Kamis, 18 Januari 2024

TRADISI PAWIWAHAN DI DESA ADAT TEGENAN

A.Rasional.

Desa Adat Tegenan yang berada di Kawasan Pura Agung Besakih adalah salah satu Desa Pregunung yaitu desa yang mempunyai tanggungjawab moral dalam prosesi upacara di pura kahyangan jagat terbesar di Bali itu,seperti kewajiban niskala ngiring dan mundut Ida Bhatara dalam kegiatan melasti yang dibagai sesuai warisan tradisi leluhur,kalau di Desa Karang Tegenan mendapat tugas mundut Ida Bhetara Dalem Puri,Batusesa bertugas mundut Ida Bhetara Lingsir dan demikian juga dengan desa pregunung lainnya. Sehubungan dengan swadarma tersebut,maka setiap aspek religius upacara yadnya selalu dihubungkan dengan kesucian dan kesusilaan prilaku beryadnya,seperti misalnya upacara pitra yadnya di pregunung Tegenan dan desa pregunung lainnya tidak diperkenankan membakar mayat,yang dilakukan adalah mengubur mayat,karena kalau membakar maka asapnya akan membuat cemer/kotor/sebel  area suci Pura Agung Besakih. Demikian pula dengan upacara yadnya lainnya tetep melakukan etika sesana berhubungan dengan tradisi kesucian Pura Agung Besakih seperti piodalan di Pura pantang dilaksanakan bersamaan dengan upacara/ karya di Pura Agung Besakih utamanya Purnama Kedasa. Upacara yadnya lainnya seperti manusa yadnya perkawinan juga tetap menjaga kesucian agar tidak kesebelan atau cemer sehingga prosesi pelaksanaan wiwaha terutama ketika ada krama yang kawin keluar sebagai pihak predana wajib memperhatikan sesana atau etika ini,yang pada intinya untuk kerahayuan pertisentana kedepannya.

Melaksanakan wiwaha atau perkawinan bagi umat Hindu memiliki makna yang sangat penting,dalam Catur Asrama, wiwaha termasuk fase Grehasta Asrama. Memasuki fase Grehastha "wiwaha" merupakan fase yang maha mulia, seperti dijelaskan dalam kitab Manawa Dharmasastra; bahwa wiwaha bersifat sakral, wajib hukumnya, dalam arti harus dilakukan oleh setiap orang yang hidupnya normal. Melaksanakan wiwaha bagi umat Hindu yang sudah cukup umur merupakan salah satu amanat dharma dalam hidup dan kehidupan ini. 

Perkawinan atau wiwaha tidak baik jika dilakukan karena dipaksakan, pengaruh orang lain, dan sikap kekerasan yang lainnya. Hal ini perlu dipahami dan dipedomani untuk menghindari terjadinya ketegangan setelah menjalani Grehasta Asrama. Wiwaha hendaknya dilandasi oleh rasa kasih dan sayang,saling mencintai, saling mempercayai, saling menyadari, kerja sama, saling mengisi, bahu-membahu dan yang lainnya dalam setiap kegiatan rumah tangga.Terbentuknya keluarga bahagia dan kekal haruslah disertai adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban,  hak dan kewajiban serta kedudukan suami dan istri harus seimbang sesuai swadharmanya ,suami sebagai kepala keluarga sedangkan istri sebagai kepala rumah tangga.

Menurut ajaran agama Hindu, perkawinan itu adalah “yajna” sehingga orang yang memasuki ikatan perkawinan menuju Grehastha Asrama merupakan lembaga suci yang harus dijaga keberadaannya dan kemuliaannya. Pada masa Grehastha inilah seseorang dihadapkan pada tiga usaha yang harus dilaksanakan, yaitu memenuhi hal-hal berikut.

  1. Dharma yaitu aturan-aturan yang harus ditaati dengan kesadaran berpedoman pada Dharma Agama dan Dharma Negara.
  2. Artha yaitu segala kebutuhan rumah tangga berupa material dan pengetahuan yang harus terpenuhi.
  3. Kama yaitu rasa kenikmatan atau kebahagiaan yang dapat diwujudkan dalam berkeluarga. Setiap keluarga Hindu harus mampu hidup dalam kesadaran, sujud kepada TuhanYang Maha Esa/Ida Sang Yang Widhi Wasa, bebas dari kegelapan, selalu giat  bekerja dan sadar untuk beryadnya, sehingga tercipta keluarga yang tenteram, harmonis, dan damai serta abadi, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:151).


B.Pengertian Perkawinan 

1.   Menurut Undang-Undang No. 1 tahun 1974 ,yang disempurna-kan dengan perubahan menjadi Undang Undang No. 16 tahun 2019, pasal 1 menjelaskan, bahwa: "Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) baru yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa", (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:149).    

2.     Pawiwahan menurut Hindu adalah upacara yang sakral dimana seorang laki-laki dan perempuan mengikatkan diri secara lahir bathin sebagai suami istri untuk membangun rumah tangga yang harmonis melalui suatu upacara pembersihan secara sekala dan niskala.

Menurut definisi tersebut, perkawinan adalah adanya ikatan antara dua orang (pria dan wanita) secara lahir maupun batin. Mereka berkumpul dengan membentuk rumah tangga yang baru dan bahagia. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa perkawinan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan agama. Perkawinan bukan hanya mengutamakan dan mempunyai unsur jasmani semata tetapi juga unsur batin atau rohani. Perkawinan bukan hanya sekedar hubungan biologis yang mendapatkan legalitas melalui hukum sehingga mereka dapat secara leluasa memenuhi kebutuhan seksnya, tetapi lebih dari itu. Perkawinan atau wiwaha identik dengan upacara yajna, yang menyebabkan kedudukan lembaga perkawinan sebagai lembaga yang tak terpisah dengan hukum agama, dan menjadikan hukum Hindu sebagai dasar persyaratan. Legalnya suatu perkawinan “di Bali” ditandai dengan pelaksanaan ritual, yaitu upacara wiwaha seperti upacara byakala atau mabyakaonan.


C.   JENIS PERKAWINAN DAN TATA CARA PELAKSANAANNYA  

       DI DESA ADAT TEGENAN.   

Perkawinan atau pernikahan yang umum dilaksanakan di Desa Adat Tegenan adalah sebagai berikut:

1.Memadik/Meminang.

Jenis pernikahan ini yang paling umum dilakukan dewasa ini,karena didasari oleh restu kedua belah pihak baik purusa maupun predana sama-sama suka atau pada arsa,maka disebut dengan perkawinan arsa wiwaha.

