Tegenan, 23 Oktober 2025 — Pada hari Sukra Wage Wariga, keluarga besar Ni Wayan Suarti (65) melaksanakan upacara ngentegang otonan, sebuah rangkaian yadnya penting dalam tradisi umat Hindu Bali sebagai bentuk penyucian diri dan ungkapan syukur atas anugerah kehidupan.
Sehari sebelumnya, telah dilakukan mepuning di Pura Kawitan, memohon restu kepada Ibu Kawitan Betara Guru Lingsir, Betara Guru Bajang, serta di Kahyangan Tiga Desa setempat. Mepuning tersebut merupakan bentuk laporan niskala bahwa akan dilangsungkan upacara ngentegang otonan, mengingat hari kelahiran Ni Wayan Suarti selama ini terlupakan dan beliau belum pernah melaksanakan otonan sebelumnya.
Peristiwa ini berawal sekitar lima bulan lalu ketika Ni Wayan Suarti mengalami musibah — tangan kirinya melepuh tersiram air panas secara tidak sengaja. Setelah dimintakan petunjuk kepada seorang tetua spiritual atau orang pintar, diketahui bahwa yang bersangkutan ternyata belum pernah melaksanakan upacara otonan sejak lahir. Dari sanalah keluarga bersepakat untuk melaksanakan upacara ngentegang otonan sebagai wujud penyucian dan permohonan keselamatan.
Upacara dipimpin oleh Jero Mangku Gara dari Desa Lesung. Dalam keterangannya, beliau menjelaskan bahwa upacara ini merupakan wujud rasa syukur kepada Sang Pengempu Urip, yaitu Sang Catur Sanak, yang telah menjaga manusia sejak dalam kandungan hingga akhir hayat.
Rangkaian upacara dimulai dengan caru pamlepeh menggunakan ayam buik, lengkap dengan banten dan sayut. Setelah itu, di merajan dilaksanakan persembahan banten sayut tujuh, guling bawi, serta sesapuh abrumbunan yang dilengkapi dengan sayut atma teka, pepek bayu pageh tuuh, langgeng amukti sai, dan berbagai perlengkapan suci lainnya.
Usai persembahyangan bersama, upacara dilanjutkan dengan natab otonan di tempat tidur, ditujukan kepada Sanghyang Guru Reka atau Sanghyang Guru Paturon, sebagai simbol penyucian diri dan peneguhan kembali kekuatan hidup (urip).
Pelaksanaan upacara ini berlangsung dengan khidmat dan penuh makna, dihadiri serta didukung oleh seluruh keluarga besar, termasuk anak-anak dan menantu Ni Wayan Suarti. Harapannya, melalui upacara ngentegang otonan ini, beliau senantiasa diberkahi kesehatan, keselamatan, dan ketenteraman lahir batin(manixs)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar