Kata iri hati/dengki atau hasad
adalah sebuah kata yang sudah lumrah dan sering kita dengar di kalangan
masyarakat Bali,bahkan cukup banyak sifat demikian yang terjadi di masyarakat
kita. Iri hati itu adalah suatu yang timbul ketika seseorang yang tidak memlikiki
suatu keunggulan,baik prestasi,kekuasaan,kekayaan atau lainnya,mereka menginginkan
apa yang tidak dimilikinya itu,atau mengharapkan orang lain yang memiliki semua
itu agar mengalami kemerosotan dan atau bahkan kehilangan. Nah seru bukan ?,
bagaimana dengan fenomena yang terjadi di masyarakat khususnya di Bali ?
Di krama Bali,sering kita dengar di
masyarakat bahwa si A yang nota bena sukses di keluarganya,tiba-tiba sakit yang
tidak masuk akal dan bahkan mendadak meninggal , jalan keluarnya pertama mereka
akan menanyakan pada orang pintar dan terjawablah bahwa yang
menyakiti/mengguna-gunai adalah orang yang IRI kepadanya karena sukses dan atau
kesalahan tidak mengabulkan permintaan orang yang menyakiti ketika minta/pinjam
sesuatu dulu,sehingga isunya semakin berkembang dan santer menjadi gossip dan
perbincangan dikalangan masyarakat, semakin seru jadinya. Percaya tak percaya
itulah yang terjadi di kalangan masyarakat walaupun pada zaman yang serba
digital ini,hal itu masih dipercaya.
Sifat iri hati dengan kalangan orang
terdekat(keluarga/tetangga) di kalangan masyarakat Bali sejatinya adalah sebuah
ironi padahal sifat religiusitas krama Bali sangatlah tinggi.
Disisi lain tetangga atau kerabat
dalam ritual keagamaan sangatlah tinggi peran serta dukungan dan partisipasinya
dalam mensukseskan hajatan tersebut,seperti misalnya membantu menyiapkan sarana
upakara dalam hal melaksanakan yadnya (Dewa Yadnya,Manusa,Buta dan Pitra yadnya
terutama pada saat ada kematian).
Naah sekarang yang menjadai persoalan
kenapa kalau demikian bisa muncul sifat iri diantara mereka ? dimana letak cara
berfikir mereka ? nah mari kita bahas kenapa itu bisa terjadi !
1. Landasan keber-agamaan orang Bali
adalah Budaya Pertanian.
Budaya
Pertanian adalah budaya Kebersamaan,sehingga apa bila dalam suatu komunitas ada
satu yang berbeda,maka yang berbeda dari komunitasnya akan dimarahi dan bahkan bisa
dikucilkan yang di Bali dikenal dengan istilah “kesepekang”.
Contoh
:ketika musim tanam padi maka semua warga harus menanam padi apabila berani
menanam bukan padi maka itu adalah sebuah pelanggaran wajib diberikan sanksi
adat,maka semua gerak di komunitas itu harus sama-sama,kadang kalau miskinpun
harus sama-sama miskin karena konsep Budaya Pertanian adalah
kebersamaan/bersama-sama.
Konsep kapitalis
yang membangun dan mengembangkan usaha untuk maju(hal positif di zaman modern),itu
jelas tidaklah dibenarkan,mereka tidak rela anggota komunitasnya maju dan
berkembang statusnya secara pribadi, jangan heran mereka pasti diirikan.
2. Konsep agama Agraris adalah memuja
Para Dewata,yang diturunkan melalui perwujudan pretima atau pelawatan yang
berbeda-beda setiap kelompok/klen/soroh dan diantara kelompok itu Dewa yang dipuja merekalah
yang paling tinggi kedudukannya,sehingga hal ini sering menimbulkan ego sektoral
dikalangan masyarakat,saling mengklaim mengaku kedudukan/derajat status
sosialnya paling tinggi. Pada hal kita dari kecil sudah diajarkan bahwa
derajat/kedudukan para dewata itu sama tidak ada yang lebih tinggi atau rendah
derajatnya.
3. Penduduk Bali masih homogenitasnya
tinggi sebagai pemeluk Hindu terutama di pedesaan,sehingga tidak ada pembanding
dan atau persaingan,mereka akan bersaing dan beregotika dengan klan lainnya
yang sesama pemeluk Hindu,sehingga kalau tidak mampu bersaing dan merasa
kalah,maka mereka akan melampyaskan sifat iri hatinya.
Nah karena ketiga pemikiran tersebutlah menjadikan sifat egoistik
krama Bali selalu ada dan tumbuh dikalanangan masyarakat,meskipun di era
melinial ini sudah semakin berkurang,namun masih kental dan tetap ada.
Selanjutnya yang lebih penting adalah bagaimana solusinya
untuk mengurangi/ mengikis sifat-sifat tersebut,sehingga kita bisa sadar bahwa
kita(Hindu) kecil dan minoritas dan
sangat amat kalah saing dengan umat lainnya,kita tidak perlu iri dengan
kehebatan tetangga/saudara justru kita harus bangga punya sahabat,
keluarga,tetangga yang sukses dan maju,kita akan terbantu baik secara langsung
maupun tidak langsung karena efek kemajuan tersebut,tentu kalua kita
sabar,sadar dan tidak iri.
Solusi yang dapat dilakukan cobalah buka wawasan,sekali waktu
pergi keluar Bali buka paradigma berfikir kita,jangan ibaratnya seperti katak
dalam tempurung, mungkin merasa paling hebat ditempatnya mereka di komunitas
mereka,tapi kalau tempurung kepalanya dibuka,wawasan dibuka maka mereka akan
merasa minder. Contoh hidup di Bali kita merasa paling kaya,sukses,tapi kalau kita
bawa ke Singapore disana kita tidak ada apa-apanya,mungkin tergolong
mayarakat menengah kebawah, apalagi di
bawa ke Dubai,wah tak ada artinyalah.
Apalagi sifat panatik sempit yang selalu
didengung-dengungkan,sorohny paling tinggi derajatnya,kastanya paling
superior,wah lupa dengan diri untuk makan esok saja masih mikir,nah itulah
kadang terjadi di masyarakat.
Hal lain sifat yang perlu dibuang jauh adalah,dengan tetangga
dengkinya minta ampun tapi dengan orang luar yang nota bena tidak ada
relevansinya sama sekali malah ia sangat welcome juga sukanya ngerumpiin orang
dan kadang ngurus orang lain,maka diistilahkan seperti ayam kampung,kalau cari
makan beramai, bukan makanan yang diburu,malah temannya sesama ayam kampung diajak
berkelahi,tapi kalau ayam ras(orang barat),kalau cari makan ya makanan dicari dengan
disiplin,yang lain dibiarkan cari makan sehingga sama-sama cari makan dan
saling bersaing sportif sesuai dengan kompetensinya.
Contoh riil,Bali dikenal dengan Pulau Surga tamu berdatangan datang
melihat tradisi dan budaya Bali,padahal yang dominan dapat kuenya adalah orang
non hindu,karena mereka tidak mau terlalu beririria,mereka bekerja,sedangkan
Pariwisata Bali yang dibangun dengan adat dan tradisi Bali,kita bangun
sehari-hari,nyatanya sangat sedikit dinikmati oleh pembangunnya,karena sifat-sifat
itu tadi.
Mari kawan ubah paradigma Budaya/karakter Pertanian(Budaya Pertanian yang kurang baik dibuang,yang
baiknya pertahankan sbg budaya) sehingga kita mampu bertahan dan bersaing diera
kekinian,terimakasih,mohon maaf kalau ada yang keliru(manixs).