Rangkaian perkawinan ini diawali dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a.    ~.  Mesedek /Mererasan/Mekruna

      Mesedek adalah acara keluarga inti,Dimana keluarga purusa (ayah,ibu,kakak,adik,misan calon mempelai laki laki) berkunjung ke rumah calon mempelai Wanita,menyatakan maksudnya untuk rencana meminang anak gadisnya,dengan terlebih dahulu tentunya calon mempelai laki laki sudah menyampaikan maksudnya kepada calon mertuanya.terlebih dahulu. Pada acara ini hanya sebatas keluarga initi,dengan membawa sekedar oleh-oleh kepada pihak purusa sebagai dasar   pembicaraan. Yang dibahas rencana berikut-nya kapan dilaksanakan sehingga bersepakat untuk kelancaran acara berikutnya yakni Darma Suaka. Karena sudah ada kesepakatan,maka agar acara berikutnya lancar dilanjutkan acara secara niskala matur piuning mohon restu ring Bhetara Kawitan dan atau Ibu kawitan,Hyang Dewa,kahyangan tiga dan atau kahyangan lainnya yang dianggap penting,namun bisa juga dilakukan pada saat acara mepamit,tergantung dadia masing-masing. Calon mempelai Wanita Bersama keluarganya matur piuning 3 hari atau 1 hari sebelum acara puncak,karena apabila setelah itu si wanita sudah masuk masa kesebelan karen akan fokus pada persiapan perkawinannya.

b.     ~.Darma Suaka.

Pelaksanaan acara darma suaka lebih luas lingkupnya,karena dihadiri oleh prejuru dadia,keluarga besar dadia pihak predana,juga pihak purusa. Dalam acara ini kelengkapan yang dibawa adalah banten pejati untuk matur piuning di betara guru dan 1 lagi ditempat acara dilengkapi dengan canang pengraos. Agendanya setelah usai disuguhi minuman penyanggra dengan basa basi   dan perkenalan, maka acara resmi pedarma suakaan dimulai dengan pemangku yang ditunjuk tuan rumah mulai ngaturang/ngantebang banten pejati,setelah itu baru kemudian juru bicara tuan rumah(predana) nyapa pinaka penyanggra,intinya menyampaikan informasi pesedek yang sudah dilakukan sebelumnya dan meminta pertegas tujuan kehadirannya. Setelah pihak purusa memaparkan tujuan dan Langkah langkahnya,maka pihak predana menanyakan pada anaknya agar mempertegas dihadapan saksi keluarga besar akan kesediaanya menerima pinangan.

Setelah jelas kesediaan calon mempelai Wanita dan laki laki sepakat kejenjang grehasta asrama,maka orang tua/keluarga kedua belah pihak memberi wejangan tatacara dan Langkah menghadapi jenjang grehasta asrama/wiwaha ,kemudian klian dadia atau prejuru memberikan kesaksian dan restu atas rencana pernikahan tersebut mereka berdua,karena sudah direstui oleh kedua belah pihak,serta mengharapkan bisa mewujudkan keluarga sukinah sukam bawantu memiliki anak yang suputra. Pada saat itu mempelai Wanita bisa diajak langsung ke mempelai laki-laki,kalau tidak diambil,maka pada acara puncak,pagi harinya diambil untuk melaksanakan pekala-kalaan/merebu (Bhuta Saksi), tergantung pihak purusa.

 

c.   ~.   Wiwaha Samskara (pengesahan perkawinan oleh Manusa Saksi)

 

Tahapan pawiwahan ini adalah tahapan puncak,dimana setelah melaksanakan upacara mebyekaon,pekala-kalaan,kedua mempelai kembali kerumah bajang/Perempuan untuk melaksanakan Wiwaha Samskara yaitu penyelesaian upacara wiwaha dengan saksi dari pihak Klian Banjar Adat,Bendesa dan Klian Banjar Dinas secara kedinasan dari pihak Pursa dan Predana. Tahapannya,setelah mempelai mesayut di lebuh ,lanjut berkumpul ditempat yang sudah disediakan ,Bersama orang tua,klian dadia dan saksi-saksi bersilaturahmi menikmati suguhan yang dihidangkan oleh pihak predana,maka acara Wiwaha Samskara dimulai dengan ngaturang bakti pejati,canang pengraos dan kelengkapan lainnya. Usai pemangku nganteb,maka acara dibuka oleh keluarga pihak predana/tuan rumah,memperkenalkan para saksi dan keluarga yang menyambut para tamu  dan keluarga mempelai juga menjelaskan rangkaian acara yang sudah disepakati sebelumnya,sehingga kronologi perkawinan itu diketahui oleh para saksi. Selanjutnya perwakilah pihak purusa juga memperkenalkan para saksi dan keluarga yang diajak untuk mengikuti acara Wiwaha Samskara ini. Usai kedua belah pihak menyampaikan sistematika perkawinan itu, maka pengantar acara terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada Klian Banjar Adat predana sebagai saksi pertama dan akan melepas warganya dari catatan data krama,kemudian diserahkan kepada Bendesa,sekaligus memberi nasehat kepada mempelai berdua,dan menjelaskan ilikita perarem tentang kawin keluar, kemudian kramanya mulai saat itu dilepas dari cacah jiwa Desa Adat predana,kemudian giliran saksi berikutnya adalah Bendesa Purusa,menerima dan akan mencatat Wanita tersebut sebagai warganya dan bendesa langsung menyerahkan uang penepak suara /pengepik cacah jiwa dan bakti pejati katur ring Bhagawan Penyarikan Bale Patok ,uang dan banten tersebut diserahkan Kepada bendesa predana. Kalau disaksikan oleh Klian banjar Purusa,maka Bendesa menyerahkan pencatatan cacah jiwa mempelai Perempuan kepada Klian Banjar yang bersangkutan. Usai saksi Adat maka dilanjutkan saksi dari Banjar Dinas Predana dan Purusa,kemudian dilanjutkan dengan penanda tanganan berita acara perkawinan dari masing-masing pihak. Acara selanjutnya seserahan pewarangan dari pihak orang tua Purusa kepada orang tua Predana,berupa base buah,tuak arak dan runtutannya. Di era sekarang kalau ada acara pasang/tukar cincin/sunting ali ali tresna, maka kesempatan inilah saatnya. Selesai acara tukar cincin ada doa wiwaha dan diakhiri dengan penyineb bakti pengraos dengan ngedetin peras oleh para saksi dan mempelai beserta orang tuannya masing-masing,atau simpelnya susunan acara Wiwaha Samskara adalah sebagai berikut (sebelumnya pemangku sudah ngantebang bakti pejati dan bakti pengraos) :

