Selasa, 18 Agustus 2026

Upakara Nasarin Wewangunan/Pelinggih lan Mlaspas

Dasar bangbang:

Tumpeng 2 bungkul ,sanganan, raka-raka sategep,ulam ayam biing pinanggang, sampian tangga,mealed kulit peras.

 

Canang Pendeman:

Canang burat wangi,canang pengrawos,canang tubungan,pesucian,kwangi kraras jinah 11 keteng(merajah ang,ah) manjing ring bungkak gading kinasturi (merajah ong) ,kwangen jinah 33,sami kinukus dening kasa,kaiket benang  4 warna(barak,selem,putih,kuning).

 

Caru Pangruak:

Banten Durmangala lan prasista katur ring Sang Bhuta Bhuana,segeh agung ring Sang Bhuta Dengen.(mantra: pakulun Sang Bhuta Amangkurat,Sang Bhuta Taun,Sang Kala Bedawang Jenar,Sang Kala Dumarana,Sang Kala Wisesa,mekadi sira rah nini Bhetara Durga,den suka anadah,caru aturane sami, Ong sampurna ya namah swaha)

 

Banten Pengruak:

Canang wangi daksina 1 maruntutan tebasan Jaga satru,segeh agung,tebasan sapuhan muah nasi kojongan,katur ring pemali agung satmaka anggen nyilurang jiwan sang nyapuh ring pertiwi,penek 1 me be bawang jahe,kwangen misi padang lepas merurub kasa ( Ong Sanghyang Pertiwi Jati mekadiSanghyangAkasa,Sanghyang Candra,Reditya,Lintang Tranggana mekadi Sanghyang Dewata,ulun akerta nugraha ring padanira pakulun,manusanira angadegaken wewangunan…….., Hyang ira Sanghyang Tari Sandya,maka pangulangin jana pada,Ong Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang)

 

Sarana:

Dasar Bata merajah padma tulisan dasaksara,batu bulitan hitam merajah ang,ung,mang, Bata/Paras megambar bedawang nala ditundune tulisan(ang). (pangurip pasupati: Ong Ang Ung Mang,Brahma Wisnu Prama Saktyem Raja Pala Loka Nata Murti Saktyem. Gana teka parayojanem,Ong Ah Rah Pat Astra ya namah. Ang Ah Ah Ang Ang Sidi Bana ya nama swaha)

 

Upakara Nyikut:

Daksina,tipat kelanan,canang tubungan marerep,peras penyeneng,sodaan,asep menyan,segehan,api takepan (kita Sang Kala Gumi,Sang Kala Dasa Muka,Sang Kala Agung kewasa sira mangana ring ulun,rungenen pemastun ingulun kula manuk,kula manuk,kula manuk)

(karang,tegal,umah,duk nyumunin): Ong Ang Ung Mang Sanghyang Guna,karunganira Hyang Perama Wisesa,wicakswaha,

 

Pengimpas Bhuta:

Ong Ang Bhuta Siksa,ayu werdi sarwa mingmang,guna wisitwina sinam

 

Nunas Tirta Suci:

Ong Padmasana ya namah Ong I ba sa ta a i,ong ya na ma si wa,man gang ung namah ong aum dewa prasista ya namah,ong sa ba ta a I,ong nama si way a ,an gung na ma si wa ya.

Ong gangga saraswati,sindu wipasa,kausika,nadi,yamune maha saresta,sarayu ca maha nadi.

Ong gangga dewamaha punya gangga saha serama dini,gangga terangga sama yukti, gangga dewi tadu nama merta jiwani. Ongkara sara bhuana pada mertha manahare ong utpatika sura sanca utpeti garasca,utpati sarwa itanca,utpeti sara wahinan.

Pemakuhan

Pemakuhan (memakuh) adalah upacara yadnya yang dilakukan setelah selesai mendirikan suatu bangunan  yaitu sebagai ungkapan terima kasih kepada Bhagawan Wisma Karma sebagai arsitek seni bangunan para Dewa, yang diwujudkan dengan memohon tirta pemakuhan. Dan dalam upacara ini, peralatan tukang juga disertakan.


Kelengkapan banten pemakuhan disebutkan adalah :

Banten Pemakuhan: yang terdiri dari peras penyeneng, ajuman putih kuning dagingnya ayam betutu, me-ukem-ukem (di sembeleh dari punggung), daksina yang berisi uang 225, canang lengewangi-buratwangi, canang raka, nyahnyah gula kelapa dan tipat kelanan. Banten ini ditaruh di sebuah sanggar di hulu bangunan.       

