Bhuta Kala Selijuh menjaganya,sehingga diberi santapan berupa :segehan nasi biasa putih kuning,iwaknia bawang jahe,diatasnya diisi canang wangi(rampe) serta kembang kantil putihkuning dan kinangan selengkapnya dengan diiringi doa :…Ong sira SBK Selijuh muang seiring bala bhuta kabeh,ingsun iki ngaturang sega putih kuning ,pepek sepretingkahing iwaknia muang canang sariwangi kembang rampe,enak ta sira pada aneda sajining hulun,yan sampun pada wusan ledang sira meluaran wit sangkaning iki,ong moga moga lampah ingsun tanpa leteh,poma,poma,poma. Lalu sembah berikutnya kepada Dewa Bhetara Sanghyang Sri Suci yang berada di lumbung dengan sesaji (bila hendak menyimpan padi) : canang sari lengawangi buratwangi,kembang kantil putih kuning,ketupat dampulan iwaknia taluh bekasem dan daksina jangkep,lalu ditambah sebutir kelapa tua dengan diiringi doa :…Ong sira dewa Bhetara Sanghyang Sri Suci,ingsun rauh tangkil arep ketemu paraning sira Bhetara iriki,merarapan antuk canang sari lengawangi buratwangi,ketupat dampulan maulam taluh bekasem lan daksina jangkep,enak ta sira Dewa Bhetara Sanghyang Sri Suci nerima haturan iki,waluya sarining asari manah ingsun,subakti astuti paraning sira Bhetara,sami haturan iki keterimayang ring Dewa Bhetara Sangyang Sri Suci,wus mangkana ledang sira Bhetara mapaica.(sesuai tujuan)..ong sidhi rastu swecan Sanghyang Sri Suci,ong sang,ong sang,ong sang.

b. Di Dapur. Sang Bhuta Kala Aberit dan SBK Sandi penguasanya,maka santapannya berupa ;segehan bang(biasa) iwaknia bawang jahe lengkap dengan canangnya(rampe),doanya.”Ong sira SBK Aberit muang SBK Sandi sairing bala bhuta kabeh,ingsun iki angaturaken segehan warna bang iwaknia bawang jahe jangkep sari wangi,enak ta sira pada aneda sajining hulun,yan ta sira sampun pada wusan,ledang sira maluaran wit sangkaning iki,ong moga moga lampah ingsun tanpa leteh,poma,poma,poma. Berikut sembah sujud kita kepada Dewa penguasa dapur yakni Sanghyang Pawitra Saraswati dengan sesaji :.. canangsari lengawangi buratwangi,ketupat galeng akelan iwaknia taluh bekasem,daksina jangkep dan sebutir kelapa tua,kemudian ditata sedemikian rupa dengan doa..-->”Ong sira Dewa Betara Sanghyang Pawitra Saraswati,ingsun rauh tangkil arep ketemu paraning sira Bhetara iriki merarapan canag sariwangi, lengawangi burat-wangi,ketipat galeng akelan,maulam taluh bekasem lan daksina jangekp,enakta sira DBS nerima haturan iki ,waluya sarining asari manah ingsun subhakti astute paraning sira Bhetara iriki,sami haturan hulun katur ring singgih Dewa Bhetara Sanghyang Pawitra Saraswati,wus mangkana ledang sira Bhetara mepaica galah pemargi sane lanus,gantar antruk titiang ngewilangin pengupa jiwa praya anggen sangu rahayuning sarira muang rahayuning jagat,ring kawekasan macihna terang gana,Ong sidhi rastu swecan sira Sanghyang pawitra Saraswati,Ong Bang,Ong Bang,Ong Bang.”

c. Tempat bak air minum(Gentong) Sang Bhuta Kalanya adalah SBK Ireng dengan santapannya adalah: segehan selem,bawang jahe,canang sari dan sebatang rokok,doanya ….”Ong sira sang Bhuta Ireng muang sairing Bala Bhuta kabeh,ingsun iki angaturaken segehan nasi selem iwaknia bawang jahe saha maduluran rook sawiji,enakta sira pada aneda sajining hulun,yan ta sira sampun padu wusan,ledang sira maluaran wit sangkaning iki,ong moga moga lampah ingsun tanpa leteh,poma,poma,poma”.Kemudian sembah kita ditujukan kepada Sanghyang Mertha sebagai penguasa tempat air yang diprakarsai dengan tanda bhukti haturan :canangsari.lengawangi, buratwangi ,ketupat gong iwaknia taluh meguling,,daksina jangkep dilengkapi sebutir kelapa tua dengan doa:…”Ong DBS Mertha,ingsun rauh tangkil arep ketemu paraning sira Bhetara iriki ,merarapan antuk sesaji canangsari,lengawangi, burat-wangi, ketupat gong maulam taluh maguling lan daksina jangkep,enakta sira DBS nerima haturan iki,waluya sarining asari manah ingsunsubakti astute paraning sira Bhetara iriki,sami haturan hulun katur ring sira Dewa BhetaraSanghyang Merta,wus mangkana ledang sira Bhetara mapaica(sesuai tujuan),Ong sidhi rastu swecan Dewa Bhetara Sanghyang Merta,Ong Ung ,Ong Ung,Ong Ung”.

d. Di Tempat Bakul Nasi/Baskom/Soknasi.Bhuta Kalanya bernama Sag Bhuta Kala Nada,persembahan kita berupa : segehan putih kuning iwaknia bawang jahe dilengkapi dengan kembang rampe dengan doanya …..”Ong sira Sang Bhuta kala nada,muah seiring bala bhuta kabeh,ingsun iki ngaturaken segehaan putih kuning iwaknia bawang jahe,saha canang sariwangi kembang rampe,enakta pada aneda sajining haturang ingsun,yenta sira sampun pada wusan,ledang sira maluaran wit sangkaning iki,ong moga moga lampah ingsun tan pa leteh,poma poma poma. Kemudian sembah kita dilanjutkan kepada Sanghyang  Catur Bhoga yang bead di tempat nasi dengan persembahan haturan yasa : canang lengawangi buratwangi(rampe),ketupat dampulan iwaknia taluh bekasem,daksina jangkep dilengkapi dengan sebutir kelapa tua dengan doa persembahanya:……Ong sira Dewa Bhetara Sanghyang Catur Bhoga ,ingsun rauh tangkil arep ketemu paraning sira Bhetara iriki,merarapan antuk sesaji,canang lengawangi burat wangi,ketipat dampulan,maulam taluh bekasem muang daksina jangkep,enakta sira Dewa Bhetara Sanghyang nerima haturan hulun,waluya sarining asari manah ingsun subakti astute paraning sira bhetara iriki,sami haturan iki katur ring sira Dewa Bhetara Sanghyang Catur Bhoga,wus mangkana ledang sira bhetara mepaica……..(sesuai acepan misal penginih-inih dll) Ong sidhirastu swecan sira DBS Catur Bhoga,Ang Ung Mang amertha ya dadi.

e. Di Sanggah Kemulan(Merajan).Sang Bhuta Kala Triguna berada disini,sehingga perlu diberikan santapan berupa nasi wong-wongan putih,hitam,merah iwakni jejeroan,canang sariwangi kembang  rampe, dengan doa….”Ong sira SBK Triguna,muang sairing bala bhuta kabeh,ingsun iki ngaturang nasi wong-wongan petak,ireng muang bang pepek sepretingkahing iwaknia jeroan muang canang sariwangi kembang rampe ,enakta sira pada aneda sajining haturan ingsun,yenta sira sampun pada wusan,ledang sira maluaran wit sangkaning iki,ong moga moga lampah ingsun tanpa leteh,poma poma poma. (SBK.Triguna adalah Buta Kala dari Ibu Pertiwi,dari Manusia dan Sang Pencipta).Barulah fokus sembah kita kepada Dewa Bhetara Sanghyang Tri Premana/Tri Purusa yaitu Sanghyang Çiwa,Sanghyang Sadhaçiwa dan Sanghyang Paramaçiwa yang berstana di Kemulan dengan bhakti persembahan : canang sariwangi,lengawangi buratwangi (rampe),ketupatnya disusun berdasarkan rongnya sebagai berikut::

Rong kanan dewanya Sanghyang Çiwa dengan persembahan ketipat galeng iwaknia taluh bekasem,canang sariwangi kembang rampe muang daksina jangkep.

Di rong tengah dewanya Sanghyang Sadaçiwa,persembahannya ketipat gong iwaknia taluh meguling,canang sariwangi kembang rampe, muah daksina jangkep.

Rong kiri dewanya Sanghyang Paramaçiwa persembahannya;ketipat nasi akelan,ketipat lepet akelan iwaknia taluh bekasem,canang sariwangi kembang rampe lan daksina jangkep.

Dari semua rangkaian persembahan diatas cukup diisi sebutir kelapa tua dan taruhlah pada rong tengah kemudian diiringi doa…..”Ong sira Dewa Bhetara Sanghyang Çiwa,Sanghyang Sadhaçiwa,Sanghyang Paramaçiwa, ingsun rauh tangkil arep katemu paraning sira bhetara iriki,merarapan antuk sesaji canang lengawangi buratwangi,ketupat galeng ketupat gong,ketupat nasi,ketupat lepet,maulam taluh bekasem muang taluh maguling,manut sepretingkahing tipatnia lan daksina jangkep,enakta sira Dewa Bhetara Sanghyang nerima haturan iki,waluya sarining asari manah ingsun subhakti astuti paraning sira bhetara iriki,sami haturan iki katur ring sira Bhetara Çiwa ,Sadhaçiwa, Parama-çiwa,wus mangkana ledang sira bhetara mapaica……(sesuai permohonan) ..Ong sidhirastu paswecan Dewa Bhetara Sanghyang Triguna,Ong Ang Ung Mang.

Keterangan :

Tata persembahan diatas perlu dilakukan apabila kita  mempunyai hajatan besar (Panca Yadnya) atau acara khusus yang dianggap penting sesuai kepercayaan kita masing-masing.