Tahapan pawiwahan ini adalah tahapan puncak,dimana setelah melaksanakan upacara mebyekaon,pekala-kalaan,kedua mempelai kembali kerumah bajang/Perempuan untuk melaksanakan Wiwaha Samskara yaitu penyelesaian upacara wiwaha dengan saksi dari pihak Klian Banjar Adat,Bendesa dan Klian Banjar Dinas secara kedinasan dari pihak Pursa dan Predana. Tahapannya,setelah mempelai mesayut di lebuh ,lanjut berkumpul ditempat yang sudah disediakan ,Bersama orang tua,klian dadia dan saksi-saksi bersilaturahmi menikmati suguhan yang dihidangkan oleh pihak predana,maka acara Wiwaha Samskara dimulai dengan ngaturang bakti pejati,canang pengraos dan kelengkapan lainnya. Usai pemangku nganteb,maka acara dibuka oleh keluarga pihak predana/tuan rumah,memperkenalkan para saksi dan keluarga yang menyambut para tamu  dan keluarga mempelai juga menjelaskan rangkaian acara yang sudah disepakati sebelumnya,sehingga kronologi perkawinan itu diketahui oleh para saksi. Selanjutnya perwakilah pihak purusa juga memperkenalkan para saksi dan keluarga yang diajak untuk mengikuti acara Wiwaha Samskara ini. Usai kedua belah pihak menyampaikan sistematika perkawinan itu, maka pengantar acara terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada Klian Banjar Adat predana sebagai saksi pertama dan akan melepas warganya dari catatan data krama,kemudian diserahkan kepada Bendesa,sekaligus memberi nasehat kepada mempelai berdua,dan menjelaskan ilikita perarem tentang kawin keluar, kemudian kramanya mulai saat itu dilepas dari cacah jiwa Desa Adat predana,kemudian giliran saksi berikutnya adalah Bendesa Purusa,menerima dan akan mencatat Wanita tersebut sebagai warganya dan bendesa langsung menyerahkan uang penepak suara /pengepik cacah jiwa dan bakti pejati katur ring Bhagawan Penyarikan Bale Patok ,uang dan banten tersebut diserahkan Kepada bendesa predana. Kalau disaksikan oleh Klian banjar Purusa,maka Bendesa menyerahkan pencatatan cacah jiwa mempelai Perempuan kepada Klian Banjar yang bersangkutan. Usai saksi Adat maka dilanjutkan saksi dari Banjar Dinas Predana dan Purusa,kemudian dilanjutkan dengan penanda tanganan berita acara perkawinan dari masing-masing pihak. Acara selanjutnya seserahan pewarangan dari pihak orang tua Purusa kepada orang tua Predana,berupa base buah,tuak arak dan runtutannya. Di era sekarang kalau ada acara pasang/tukar cincin/sunting ali ali tresna, maka kesempatan inilah saatnya. Selesai acara tukar cincin ada doa wiwaha dan diakhiri dengan penyineb bakti pengraos dengan ngedetin peras oleh para saksi dan mempelai beserta orang tuannya masing-masing,atau simpelnya susunan acara Wiwaha Samskara adalah sebagai berikut (sebelumnya pemangku sudah ngantebang bakti pejati dan bakti pengraos) :

ü  Pemahbah/Pembukaan oleh pengeter baos/tuan rumah

ü  Pengaksama:

v  Pihak Predana

v  Pihak Purusa

ü  Saksi-saksi sah pekesah:

v  Klian Banjar Adat Predana yang melepas kepada Bendesa Predana

v  Bendesa Predana melepas kepada Bendesa Purusa,

v  Bendesa Purusa menerima warga predana (mem-pelai Perempuan)  sekalian menyerahkan putusan perarem tentang ketentuan wiwaha.

v  Klian Banjar Adat Purusa menerima pencatatan warga baru di Banjarnya.

v  Kliana Banjar Dinas predana melepas warganya

v  Klian Banjar Dinas Purusa menerima sebagai warga baru.

Catatan : untuk pengaksama pihak purusa sekalian bisa diwakilkan pada pihak prerdana untuk efesiensi waktu,karena acara keluarga sudah selesai saat medarma suaka. Dalam acara saksi masing-masing saksi memberi sedikit nasehat kepada mempelai, tapi yang diutamakan adalah kehadiran mereka sebagai saksi adat dan dinas.

ü  Penandatanganan berita acara pencatatan dan saksi pawi-wahan baik adat maupun saksi dinas.

ü  Serah Terima Pewarangan dari Purusa kepada keluarga/ orang tua Predana.

ü  Doa/Puja Pengastuti Wiwaha: contoh

* Om Sarwa Sukinah Bhawantu. Om Lasksmi, Sidhis ca Dirgahayuh astu tad astu swaha.. artinya semoga kedua mempelai dapat membangun keluarga yang Sukinah(selalu harmonis dan berbahagia),sejahtera lahir batin, teguh, tangguh, tegar, dan kuat menghadapi segala masalah yang menerpa,agar pernikahan berumur panjang dan tidak akan tercerai berai.

  Mohon Keharmonisan : 

    Om iha iva stam ma vi yaus tam ,Wiswam ayur vyasnutam,Kridantau putrair naptrbhih Modamanau swe grhe Artinya:Ya Tuhan, anugerahkanlah kepada pasangan pengantin ini kebahagiaan, keduanya tiada terpisahkan dan panjang umur. Semoga penganten ini dianugerahkan putra dan cucu yang memberikan penghiburan, tinggal di rumah

*Doa mohon ketenangan rumah tangga :

   Om visovisovo atithim,Vajayantah purupriyam,Agnim vo duryam vacah,Stuse sasasya manmabhih.   Artinya:     Ya Tuhan, engkau adalah tamu yang datang pada setiap rumah. Engkau amat mencintai umatmu. Engkau adalah sahabat yang maha pemurah. Perkenankanlah hamba memuja-Mu dengan penuh kekuatan, dalam ucapan maupun tenaga dan dalam lagu pujian.

*    Doa mohon cinta kasih-Nya   :  

    Om vicakrame prthivim esa etam,Ksetraya visnur manuse dasasyan,Kruvaso asya kiraya janasa,Uruksitim sujanima cakara. Artinya: Om Sang Hyang Widhy Wasa, Engkau Hyang Wisnu yang membentang di bumi ini, menjadikan tempat tinggal bagi manusia. Kaum yang hina aman sentosa di bawah lindungan-Mu. Yang mulia telah menjadikan bumi tempat yang lega bagi mereka.

*    Dll.

ü  Penutup dari MC./pengeter baos dan disineb oleh jero mangku pemuput,bakti pejati diambil peras dan disahkan/kedetin oleh Jero Mangku(saksi niskala) mempelai,orang tua dan saksi saksi. Selanjutnya penganten ke merajan mepamit di merajan kemulan, sedangkan para tamu dijamu untuk santap siang Bersama. Selesai makan,maka acara dinyatakan bebas,untuk sembahyang biasanya diikuti oleh keluarga dekat saja.

 

d.     Mepamit di Merajan Kemulan.(Dewa Saksi)

 

Selesai acara wiwaha samskara maka mempelai berdua lanjut mengadakan persembahyangan di sanggah atau merajan kemulan yang bertujuan untuk mohon restu niskala dari Bhetara Guru,mepamit akan pindah kerumah suaminya. Kemudian dilanjutkan dengan natab pawetonnya yang terakhir di tempat itu yang bertujuan untuk mengajak saudara empatnya ikut pindah dan menjaga dirinya.

Acara ini ada juga yang mepamit sampai ke Dadianya,tergantung dadia yang bersangkutan,intinya mohon restu mepamit dari kawitannya menuju kawitan baru sesuai dengan kawitan suaminya.

Usai sudah rangkaian acara lalu disuguhkan makanan,selesai makan Kembali kerumah mempelai yang baru(purusa) dan biasanya pada saaat ini pihak keluarga prerdana akan ikut mengantarkan kerumah suaminya untuk bersilaturahmi sebagai keluarga baru.

 

2.Ngerorod/Kawin Lari.

Dewasa ini jenis perkawinan ini jarang dilaksanakan,kalua zaman dulu ketika masih peradaban lama sering terjadi,kalua sekarang mungkin dianggap bertentangan dengan hak azasi manusia. Dasar terjadinya perkawinan jenis ini karena tidak adanya restu atau persetujuan salah satu pihak dan bahkan bisa jadi kedua belah pihak orang tua yang bersangkutan, karena itu mempelai mengambil jalan ngerorod ini.

Langkah yang dilakukan :

a.     Mengambil wanitanya secara diam-diam/ngemaling,kemudian dibawa ketempat tertentu yang sudah disiapkan untuk bersembu-nyi.

b.     Pihak purusa mengutus orang untuk membawa surat pernyataan bermeterai yang isinya bahwa mereka yang menikah sudah saling mencintai ,bukti itulah dibawa oleh utusan purusa ke kantor kepala desa asal perempuan yang diculik itu,pihak dinaslah yang memediasi,apakah diijinkan pulang menyelesaikan upacara perkawinan atau tidak. Kalau tidak diijinkan maka upacaranya hanya dipihak purusa.

c.     Pada intinya hanya proses yang berbeda,waktu yang berbeda, upacara bisa berbeda tergantung hasil mediasi dan itu perlu proses yang lebih Panjang.

d.     Kalau keras mungkin bisa putus hubungan orang tua dengan anaknya,tapi pada umumnya setelah berjalan dalam kurun waktu tertentu dan punya anak,emosi orang tua sudah reda,maka cucunya bisa digendong artinya sudah berdamai,akhirnya berjalan normal, maka acarapun bisa diselesaikan seperti biasa.

 

3.Nyentana

Perkawinan ini pada prinsifnya sama dengan memadik cuman prosesnya terbalik,pihak perempuanlah yang memadik pihak laki,dalam hal ini perempuannya berstatus purusa,perempuannya yang mengambil laki lakinya, kemungkinan anak perempuan ini hanya satu satunya di keluarga itu,maka untuk mempertahankan kelangsungan keluarganya ia mencari laki laki yang mau nyentana. Karena di Bali berlaku hukum patrilineal/laki laki sebagai purusa yang mendapat waris dan berkewajiban melanjutkan swadarma dan swadikaranya,di Desa Adat Tegenan ini pernah terjadi sekitar tahun 1986.

 

4.Para Separo atau Pada Gelahang

Jenis perkawinan ini di Tegenan juga pernah terjadi namun beda agama, sehingga masing masing menganut keluarganya,persoalannya akan mun-cul Ketika mempunyai keturunan terutama pihak Perempuan sebagai agama hindu yang nota bena ada kawitannya,maka masuk di kawitannya, tetapi masalahnya anak yang mana mengikut bapak atau ibu. Pada intinya menurut Prof Wayan Windia sang pencetus gagasan,hanya salah satu solusi sementara,mau melaksanakan silahkan,cetusnya.

 

D.SAHNYA SEBUAH PERKAWINAN

Sebuah perkawinan umat hindu dipandang sah atau legal secara adat  apabila ada saksi dalam melaksanakan upacara wiwaha (mabyakala) yang terdiri dari Tri Upasaksi (tiga saksi), yaitu Dewa Saksi, Manusia Saksi, dan Bhuta Saksi. Dewa Saksi adalah saksi Dewa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) yang dimohon untuk menyaksikan upacara pewiwahan tersebut,yang terdiri dari :

 

1.    1.Adanya  Bhuta Saksi.

Pada saat dilaksanakan upacara byakala kita membakar tetimpug yang dibuat dari beberapa potong bambu yang kedua ruasnya masih utuh sehingga pada waktu dibakar dapat menimbulkan suara ledakan. Suara ledakan merupakan simbol untuk memanggil Bhuta Kala untuk hadir di areal upacara, kemudian diberikan suguhan dengan harapan tidak mengganggu jalannya upacara bahkan ikut menjaga keamanan upacara serta ikut menyaksikan upacara tersebut. Setelah selesai prosesi upacara wiwaha (byakala), maka pasangan pria dan wanita tersebut resmi menjadi suami istri tahap pertama (dampati) dan berkewajiban melaksanakan tugas-tugas sebagai seorang Grehastin.

 

2.     ~. AdanyaManusa Saksi.

 


 
Manusa saksi dalam perkawainan umat hindu mengundang/ ngulemin Klian Banjar Adat,Bendesa Adat dan Klian Banjar Dinas, baik dari pihak Purusa maupun pihak predana karena ada acara sah pekesah. Pihak Banjar Adat predana melepas kepada Bendesa , Bendesa predana melepas warganya kepada Bendesa Purusa, Bendesa purusa menerima dan melepas Kembali kepada Klian Banjar Adat di tempat tinggalnya nanti, lengkap dengan penyerahan penepak suara sesuai perarem adat. Manusa saksi yang lainnya adalah Klian Banjar Dinas Predana menyerahkan kepada Klian Banjar Dinas Purusa, dengan masing-masing menanyakan dan menasehati sang dampati atau sang mawiwaha,dilanjutkan dengan penanda tanganan berita acara perkawinan dan pelepasan warga predana ke tempat tinggal keluarga purusa. Dengan kehadiran prejuru desa dan dinas maka manusa saksi bisa mengesahkan perkawinan itu sesuai dengan jenis perkawinan tersebut.

 

3.     ~. Adanya Dewa Saksi.

Usai acara Wiwaha Samskara dalam manusa saksi,maka dilan-jutkan dengan upacara di merajan dengan banten sesuai dresta,di bale dangin ,tempat tidur atau sesua situasi dan kondisi sang dampati,ada juga mepamit sampai ke paibon atau dadianya masing-masing,dengan demikian secara adat perkawinan ini sudah sah secara adat .

 

4.     ~. Sah Menurut Undang Undang.

Keberadaan Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawin-an, sesungguhnya merupakan wujud nyata dari perjuangan kaum ibu Indonesia. Undang-Undang ini sesungguhnya telah diperju-angkan sejak tahun 1928. Liku-liku perjuangan kaum wanita yang teramat panjang itu, lalu baru pada bulan Januari 1974 para wanita Indonesia menuai hasilnya dengan bukti memiliki Undang-Undang tentang perkawinan. Setelah diundangkan oleh Menteri Sekretaris Negara dan melalui Ketetapan Presiden, kemudian dikenal dengan sebutan Undang-Undang No.I tahun 1974, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:150).       

Selanjutnya pada tanggal 1 April 1975 dikeluarkanlah Peraturan Pemerintahan tentang pelaksanaan Undang-Undang No.I tahun 1974 tentang perkawinan, yang lebih dikenal dengan nama Peratutan Pemerintah (PP) No. 9 tahun 1975. Undang-undang ini berlaku efektif mulai tanggal 1 Oktober 1975. Terkait dengan pencatatan perkawinan secara hukum Nasional dapat dilaksanakan di Kantor Catatan Sipil. Pada umumnya Undang-Undang Perkawinan tersebut secara prinsip mengandung azas-azas yang dapat mengantarkan pasangan suami-istri pada keharmonisan dan kebahagiaan keluarga. Adapun azas-azas yang terkandung dalam undang-undang yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1.     Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

2.     Suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut Hukum Agama yang dianut, dan setiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3.     Undang-Undang Perkawinan mengandung asas monogami.

4.     Calon suami istri harus sudah matang jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan.

5.     Undang-undang ini menganut prinsip untuk mempersulit perceraian.

6.     Hak dan kedudukan suami istri dalam kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat diatur dalam undang-undang ini.

7.     Ketentuan tentang umur boleh menikah sesuai undang-undang ini dan kemudian disempurnakan dengan undang-Undang No.16 tahun 2019 tentang Perkaawinan.

8.     Perkawinan sah secara hukum/undang undang apabila dicatatkan di kantor Catatan Sipil/Dukcapil dan keluar  hasil pencatatan di lembaga negara dalam bentuk Surat Akta Perkawinan.

dengan dilaksanakannya wiwaha seperti itu,maka perkawinan itu sah diakui secara hukum adat dan hukum negara.

Demikianlah catatan singkat mengenai tata cara perkawinan atau pernikahan di desa Adat Tegenan,dengan harapan tahapan yadnya yang ada sesuai dengan dresta adat,agama dan undang-undang yang berlaku untuk itu.

Tujuan penyusunan buku kecil ini tentu mengandung maksud untuk lebih tertib dan tertatanya setiap upacara yadnya,apabila Tri Hita Karana dapat dilaksanakan dengan seimbang,maka tatanan kehidupan di desa adat Tegenan akan lebih harmoni. Implementasinya adalah bagaimana dalam upacara perkawinan itu menjalin hubungan harmoni dengan leluhur/kawitan dengan Ida Betara Kahyangan juga tentunya kepada Ida Betara Guru kemulan dengan ngaturang bakti piuning dan upacara untuk memohon restu beliau sehingga pelaksanaan grehasta asrama itu bisa mewujudkan keluarga yang sukinah.

Bagaimana hubungannya dengan pawongan,ini terbentuk keluarga baru, sehingga perlu adanya penyesuaian kebiasaan prilaku diantara para pihak, kalau bisa terjalin dengan harmoni,apalagi disaksikan dan disahkan oleh penguluning desa baik adat maupun dinas,maka akan terjalin sebuah harmoni yang abadi di keluarga itu. Bagaimana halnya dengan palemahan, ini kaitannya dengan Bhuta saksi upacara pekalakalaan dan juga penataan dekorasi dalam acara resepsi pernikahan tersebut.

Demikian catatan kecil ini,semoga ada manfaatnya untuk des akita dan warganya,kalua ada yang kurang mohon dikritisi,untuk kesempurnaan bersama. Terimakasih Om Santi Santi Santi Om.

 

 

                                                                        Tegenan,16 jkanuari 2024

                                                                        Penulis”         

 

 

 


 
                                                                        Mangku Manik Puspa Yoga

 

NGUSABA PITRA SEBUAH RNA PADA LELUHUR

Ngusaba Pitra di Pura Dalem Puri,Besakih dilaksanakan pada hari kajeng sasih kepitu nemu pinanggal apisan,tiga atau lima adalah agenda tahunan upacara yang diselenggarakan di komplek Pura Agung Besakih,yang diawali pada hari tilemnya melaksanakan upacara pecaruan dan nedunang Ida Betara,mulai hari ini pemedek sudah berdatangan untuk melaksanakan persembahyangan,ngaturin Ida Dewa Hyangnya masing-masing. Upacara ini adalah sebuah rna pada pitra yang wajib dilaksanakan menurut keyakinan umat Hindu di kawasan Kabupaten Karangasem,Klungkung dan sebagian kabuipaten Bangli. Dari kabupaten lainnya memang ada tetapi kemungkinan asal mereka dari 3 kabupaten tadi ,kemudian tinggal atau menikah  ke kabupaten lainnya,sehingga mereka masih melestarikan tradisi leluhurnya.

Ngusaba Pitra tahun 2024 ini ada sedikit perubahan terutama perubahan Nyineb Ida Bhetara,dimana kalau sebelumnya selesai piodalan,sesuai rumusan tadi,maka sore itu juga Ida Bhetara kesineb,sehingga pelaksanaan saba pitra di Desa Adat(khususnya Desa Pregunung) terdekat dilaksanakan tiga hari setelah acara di Dalem Puri,seperti Tegenan,Batusesa dan Pempatan,kemudian lanjut ke Desa Menanga-Buyan,Nongan,Rendang dll. terakhir Pesaban 30 hari kemudian.