Urutan upacara:

  1. Ngetok sunduk, mantra: ngadegang Bhatara Semara Ratih metemuang ageni mastu astu Ang Ah.
  2. Ngetok lait, mantra: Ingsun anangun sawen anging I Dewa Gunung Agung magelung aningkahang anangun sawen, ana ring maca pada rambat rangkung panjang umur, jeng, jeng, jeng.
  3. Pangurip getih ayam putih, mantra: Mangke sira patini sepisan ngurip kita satuwuk bebataran pinaka bungkah nda. Sendi pinaka pancer nda. Adegan pinaka punyan nda. Abah-abah pinaka pangpang nda. Raab pinaka ron nda. Kelasa pinaka kembang nda. Daging nda, pinaka woh nda, urip kita jati. Paripurna urip-urip
  4. Penyapsap gidat sesaka, mantra: Pakulun manusan nira anggada kaken sapuha, menyapuha ganda keringetning wewangunan sidhi rastu.
  5. Semeti, mantra: Om Upi Sangagawenku teka pada urip, teka pada urip, teka pada urip.
  6. Baas Daksina, mantra: Om Siwa sampurna yang namah.
  7. Tatebus, mantra: Jaya Ang Ang Ang Ah

Upacara Pemlaspasan

 

Pemlaspasan ("Pemelaspasan"; "mlaspas"; "melaspas") adalah upacara untuk mensucikan sesuatu yang baru baik berupa benda ataupun bangunan baru;

Dimana yang kesemuanya dilaksanakan bertujuan agar diberikan keselamatan dan kebahagian lahir bathin bagi penggunanya.

Upacara Melaspas ini disebutkan juga sangat penting dilaksanakan berkaitan dengan indik karya agung mamungkah dan ngenteg linggih yang bertujuan untuk membersihkan semua pelinggih dari kotoran tangan undagi (para pekerja bangunan) agar para Dewata/Bhatara-Bhatari berkenan melinggih di Pura setiap saat terutama pada saat dilangsungkan upacara pujawali, sedangkan untuk membersihkan/mensucikan areal pamerajan secara niskala dilaksanakan upacara pecaruan.

Pelaksanaan pemelaspas tergantung tingkatannya, mem-perhatikan kedudukan Pamerajan, ditentukan berdasarkan petunjuk para Pedanda sebagai
Sang Yajamana, dikaitkan dengan adat setempat, yang telah berlangsung sejak dahulu agar pelaksanaan upacara menjadi lebih sempurna dan tepat.


Dalam berbagai kegiatan, upacara mlaspas untuk mensucikan sesuatu disebutkan sebagai berikut :

  • Banten prayascitta dipergunakan utk "membersihkan" atau "mensucikan" pikiran sebelum dilaksanakan upacara - upacara suci seperti mlaspas bangunan, peralatan elektonik atau kendaraan yg baru dibeli, ataupun untuk kemalangan / sebel / cuntaka dari seseorang dll.
  • Sedangkan dalam Yama Tattwa menguraikan jenis bebantenan yang digunakan untuk mlaspas bade, serta mantra yang harus dilapalkan untuk menghaturkan yadnya sesuai dengan jenisnya.  
  • Upakara Pemelaspas untuk upacara dalam membangun rumah baru, oleh karena situasi dan kondisi di suatu tempat bisa saja upakaranya berbeda.
  • Saat upacara melaspas rumah, maka di sudut-sudut atau disebut Jungut itu distanakan Padu Raksa dengan dilengkapi banten Banten Resi Gawa yang ritualnya dilatarbelakangi oleh Tattwa yang sangat dalam maknanya. 
  • Namun pada saat Gni Rhwana, orang juga biasanya menghindarkan untuk melaspas rumah (upacara selamatan untuk rumah baru).
  • Pemlaspasan alit sanggah kemulan yang dilaksanakan setelah upacara memakuh untuk dapat menyucikan/sakralisasi bangunan yang baru selesai dibuat.

Durmangala

 

Durmangala atau Durmenggala” adalah banten yang digunakan untuk menjauhkan dari segala macam masalah negatif yang dalam sumber kutipan upacara ruwatan, Durmangala berasal dari suku kata :

  • Dur artinya menjauhkan dan 
  • Mangala/bregala yang berarti unek-unek, 

jadi durmenggala bermakna menjauhkan segala unek-unek (pikobet-pikobet atau permasalahan) yang negatif. 