Bila kita hendak melakukan kontak/hubungan bhatin dengan Tuhan untuk kerahayuan sarira,keluarga dan atau jagat sebaiknya dilakukan pada hari tilem atau purnama,mengenai sesajennya cukup sederhana saja,misalnya untuk SBKnya cukup dengan canang sari biasa,segehan nasi iwaknia bawang jahe dengan sedikit garam ,warnanya disesuaikan Cuma tidak diwujudkan dengan wong-wongan. Tentang doanya sama dengan diatas Cuma disesuaikan dengan keadaan persembahan kepada DBSnya, cukup dengan canang sariwangi kembang rampe masing-masing rong dan doanya sama dengan diatas Cuma disesuaikan dengan persembahan kita.

22. Sekilas Baik Buruknya Pekarangan dan  Penetralisirnya.

a. Karang Manik Mulia/Karang Nemu Laba adalah Pekarangan yang lebih tinggi di barat dan miring ketimur,lokasi ini baik untuk pekarangan karena banyak pangan dan untung sebagai penetralisirnya hendaknya menanam pohon cocor bebek/ kayu urip.

b. Karang Sri Sedana/Karang Kala Wisesa yaitu karang yang miring ke barat,ini kurang baik karena sering sakit dan bertengkar sebab karang ini disukai “desti” maka sebagai penetralisirnya harus ditanami pohon pisang batu di bagian tenggaranya.

c. Karang Gelagah : pekarangan yang posisinya miring keselatan, juga kurang baik karena sering kehilangan,maka sebagai penetralisirnya tanamilah Bunga Mawar Merah.

d. Karang Indra Prasta/Karang Pariboga : karang yang miring keutara,sangat baik memiliki suputra,tak kurang sandang pangan cepat kaya raya.

e. Karang Dharma lingid :pekarangan yang miring kebarat dan ketimur,namun ditengahnya melengkung,karang ini sangat baik karena cepat kaya.

f. Karang Sekar Anom : karang yang miring ke selata ,disana ada rawa atau kubangan karang antara baik dan buruk seimbang,penetralisirnya tanamilah kayu Celagi. 

g. Karang Dhana Rasa :  karang yang meninggi di bagian barat dan merendah di bagian utara,baik banyak harta dan istri setia.

h. Karang Sri Nugraha : karang yang tinggi di barat dan rendah di timur,sangat baik.

i. Karang Wisnu Manitis : datar dibagian utara,sangat baik

j. Karang Siwa Bhoga : karang yang datar dibagian selatan,sering mendapat godaan.

k. Karang Boros Wong :  pekarangan yang pintu masuknya berjumlah 2 atau lebih. Buatkan aling-aling.

l. Karang Brahma padem : pekarangan yang sering kelihatan pelangi,karang ini sangat angker.

m. Karang Sigar Penyalin : pekarangan yang banyak airnya,penetralisir dengan banyak ditanami tumbuhan.

n. Karang Asu Ngelak : ada gunung dibagian barat,sering dirusak orang lain.

o. Karang Singha Merta : pekarangan yang ada air keluar disana,sangat buruk.

p. Karang Sunia layu : pekarangan yang dikelilingi jurang, sangat banyak godaan namun banyak rejeki.

q. Karang Tiga Warna : karang yang dikelilingi gunung,sangat baik untuk tempat beryoga/spiritual.

r. Karang Indra Gana : pekarangan yang datar dan sering tampak pelangi,baik.

s. Karang Kaula katuding Bala : pekarangan yang dikelilingi bukit,baik cepat kaya.

t. Karang Sri Mangepel : pekarangan yang diapit sungai atau jurang,baik kaya murah pangan

u. Karang Luwur Wangke : karang diapit gunung disukai kerbau,sapi dll,baik

v. Karang Arjuna : pekarangan yang rendah di bagian timur,diutaradan selatan gunung,sering dipisuna.

w. Karang Sula Nyupi : pekarangan yang dikelilingi oleh jalan, sangat buruk.

x. Karang Kuta Kebanda : karang yang diapit oleh jalan,sangat tidak baik.

y. Karang Teledu Nginyah : karang yang diapit oleh jalan raya,jurang dan gunung,buruk sekali.

z. Karang Gerah : pekarangan yang bersebelahan dengan Kahyangan Tiga/panes.

aa. Karang Suduk Angga : pekarangan yang tumbak jalan,tembok/pagar  pekarangan atau atap rumah tetangga jatuh di pekarangan tersebut,sangat buruk

ä. Karang Asu Welang : pekarangan yang diapit oleh karang brahmana,sudra,brahmana,sudra,sering sakit.

ö. Karang Tumbak Rurung/Tukad : karang yang menghadap langsung ke jalan/sungai,sangat jelek.

dd. Karang Liwatin Rurung/Parit : sangat tidak baik

ee. Karang Manyeleking : dua pekarangan dijadikan 1 pntu gerbang,dimana penghuninya adalah lain keturunan,ini tidak baik,

cc. Karang Naga Sesa : pintu pekarangan berhadapan langsung dengan pintu masuk pekarangan lain,tidak baik.

23. Karang ke baya-baya :

a. Karang Bhuta Salah Wetu : jika dipekarangan tersebut ada tumbuh kelapa bercabang,buruk.

b. Karang Wong Baya : jika dirumah ditumbuhi jamur(wong), buruk.

c. Karang Panca Baya : jika dirumah tersebut ada kayu ulah tumbuh/ada orang sengaja bunuh diri disana.

d. Karang Lulut Baya : jika di pekarangan tersebut ada lulut.

e. Karang Toya Bayu : jika di pekarangan atau lantai rumah itemukan ada darah kental.

f. Karang Sepuh Baya : jika di rumah tersebut dijumpai rumah sepuh menggunung.

g. Karang Ula baya/Kawisyan : ular masuk rumah,

h. Karang Salah Wetu : babi/anjing beranak satu,itu tanda bahaya.

i. Karang Salah Pati : pekarangan yang pernah ada orang salah pati(gantung diri dll).

j. Karang Keraja Baya : karang ada darah kental secara tiba-tiba/pernah ada perkelahian.

k. Karang Geni Bhaya/Geseng : karang yang pernah kebakaran

l. Karang Panca Bumi :karang yang pernah disambar petir .

m. Karang Buta Walu : karang ada babi beberasan.

n. Karang Leak Gundul : bila dipekarangan itu sering dijumpai ada asap.

o. Karang Karagan : ayam dan anjing bersenggama disana.

p. Karang Papa Bramana : karang yang didiami tabuan sirah

q. Karang Sandang Lawang : pekarangan yang berpapasan jalan dan dihuni oleh saudara kandung.

r. Karang Ngaluwanin : pekarangan yang libih tinggi dari Pura/ Kahyangan atau gria sulinggih.

s. Karang Namping Pempatan : pekarangan yang dekat dengan pempatan atau pertigaan.

t. Karang Kalebon Amuk :pekarangan yang pernah membunuh dan dibunuh disana. 

u. Karang Bhuta Dengen :pekarangan yang terasasepi meskipin faktanya rame.

v. Brahma Sesa : adalah bangunan bekas terbakar 

w. Ngurip Watu : bangunan yang roboh sendiri

x. Balu Makabun : saka atau tiangnya menusuk legungan atau lambing.

y. Dongkang Mekeem : ada bangunan di tengah-tengah sekelilingnya berisi emper/gerantangan.

z. Karang Karubuhan : pernah ditimpa pohon.

aa. Sandang lawe : karang yang berhadapan dengan jalan kecil.

bb. Karang nanggu : tidak ada rumah didepan pekarangan.

ö. Karang apitan : karang sudra diapit oleh gria.

dd. Karang Lebah Banyu : lebih rendah dari tetangga

bb. Karang Kelingkuhin : karang yang lebih pendek dari karang tetangga di kanan kirinya.

cc. Karang Negen : satu orang punya tanah diseberang jalan dan sisi yang lain.

24. Pemehayu Karang Panes :

Karena karang panes seperti yang disebutkan diatas sangat membawa energy negative bagi penghuninya,maka perlu dilakukan penetralisirnya sebagai berikut :

a. Untuk Karang karubuhan dan karang Sandang Lawe  sebaiknya membangun Padmasari/padma andap tepat di penumpelan jalan/penumbak rurung,tempat menstanakan SH.Wisesa  yang disebut Bhatara Indra Belaka. Kalau tidak dibuatkan itu akan dihuni oleh Kala Desti atau Sang Kala Maya yang akan membuat celaka penghuninya.

b. Karang Sula Nyupi,Kuta Kebanda dan Teledu Nginyah sebaiknya membangun padmaandap didepan rumah untuk stana Sang Durga Maya atau SH Kala Durga.

c. Karang Gerah sebaiknya membuat lubang tembus(song mbah) pada tembok yang menghadap ke pura/Bale Banjar/Pasar untuk ngayat Sang Kala Amengkurat.

d. Pekarangan yang harus dilakukan pecaruan:

Upacara pemanggih dibawah menggunakan bebek selem tandingan 33 bangun urip. Lengkapi dengan datengan olahan caru 5 tanding dan kelengkapan lainnya. Di sanggah meprasista dengan kelengkapannya.

Ngaturang Guru Piduka di Betara Hyang Guru dan dikawitan , dirumah diadakan caru:

1. Caru Eka Sata ayam putih tulus.atau

2. Caru Manca Sanak (ayam manca sato+Anjing bang bungkem)

3. Caru angkus atau

4. Caru Rsi Gana tergantung kemampuan.

25. Durmangala (Kekotoran Pekarangan ,Cemer karena bencana alam seperti :

a. Angin kencang merobohkan bangunan

b. Banjir bandang hingga menghanyutkan rumah

c. Kebakaran yang hebat

d. Disambar petir

e. Diguncang gempa hingga bangunan roboh

f. Ditimbun longsoran

g. Diliputi asap tanpa sebab

h. Ditimpa meteor dan batu atau gunung api(tertimbun material letusan).