Tahun ini di Desa Adat Tegenan,upacara Sabha Pitra yang dimotori oleh Desa Seket (dari dulu) dan yang dihadiri oleh semua krama Desa Adat Tegenan pelaksanaannya dilakukan pada hari ini,atau 3 hari setelah Ida Bhetara Dalem Puri katuran piodalan,namun sebelum acara dimulai,kami sempat berbincang dengan salah satu tokoh penglingsir yakni Mk.Kadek Sedana,mantan Bendesa Tegenan,menurut beliau pelaksanaan Sabha Pitra di Desa Adat Tegenan tujuannya adalah menghaturkan rasa syukur kehadapan Hyang Widhi khususnya Ida Bhetara Dalem Puri dan para leluhur kita,karena para leluhur telah dianugrahkan ngayah disana,maka usai ngayah 3 hari setelah nyineb Ida Bhetara,maka di Tegenan diadakan acara syukuran pada leluhur,sebab logikanya,beliau mewali ke tempat masing-masing menengok pertisentananya ,tentu setelah selesai upacara di Dalem Puri,kalau dari piodalan diambil,artinya di Dalem Puri masih krodit,leluhur tidak berani mepamit, karena beliau Ida Bhetara  Dalem Puri belum melinggih,itu logikanya, tapi ini perlu pemikiran bersama kalau mau menyesuaikan,agar tidak menimbulkan pro kontra, yang penting happy semua,agar kita damai dihati,damai di dunia damai di akhirat  .ujar Mk.Kadek seraya tersenyum.

Menanggapi hal itu,ketua Paiketan Pinandita Dharma Kerthi,Mk.Gde Krisnadana,membenarkan logika tersebut dan bahkan menurut beliau persembahan banten dengan banten dandanan sayut lima medaging gayah/kawisan dengan caru amanca,menurut tiyang ada kurangnya,karena banten pokok itu dipersembahkan kepada Ida Bhetara Sesuhunan Dalem Suci,carunya cukup abrumbunan,kurangnya adalah tidak ada banten ayaban kepada pitra/Hyang Dewa.ngiring kedepan kayunin sareng sareng agar menyesuaikan dengan sastra,tradisi dan pakibeh jagat, mangda sami adung,pungkasnya

Sementara itu Mk.Manik menganalisis tradisi ini, yang sudah berlangsung turun temurun dilaksanakan oleh Desa Seket ,ia menterjemahkan bahwa di Tegenan,Desa Seketlah sebagai cikal bakal Desa Pakraman/Adat,buktinya dulu siapa yang menjadi Klian Desa Seket otomatis sebagai klian Desa Adat, ketika ada kasus Adat penyelesaiannya ke klian Seket dan anggota seket masing-masing mempunyai tanah AYDS(Ayahan Desa) emponannya adalah upacara Pura Puseh,Bale Agung dan Saba Pitra dilaksanakan di Dalem Suci,yang nota bena Dalem Suci dulu adalah Dalem Cetra,makanya disana diadakan Saba Pitra. Bantennya apa ?,banten pokoknya yang dipersembahkan kepada Bhetara Dalem berupa Dandanan sayut 5 Suci soroh dilengkapi caru manca,yang sebenarnya bisa caru abrumbunan, mungkin pertimbangan zaman dulu,untuk menghormati para bhuta kala penjaga roh,agar leluhurnya lebih mendapat anugrah dari Ida Bhetara. Sedangkan banten ayabannya berupa sodaan/sekaligus dianggap ayaban Dewa Hyang yang disiapkan oleh masing-masing perti sentananya.                Mengenai tonggak pelaksanaan sebaiknya ditetapkan 3 hari setelah acara puncak seperti tradisi terdahulu,anggaplah ini seperti peringatan piodalan sebagai tonggak pelaksanaan yadnya. Mengenai logikanya setelah mesineb baru dilaksankan ini,karena Dewa Hyang masih ngayah,masalahnya suatu saat nanti kalau di Besakih Dalem Puri ramai pemedeknya,kabupaten lain baru sadar sehingga mereka ikut melakukan persembahyangan juga,maka bisa bisa kedepan seluruh Bali melaksanakan Ngusaba Pitra,nyinebnya bisa 11 hari,bisa 21 hari bahkan bisa sebulan tujuh hari seperti karya di Penataran (lamanya tergantung situasi/kesepakatan panitia) maka akan muncul pelaksanaan yang berubah setiap tahunnya,tahun ini bisa lagi 3 harinya,tahun depan bisa 14 harinya apabila Ida Bhetara nyejer selama 11 hari. Untuk itu yang paling pas adalah 3 hari setelah tonggak pengusaban di Dalem Puri,masalahnya jika Dewa Hyang masih ngayah,mungkin beliau bisa diberikan dispensasai, selorohnya. Sekarang Pempatan ,Batusesa dan yang lainnya tidak ada perubahan,hari ini juga sama dengan kita melaksanakan Sabha Pitranya. Betul yang disampaikan Pak Mk.Kadek dan Jero Gede Krisna,yang penting happy melaksanakan yadnya ,atas dasar kebersamaan tetapi jangan juga jauh jauh dari pedoman yang berupa sastra-sastra dikombinasi dengan tradisi desa kala patra dan desa mawecara,Pungkas Mk Manik.

Disisi lain Bendesa DA.Tegenan I Ketut Wana Yasa,mencermati hal tersebut,mengatakan akan mengkordinasikan dengan Bendesa Besakih terkait dengan penyineban di Dalem Puri. Apakah tiga hari setelah nyineb dilaksanakan apakah 3 hari setelah Saba Pitra di Besakih,tentu antara Desa Pregunung harus ada kesepahaman agar tidak mengubah sekehendak hati kita,buktinya Desa Adat atau Desa Pregunung lainnya melaksanakan saba seperti tahun sebelumnya,tidak ada perubahan,walaupun penyineban diundur sehari,ucapnya.

Selesai diskusi kecil ,kami mengikuti prosesi upacara pangusaban diawali denga Jero Mangku Dalem Suci ,Jero Mangku Puseh dan Jero Mangku Betara Gde Sakti ngantebang bakti,kemudian mereresik ngilenang sayut,Mecaru,ngaturang bakti pangusaban,ngadegang Dewa Hyang,ngayab bakti,ngaturang ayaban Dewa Hyang,muspa,nunas wangsuh pada dan nyineb Ida Bhetara dan Dewa Hyang.(manixs) 

Model banten soda ,didepan Tapakan pengadeg Dewa Hyang,di belakang soda persembahan 

Model soda digabung dalam satu tempat biar lebih simpel,katanya.

Soda lebih kecil depan banten belakang Dewa Hyang ??