Ciri utama banten durmenggala disebutkan :

  • warna hijau (slepan/selepan) atau warna hitam, sebagai panugraha dari Dewa Wisnu dalam wujudnya sebagai Bhagawan Hari penguasa air. 
  • Pada diri manusia durmenggala bertujuan membersihkan/mensucikan perkataan, 
  • Dalam bhuwana agung untuk pensucikan Bwah Loka dan dalam pelaksanaannya dijalankan kearah dada.

Tetandingan Banten Tatebasan Durmangala puniki, Medasar antuk tetempeh, masusun kulit sayut, raka woh-wohan sarwa galahan, tumpeng injin 1 limas misi nasi penek mecongger bawang jahe matusuk, limas malih asiki medaging nasi penek meconggor terasi (sere) matusuk, nasi nyane metatakan antuk kampil, kojong rangkadan, daksina 1, pras tulung sayut, ketipat kelanan, base tulak mewadah takir, canang pahyasan, taluh bekasem, Lis peselan, Padma, Penyeneng alit, bungkak nyuh gadang 1, sampyan Nagasari, sasedep tepung tawar, tatebus benang selem, lis peselan 1, padma l, coblong 1, payuk pere l, sami eteh-eteh nyane melakar antuk selepan.

 


Kamis, 06 Agustus 2026

Arisan Berbasis Tradisi Resmi Bergulir, Ita: Kepercayaan adalah Modal Utama Menuju Kesejahteraan

Gatra manixgni, Kamis (6/8/2026) – Semangat gotong royong dan nilai-nilai tradisi menjadi fondasi lahirnya sebuah komunitas arisan yang diprakarsai Luh Ade Sintia Paramita atau yang akrab disapa Ita. Pada Kamis (6/8), komunitas tersebut menggelar pungutan iuran perdana yang diikuti 36 anggota dengan nominal Rp500.000 per orang, yang disetorkan  tanggal 6 setiap bulannya.

Ita, mantan kru kapal pesiar yang kini aktif membangun komunitas di tengah masyarakat, mengatakan bahwa arisan yang dikelolanya tidak hanya bertujuan menghimpun dana, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, kejujuran, dan kesejahteraan bersama.

Menurutnya, komunitas ini berdiri di atas tiga pilar utama, yakni Tradisi, Kepercayaan, dan Kesejahteraan.

"Tradisi adalah warisan leluhur yang harus terus dijaga melalui semangat kekeluargaan dan kebersamaan. Komunitas ini kami bangun untuk saling mendukung pelaksanaan adat, kegiatan keagamaan, serta kebutuhan sosial masyarakat," ujar Ita di sela-sela kegiatan pemungutan iuran.

Ia menambahkan bahwa seluruh aktivitas komunitas juga berlandaskan nilai niskala, yakni keyakinan bahwa setiap pengelola maupun anggota harus menjaga kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab.

"Niskala bagi saya berarti saya sebagai cukong dan seluruh anggota harus sama-sama jujur, adil, dan bertanggung jawab. Kepercayaan adalah modal utama. Jangan sampai ada tindakan yang merusak kepercayaan, karena dari situlah kebersamaan bisa tumbuh," tegasnya.

Dengan kepercayaan sebagai fondasi, Ita optimistis seluruh anggota dapat bergotong royong membangun kesejahteraan bersama. Dana arisan yang diterima anggota diharapkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan keluarga maupun kegiatan adat, sementara sistem penawaran juga memberikan nilai tambah bagi anggota lainnya. Sebagai pengelola, Ita mengaku memperoleh rezeki dari hasil jerih payahnya melayani dan mengumpulkan iuran anggota setiap bulan dengan imbalan 1% dari anggota yang memenanghkan tawaran.

Komunitas arisan ini terdiri atas 36 anggota sehingga satu putaran diperkirakan berlangsung selama tiga tahun. Meski demikian, Ita mengungkapkan telah menerima sejumlah masukan agar masa putaran dapat dipercepat.

"Ada usulan dari beberapa anggota agar nanti arisan dilakukan dua kali dalam sebulan sehingga putarannya lebih singkat. Untuk sementara kita jalankan dulu sesuai kesepakatan awal. Kalau nanti semua anggota sepakat, tentu mekanismenya bisa disesuaikan," katanya.

Pelaksanaan pungutan perdana berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Optimisme para anggota terlihat dari antusiasme mengikuti kegiatan yang diharapkan mampu menjadi wadah saling membantu sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Usai memberikan keterangan kepada awak media, Ita meninggalkan Kantor Gatra Manixgni dengan senyum ceria, sembari berharap komunitas arisan yang dirintisnya dapat terus berkembang dan menjadi contoh pengelolaan arisan yang mengedepankan integritas, kebersamaan, serta kesejahteraan bersama.(Jie I Shu)