Untuk meruat kejadian tersebut diatas dapatdilakukan :

a. Upacara Mamungkah jika yang terkena musibah tersebut tempat suci

b. Jika hanya roboh bangunan tersebut,bisa dibangun kembali dengan upacara sepatutnya.

c. Jika di pekarangan rumah,hendaknya membangun pelinggih padmacapah linggih SH Indra Belaka.


Jika kotor karena Binatang :

1. Jika Sapi,Kambing dan Babi peliharaan sampe masuk ke merajan maka harus mengadakan upacara caru Panca Sato.

2. Jika ada binatang lahir tidak normal dipekarangan harus dilarung ke segara.

3. Jika ada anjing yang beranak satu ekor itu cirri karang panes wajib mecaru panca sanak.

4. Jika anjing atau ayam bersenggama dib alai maka mestinya melakukan caru ayam hitam sorohannya dan segehan manca warna.

5. Jika ada lulut di pekarangan agar di presista durmangala,jika lewat tiga hari carunya ayam brumbun.

6. Ular masuk kamar/pekarangan diberikan labaan daksina sari 500,nasi wong-wongan lipi,daging be katak,jaja emping ditukan kepada Bhuta Sah Mika.

7. Jika ada guak bertengger di pekarangan diberikan labaan nasi wadah tamas ditujukankepada Bhuta Gagak.

8. Jika di merajan disarangi tawon ,Kela, maka lelabaannya peras ajuman,nasi kepelan me be bawangjae,gula bali nyuh metunu,wot bekatul,blulang kulit kebo,santun 1,uang 2,segehan manca warna4/5 tanding, aturkan kepada Sang Buta Mingmang dibawah sarang lebah tersebut.

9. Jika adarayap/sepuh bermukim di rumah upacara caru gabur agung: nasi wong-wonganpangkonan nasi manca warna, wadah tamascawu5,tulung 5,kwangen 5,peras ajuman, sesantun,soroan atempeh,sanggah cucuk, dipersembahkan kepada Sang Kala Mampuh.

10. Jika ada darah kental sebelum 40 hari carunya panca sato,jika lewat carunya pancasanak.

11. Jika ada jamur baya di pekarangan carunya ekasato dan prayascita.

12. Jika rumah ditempati sesapi carunya :wongwongan sesapi,ikan,belalang,daksina berasnya kuning,sari 500, katur Sang Bhuta Paksi Raja

13. Jika rumah dihuni nyawan itu adalah rejeki upacaranya presista durmangala,nyanyah gringsing gula nyuh ditujukan kepada Sang Buta Mingpunang danBetara Sri Sedana.

14. Rumah dihuni tabuan sirah, cirri menjadi guru masyarakat harus diupacarai presista durmangala,nasi wong-wongan ayat Sang Bhuta Sah Mika.

15. Bangunan kerubuhan kayu di upacarai caru ayam brumbun.


26. Karang Panes

Karang Panes atau nyakitin adalah pekarangan yang tidak baik untuk dijadikan tempat tinggal karena konon orang yang menempati atau menghuninya akan kerap kena bencana, acap bertengkar lantaran hal-hal sepele, sering kecurian, kena fitnah, diganggu mahluk halus dll.

Namun, apabila memang terpaksa menempati atau menghuni karang panes dapat meruwatnya dimana dalam mengetahui karang panes dan untuk menetralkannya secara niskala disebutkan baik dalam lontar wiswakarma dan lontar bhamakertih agar tanah tersebut dapat memberikan rasa damai dan tentram, banyak rezeki dan panjang umur yaitu disebutkan antara lain :

a. Karang Tumbak Rurung, didirikan sebuah pelinggih pada posisi yang ditumbak oleh rurung guna dapat mengeliminasi dampak negatif keberadaan posisi pekarangan.

b. Pekarangan rumah yang ngulonin (terletak di bagian hulu) banjar atau pura bisa dinetralisir dengan jalan memundurkan tembok panyengker (pembatas) rumah. 

c. Antara tembok banjar atau pura dengan tembok rumah dibuatkan gang kecil (rurung gantung). 

d. Sementara di luar tembok pekarangan agar dibangun pelinggih (bangunan suci) berbentuk padma capah dan di tanah pekarangan dibuatkan upacara pemahayu pekarangan (pecaruan karang tenget/angker).

e. Segala yang disebut Pamanes Pekarangan, seperti: Kemasukan gelap, dan terbakar, patut membangun palinggih berupa Padma capah, sthana Sang Hyang Indra Blaka. 

f. Apabila tidak membangun sthana untuk Sang Hyang Indra Blaka, tidak putus-putusnya menemukan sakit bermacam-macam, walaupun hingga sepuluh kali telah macaru, tak akan bisa selesai oleh caru itu, karena Beliau Sang Hyang Indra Blaka telah berubah dari Sang Hyang Indra Blaka, menjadi Kala Maya, menjadi Kala Desti, demikian dinyatakan. 

g. Pekarangan yang dimasuki ular dapat dikatakan karang panes. untuk menanggulangi efek negatifnya, disebutkan : 

Dibuatkalah palinggih Indra Blaka di luar rumah.