 
Krama menunggu prosesi Ngusaba pitra.
Suasana menjelang acara berlangsung diseputaran Pura Dalem Suci

Prosesi ngaturin Ida Betara dan Ngadegang dewa Hyang

Nyineb lan ngelebar Ida Bhetara dan Dewa Hyang








Senin, 04 Desember 2023

SEBUAH PERTANGGUNGJAWABAN DALAM PENUNTASAN TUGAS

Desa Adat Tegenan yang baru usai menyelenggarakan hajatan besar lima tahunan dalam agenda ngaben kinembulan telah tuntas dilaksanakan,hal tersebut diungkapkan Bendesa Adat Tegenan I Ketut Wana Yasa. Wana dalam arahannya menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas kinerja panitia yang luar biasa sehingga pelaksanaan Ngaben Kinembulan Desa Adat Tegenan berjalan lancar dan sukses.

Sementara itu I Wayan Suiji selaku ketua panitia memaparkan laporan pertanggungjawabannya yang dibuka oleh I Made Mustapa selaku sekretaris dan didampingi I Komang Gunama dan I Putu Arnawa selaku bendahara ,dijelaskan secara rinci kronologi kegiatan dari awal persiapan,pelaksanaan ngaben, ngeroras,ngajar-ajar hingga penyelesaian kegiatan dalam upacara Rsi Gana di Tulak Tanggul dan Margi Catur,pada hari Sabtu Umanis wukun Sungsang,29 Juli 2023. Ngaben yang direncanakan menghabiskan biaya Rp.8 juta namun karena adanya pembengkakan dikonsumsi maka masing-masing peserta menambah kekurangan sebesar 210.000.

Sementara tamu undangan yang hadir Bupati Karangasem bersama Wakil,Bapak Wayan Gredeg mantan bupati Karangasem beserta Buk Yuli,Komang Rna anggota DPRD Prov dan Kabupaten dari partai Golkar, Mr.Phillipe dari PT.Bali Agung Waters,Paiketan Bendesa se Kecamatan Rendang,Owner Lereng Agung Sekcam dll.

Bupati Karangasem memberikan dana bantuan sebesar Rp.20 Juta yang cair pada bulan Oktober,karena itu disepakati sebagai donasi untuk ngadegang tapakan barong bangkung di Tulak Tanggul. dan pada saat ngaben juga digagas pengedaran kupon berhadiah dalam rangka ngadegang petapakan mendapat dana dari kupon sebesar 13 juta,dana itulah nantinya sebagai modal ngadegang petapakan,ujar ketua panitia I Wayan Suiji.(manixs)


Jumat, 01 Desember 2023

PENTAS PERDANA PETAPAKAN RATU GDE TANGGUL GUMI

 Setelah melalui proses pemlaspasan dan Pasupati petapakan Barong Bangkung pada hari Sabtu Klion Wayang,kajeng klion uudan sasih kenem 25 November 2023,bersamaan juga dengan pelaksanaan caru pemangkalan agung di Tulak tanggul,maka pada hari selasa 28 November 2023 dilaksanakan Nuur petapakan Ida Betara lunga ke Pura Dalem Putra bersamaan dengan Ida Betara Prajapati untuk dilaksanakan prosesi piodalan di Pura Dalem Putra pada hari Buda Wage Klau,serangkaian dengan hal tersebut proses diawali dengan upacara pemelastian di Pura Tegal Suci. Walaupun dalam suasana hujan gerimis,prosesi melasti tetep berjalan lancar dan hidmat sesuai rencana. 

Usai pemelastian dilaksanakan pemendak di jaba pura Dalem dan malamnya dilaksanakan upacara piodalan dengan bakti bebangkit  caru manca sanak dipuput oleh ida Pandita Mpu gria Bukcabe. Usai persembahan bakti dilaksanakan sesolahan Rejang Dewa,Baris Gede,Rejang mendak siwi,Pependetan dan rejang Renteng oleh Ibu-ibu pakis yang dikordinir oleh Mk Ririn Susanti.

Pada hari kedua Kamis Klion Klau dari jam 08.00 hingga sore diberikan kesempatan pelaksanaan ngaturang sot atau punagi kepada masyarakat,sedangkan pepintonan dilaksanakan pada malam hari usai ngaturang penganyar. Pada saat inilah dilaksanakan pentas perdana Ratu Gde Tanggul Gumi usai pentas Sanghayng Telek dan Jauk. Pada saat pentas inilah peristiwa magis terjadi penari telek kesurupan demikian juga penari jauk dan puncaknya ketika pementasan Ratu Gde Tanggul Gumi salah seorang pengiring kerauhan dan memerintahkan kepada Bendesa dan Pemangku Prajapati untuk melengkapi ngadegang petapakan prajapati dan ketika ada musibah beliau agar diturunkan ngelawang ketanggun desa untuk menyaksikan panjaknya dan kala itu agar dipendak dimasing masing lebuh krama banjar dilengkapi lawar babi sedangkan dipemangkalan agung agar dilaksanakan caru manca sanak medurga dengan kucit blangkalung butuan seperti yang sudah terlaksana.

Apabila kebrebehan(kejadian khusus) agar dilenghkapi segehan agung mesambleh kucit selem sedangkan  melawangan secara umum  dilaksanakan pada setiap hari kuningan,demikian pewarah warah ida sesuhunan. Suasana terasa magis karena usai pementasan banyak yang kesurupan,selanjutnya dipentaskan Tari Sri Sedana oleh ibu ibu banjar Adat Tegenan Kaler dan diakhiri dengan Tari Rejang Sari oleh ibu ibu dharma patni Banjar Adat Tegenan Kelod. dan acara penganyar diakhiri dengan persembahyangan bersama.

Jumat 1 Desember 2023 jam 08.dilaksanakan upacara mesineb lanjut ngeluur dimasing-masing pelinggih di Pura Dalem diiringi gong seket,di Prajapati diiiringi tambur sedangkan Ratu Gde Tanggul Gumi diiringi tabuh bebatelan mantuk ke linggih masing-masing. Setelah prosesi betara ngeluur berakhir sekitar pukul 10.00.