Dan untuk menetralisir keangkerannya dilaksana kan dengan Upakara Pemarisudha Prawesa.

Demikianlah sedikit tentang Pelinggih di Pekarangan,Tatacara pelaksanaan upakara,karang panes dan penetralisirnya agar dapat dipakai acuan paling tidak untuk keyakinan diri sendiri,karena dasar beragama adalah saradha. Banyak sumber yang dapat dijadikan acuan tergantung mana kita yakini,itulah dilaksanakan sebagai tuntunan dalam kehidupan. Sesungguhnya kita tidak tahu mana yang benar,mana yang baik atau sebaliknya,kita tidak usah menghakimi orang lain karena masing masing mempunyai keyakinannya sendiri dan cara implementasinya,silahkan asal jangan menjastifikasi orang lain,biarkan berjalan sesuai sradhanya,mereka yang melakukan asal jangan terlalu jauh menyimpang dari tradisi dan keyakinan para leluhur. yang baik digunakan atau diambil yang kurang baik abaikan saja toh ini salah satu literasi beragama,masih banyak lagi literasi yang dapat diikuti baik secara sekala dan niskala. rahayu.(Manixs)

Minggu, 26 Oktober 2025

Upacara Numpek Uduh di Pura Suci Manik Gni Berlangsung Khidmat

Tegenan, 25 Oktober 2025 — Upacara Tumpek Uduh di Pura Suci Manik Gni, Desa Adat Tegenan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, berlangsung dengan khidmat pada Sabtu, Kliwon Wariga, 25 Oktober 2025. Upacara ini merupakan salah satu bentuk rasa syukur masyarakat pengempon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah kesuburan dan hasil bumi yang melimpah,ujar ketua KWT Mekar Wangi Ni Kadek Darmiani disela sela upacara berlangsung.

Pelaksanaan upakara/banten dalam upacara ini dipersembahkan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Wangi,karyawan-karyawati,pengurus dan pengawas KSP.Mekar Sari, sedangkan babi guling sebagai bagian dari sarana yadnya merupakan donasi dari pura. Upacara dipimpin oleh Pemangku Jan Bangul Pura Suci Manik Gni, Mk. Manik Puspa Yoga.

Rangkaian acara yang semula direncanakan dimulai pukul 07.30 WITA mengalami sedikit penyesuaian waktu dan baru dimulai sekitar pukul 09.00 WITA, karena menunggu kehadiran pihak Kementerian Agama Kabupaten Karangasem yang akan menyerahkan Tanda Daftar Pura (TDP) kepada pengempon  Pura Suci Manik Gni.

Upacara berlangsung lancar dan penuh makna, dihadiri oleh pengempon pura, anggota KWT Mekar Wangi dan kru KSP.Mekar Sari, serta masyarakat sekitar. Rangkaian kegiatan diakhiri sekitar pukul 11.00 WITA dengan nunas tirta yang dibawa pulang oleh warga untuk ngatag di rumah masing-masing. Peserta upacara juga menerima bagian babi guling sebagai simbol berbagi berkah dan rasa syukur, yang seluruhnya bersumber dari donasi pura,ujar I Ketut Wana Yasa,klian pura yang juga manajer KSP.Mekar Sari.

Dengan terselenggaranya upacara ini, krama penyungsung berharap agar anugerah kesuburan, keharmonisan, dan kesejahteraan senantiasa menyertai seluruh warga penyungsung Pura Suci Manik Gni.(manixs).

BERIKUT DOKUMEN UPACARA NGATAG DI PURA SUCI MANIK GNI :









Upacara penyineban

 
Proses pelaksanaan Ngatag di Pura Suci Manik Gni






Penyerahan Tanda Daftar Pura (TDP) Pura Suci Manik Gni oleh Kementerian Agama Kabupaten Karangasem

Tegenan, 25 Oktober 2025 — Kementerian Agama Kabupaten Karangasem secara resmi menyerahkan Tanda Daftar Pura (TDP) kepada pengempon Pura Suci Manik Gni yang berlokasi di Desa Adat Tegenan, Kecamatan Rendang. Penyerahan dilakukan oleh Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Rendang, Dr. I Gusti Ngurah Ananjaya, S.Pd., M.Pd., yang juga menjabat sebagai Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Karangasem.

Acara penyerahan TDP ini dihadiri oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Wangi, pengurus, pengawas, dan karyawan Koperasi Mekar Sari, Bendesa Desa Adat Tegenan I Ketut Wana Yasa yang didampingi Klian Banjar Adat Tegenan Kelod I Wayan Suiji, serta Ketua Pakis Ni Kadek Ririn Susanti,S.Pd. dan Ketua Serati Desa Adat Tenganan Ni MAde Karmiasih.

Dalam laporannya, Pemangku Pura Suci Manik Gni, Mk. Manik Puspa Yoga, menjelaskan sejarah dan fungsi Pura Manik Gni, sebagai pura swagina yang diempon oleh Kelompok Tani Ternak Tunas Mekar dan KWT Mekar Wangi, termasuk KSP. Mekar Sari sebagai penyungsung utama. Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Koordinator Penyuluh Agama Kecamatan Rendang serta Kementerian Agama atas bantuan dan pendampingan dalam proses penerbitan TDP hingga akhirnya disahkan oleh Kementerian Agama Pusat.

Sementara itu, Bendesa Desa Adat Tegenan I Ketut Wana Yasa menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya kepada pihak Kementerian Agama atas terbitnya TDP Pura Suci Manik Gni. Ia berharap agar semua pura yang ada di wilayah Desa Adat Tegenan nantinya juga dapat memperoleh bantuan serupa dalam proses pengurusan legalitas melalui TDP.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. I Gusti Ngurah Ananjaya menyampaikan rasa syukur atas terbitnya TDP Pura Suci Manik Gni yang sekaligus menjadi momen bersejarah, karena untuk pertama kalinya satu pura menerima dua sertifikat TDP yang sama, mungkin mengingat pura ini diempon oleh dua organisasi berbeda,ucapnya sambil berseloroh.

“Mulai saat terbitnya TDP ini, secara nasional legalitas keberadaan Pura Suci Manik Gni telah diakui oleh negara. Semoga ke depan, pengelolaan pura ini dapat berjalan lebih baik karena sudah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah,” ujar Dr. Ananjaya.

Ia juga berpesan agar sertifikat TDP ini digunakan secara bijak dan tidak menimbulkan konflik internal antarwarga atau pengempon pura.

Sebagai penutup, pada hari Sabtu, Kliwon Wariga, 25 Oktober 2025, atas nama Kementerian Agama Republik Indonesia, Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Rendang secara resmi menyerahkan Tanda Daftar Pura (TDP) Pura Suci Manik Gni, disertai doa dan rasa syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (manixs)

KWT.Mekar Wangi saat mengikuti acara penyerahan TDP.Pr.Suci Manik Gni.

Mk.Manik selaku pendiri dan pengempon saat memberikan laporan.

Sambutan dari kementerian agama

Peserta dari KWT

Penyerahan simbolis TDP kepada Bendesa

Penyerahan TDP kepada pengempon pura.

Acara sambutan kementerian agama






Jumat, 24 Oktober 2025

Ngentegang Otonan Ritual Pulihkan Peringatan Hari Kelahiran

Tegenan, 23 Oktober 2025 — Pada hari Sukra Wage Wariga, keluarga besar Ni Wayan Suarti (65) melaksanakan upacara ngentegang otonan, sebuah rangkaian yadnya penting dalam tradisi umat Hindu Bali sebagai bentuk penyucian diri dan ungkapan syukur atas anugerah kehidupan.

Sehari sebelumnya, telah dilakukan mepuning di Pura Kawitan, memohon restu kepada Ibu Kawitan Betara Guru Lingsir, Betara Guru Bajang, serta di Kahyangan Tiga Desa setempat. Mepuning tersebut merupakan bentuk laporan niskala bahwa akan dilangsungkan upacara ngentegang otonan, mengingat hari kelahiran Ni Wayan Suarti selama ini terlupakan dan beliau belum pernah melaksanakan otonan sebelumnya.

Peristiwa ini berawal sekitar lima bulan lalu ketika Ni Wayan Suarti mengalami musibah — tangan kirinya melepuh tersiram air panas secara tidak sengaja. Setelah dimintakan petunjuk kepada seorang tetua spiritual atau orang pintar, diketahui bahwa yang bersangkutan ternyata belum pernah melaksanakan upacara otonan sejak lahir. Dari sanalah keluarga bersepakat untuk melaksanakan upacara ngentegang otonan sebagai wujud penyucian dan permohonan keselamatan.

Upacara dipimpin oleh Jero Mangku Gara dari Desa Lesung. Dalam keterangannya, beliau menjelaskan bahwa upacara ini merupakan wujud rasa syukur kepada Sang Pengempu Urip, yaitu Sang Catur Sanak, yang telah menjaga manusia sejak dalam kandungan hingga akhir hayat.

Rangkaian upacara dimulai dengan caru pamlepeh menggunakan ayam buik, lengkap dengan banten dan sayut. Setelah itu, di merajan dilaksanakan persembahan banten sayut tujuh, guling bawi, serta sesapuh abrumbunan yang dilengkapi dengan sayut atma teka, pepek bayu pageh tuuh, langgeng amukti sai, dan berbagai perlengkapan suci lainnya.

Usai persembahyangan bersama, upacara dilanjutkan dengan natab otonan di tempat tidur, ditujukan kepada Sanghyang Guru Reka atau Sanghyang Guru Paturon, sebagai simbol penyucian diri dan peneguhan kembali kekuatan hidup (urip).

Pelaksanaan upacara ini berlangsung dengan khidmat dan penuh makna, dihadiri serta didukung oleh seluruh keluarga besar, termasuk anak-anak dan menantu Ni Wayan Suarti. Harapannya, melalui upacara ngentegang otonan ini, beliau senantiasa diberkahi kesehatan, keselamatan, dan ketenteraman lahir batin(manixs)









Sabtu, 18 Oktober 2025

UPAKARA SANGGAH MEDAGING NYAWAN/KELA MANUT LONTAR CUNTAKA & KEDURMANGALAN

 1. Sanggah medaging utawi kegenahin Nyawan/Kela mecihna becik kerauhan Laba/amerta, nanging            patut keupacarain yening nenten keupapira ngewetuang Boros-Koos ring paumahan punika.

2. Patut Keupacarain antuk : Daging mentah,Ketipat Sari,Canang Tubungan,,Gula Nyuh,                                Nyanyah Gringsing,Taluh Siapo, Sesantun 1,sesari 1.600. 

3. Katur ring SANG BHUTA MINGMANG

Minggu, 07 September 2025

Etika Kehadiran Pemangku di Rumah Duka

Om Awighnam Astu Namo Siddham

Namo Siddham, Om Swastiastu

Dalam rangka menjaga kesucian tugas dan brata kepemangkuan, serta memberikan pedoman yang jelas dalam menghadapi peristiwa kematian di lingkungan masyarakat, maka dengan ini disampaikan aturan dan tata etika kehadiran Pemangku di rumah duka, sebagai berikut:

1. Kehadiran Pemangku Diperbolehkan

Pemangku diperbolehkan hadir ke rumah duka atas dasar dharma, terutama untuk:

  • Memberikan dukungan spiritual kepada keluarga yang ditinggal,
  • Melakukan pamuji/doa ringan untuk mendoakan roh (atma) almarhum,
  • Memberikan kekuatan batin secara niskala.

 

2. Batasan dan Tatacara Kehadiran

Untuk menjaga kesucian, pemangku diharapkan memperhatikan hal-hal berikut:

  • Menghindari larut dalam suasana emosional, tetap menjaga kesucian pikiran dan ucapan.
  • Tidak menyentuh langsung jenazah atau peralatan upacara pengabenan.
  • Tidak duduk dibangunan tempat mayat atau ikut terlibat dalam kegiatan keduniawian (seperti diskusi sosial, makan bersama, dll).
  • Setelah pulang, melakukan penyucian diri (melukat) atau ngaturang canang ajengan di sanggah/merajan masing-masing.

 

3. Kehadiran Bersifat Sukarela dan Berdasarkan Brata

  • Kehadiran pemangku bukan kewajiban sosial, tetapi tugas dharma baik diminta/tidak dan atau dipandang perlu.
  • Jika pemangku merasa secara batin belum siap atau masih dalam masa brata, maka tidak wajib hadir, dan bisa mengirimkan doa dari sanggah atau pura.

 

1.    Tidak Mengubah Status Kesucian

  • Kehadiran di rumah duka tidak menyebabkan cuntaka atau sebulan, sepanjang:
    • Tidak menyentuh jenazah,
    • Tidak melanggar brata kepemangkuan,
    • Menjaga sikap satvika (suci, tenang, netral).

 

5. Penegasan

Ketentuan ini menjadi acuan bersama bagi seluruh pemangku, sekaa pemangku, dan krama pura, agar tidak terjadi salah paham, keraguan, atau konflik adat dalam pelaksanaan dharma kepemangkuan.

 

Berikut ini adalah contoh teks pamuji ringan yang bisa diucapkan oleh seorang pemangku saat hadir di rumah duka, baik saat melayat, atau saat memberikan doa secara pribadi kepada atma (roh) orang yang meninggal:

 

TEKS PAMUJI RINGAN DI RUMAH DUKA.

Om Awighnam astu namo siddham
Om atma tattwam suddha ya namah

Sembahing hulun ring sira sanghyang atma,mapan sampun wus ta ngumbaraning jagat sekala ,mogi sangkaning nugrahan Sanghyang Paratma, sehananing lampahnia paripurna kepangguh. Yan hana dosa polahingulun sanak kadang kalinganta,mogi tan ngawetuang kapiambengin sanghyang atma nyujur sunya loka.

Om moksantu,murcantu,swargantu,sunyantu,ksama sampurna

Om Sad Param Cailo Namah
Om Santih, Santih, Santih Om

 

TERJEMAHAN MAKNA (Singkat):

"Semoga tiada rintangan.
Om, Sang Atma yang suci, kami bersujud.
Kami memuja roh suci yang telah menyelesaikan perjalanan sekala-nya.
Semoga, dengan anugerah Tuhan, segala proses ini berjalan dengan baik.
Jika pernah ada salah atau dosa dari kami sebagai keluarga dan kerabat, semoga jangan menjadi beban bagi atma menuju alam sunya.
Semoga Sang Atma mencapai moksa,sorga alam suci yang sempurna.
Terimalah sembah bakti kami.
Om, semoga damai, damai, damai."

 

KAPAN & DI MANA DIGUNAKAN:

  • Saat pemangku melayat ke rumah duka dan ingin memohonkan doa singkat
  • Bisa dibaca saat memimpin doa saat penanjen.