Klian Banjar Adat Tegenan Kelod I Wayan Suiji bersama prejuru menyampaikan laporan pertanggung-jawaban pelaksanaan piodalan di Pura Dalem. Awalnya Suiji memaparkan tentang kronologis pelak-sanaan upacara yang berbeda dari tahun sebelumnya karena pada odalan ini banten dibagi bersama kelompok krama dan bebangkit,banten sulinggih dan banten wayang serta sayut sayut dikerjakan oleh istri jeromangku dan atau serati yang ditunjuk bersama saye,untuk itu pada kesempatan ini tityang menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setingggi tinggginya kepada para jeromangku,serati,saye,pecalang,penari dan semua pihak yang tidak sempat disebut satu persatu,karena atas kerjasama dan rasa bakti yang tinggi semua kegiatan berjalan lancar. Dan untuk diketahui kegiatan upacara ini menggunakan dana kas dan dana punia serta sumbaer dana lainnya sehingga tidak kena peturunan ,dana yang dihabiskan sebesar Rp.28.720.000,-(dua puluh delapan juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah) yang bersumber dari Penarikan Tabungan Rp. 11.120.000,- Dana Punia Rp 15.685.000,-pembayaran cingkrem,Penglagan,sumbangan dagang dll Rp1.915.000,-. Penggunaan dana tersebut dilaksanakan oleh saye,prejuru hanya membuat LPJ nya,penggunaan terbesar adalah di sektor konsumsi,selebihnya alat upakara dan sarana upacara seperti kain,sangku,bokor, gong dll. Efesiensi ini banyak dibantu oleh krama yang punnya kendaraan untuk ngangkut sulinggih,gong dan lainnya diberikan secara gratis/ngayah seperti Mk Gunama,Md.Bakat,W,Sulaba,Cinang Tani,Nyoman Suli,Md.Juliarta,Mk.Manik dll. Pemabatan dan Sound dibantu Md Rusmantara dan Wayan Budiasa,Perlistrikan dibantu Mk Sambut, bidang upacara dilaksanakan oleh Mk Kania,Jero Suryadarma,Jero Dewi dan dibantu Jero Dalang,Mk>Eka,Mk Sentana dan lainnya. Pada intinya semua krama berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini termasuk krama banjar penyada.tapi namanya orang ada juga yang malas/tidak aktif tapi jumlahnya dibawah 1%,pada hal Pura Dalem,Prajapati dan Tulak Tanggul adalah linggih betara penguasa atma dan ketika kita kita mati dan diabenkan nanti, di ketiga pura inilah proses pertama kita,ucap suiji mengakhiri perbincangan(manixs).dokumentasi Yoga Pujana




Ngaturang penuur saat akan melasti



nyineb

Melasti



Ida Bhetara mesineb

Laporan Pertanggungjawaban



Minggu, 26 November 2023

KEBANGKITAN TRADISI MELALUI PASUPATI PETAPAKAN BARONG BANGKUNG

Tradisi atau leluri adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan secara berulang ulang dengan cara yang sama. Kebiasaan yang berulang ulang ini dilakukan secara terus menerus karena dinilai bermanfaat bagi sekelompok orang(desa adat),sehingga sekelompok orang tersebut melestarikannya.(wikipedia).

Salah satu warisan budaya tak benda adalah seni ngelawang barong bangkung yang punah di Desa Adat Tegenan khususnya Banjar Adat Tegenan Kelod ,tradisi ini pernah dan sangat disakralkan bahkan ada mitos di Tegenan tidak boleh memelihara bangkung sampai sekarang,karena beliau di kewengian punya pelawangan berupa bangkung atau babi betina besar dan seram,menjaga desa ini. Perkiraan terakhir barong bangkung yang sejenis barong bangkal atau barong celeng dipentaskan pada zamannya almarhum Ida Hyang Pekak Ngandeng remaja sekitar tahun 1890an,entah apa sebabnya tradisi itu tidak dilaksanakan lagi. Salah satu tempat yang sakral adalah Tulak Tanggul sebagai benteng pembatas antara nista mandala dengan madya mandala karang desa. Sehingga pada zaman kerajaan apabila ada pasangan suami istri yang punya putra buncing(menyamai putra raja) maka dibuang/diasingkan ditempat ini selama 42 hari(abulan pitung dina), demikian juga apabila ada krama yang sakit edeh/kusta juga diasingkan ditempat ini. Salah satu pura kecil(bebaturan) di barat daya tempat ini ada tumbuh pohon lemunduh dipercayai sebagai sarana mohon kesembuhan hewan ditempat itu.

Kemudian sekitar tahun 1960an pelinggih tersebut diperbaiki oleh yang punya tanah Ida Hyang Nengah Giyor orang tua dari I Wayan Suweden dan banyak percaya masyarakat mohon kesembuhan hewannya, sedangkan dibawah tempat itu disebut setra pemajangan karena tempat pembuangan memen bajang ketika anak bayi mebajangan. dijaman dulu dari tempat inilah dimulai ruta pelelawangan menuju batas desa yang dilaksanakan mulai umanis galungan atau pemacekan agung sampai kuningan dengan tujuan merayakan atau bersyukur atas  kemenangan darma dengan mengusir roh jahat dengan ngelawang untuk keselamatan masyarakat desa.

Selanjutnya di era 2002 atas petunjuk kelinggihan masal yang terjadi di desa Adat Tegenan dan dari beberapa petunjuk tapakan maka tradisi ngelawang itu agar dibangkitkan kembali dan Tulak Tanggul digunakan sebagai tempat pitra yadnya bersama. Atas dasar dan petunjuk itulah kami bersepakat dengan krama untuk membangkitkan kembali tradisi ngadegang petapakan barong tersebut,akhirnya bersamaan dengan Ngaben Kinembulan Desa Adat Tegenan kami menggali dana dengan membuat kupon berhadiah sehingga terkumpul dana 13 jutaan dan saat momen ngaben kebetulan kami selaku ketua panitia dan menggali dana dengan mengajukan proposal ke Bupati dan diberikan dana 20 juta,namun keluar pada bulan oktober,dan krama yang ngaben kami minta ijin dana bantuan tersebut digunakan untuk nangiang tapakan tersebut dan semua setuju. Dari dana tersebutlah kami melangkah atas persetujuan krama  membeli barong di Puaya Gianyar seharga 16,5 juta,beli gong besi 5,9 juta dan serpis pelinggihnya ongkos tukang 1,425 jt, barang 3,24 juta astungkara terwujud dan ada kas.

Akhirnya pada hari Sabtu Klion Wayang/Tumpek Wayang kajeng klion wudan sasih kenem icaka 1945 pada jam 12.00 dilaksanakan upacara pemlaspasan dan pasupati barong yang diantebkan oleh Jero Dewi (pmk Tulak tanggul) dan dilanjutkan dengan mecaru pemangkalan agung sasih kenem Desa Adat Tegenan diantebkan oleh  Jero Mangku Ketut Kania (pemangku Dalem) juga dihadiri oleh Jr.Mk. Sudiastawa (pmk Dalem Suci),Jero Surya Darma(pmk Prajapati),Mk.Eka Adnyana(pmk.Manik Harum),Jr.Dalang Sujata (dalang wayang due Dalem),Prejuru Banjar Adat,Klian Seket Wayan Surata dan Bendesa I Ketut Wana Yasa krama dan peserta ngaben kinembulan 2023 dikoordinir oleh Pt.Arnawa. Bendesa dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasi kepada masyarakat Banjar Adat Tegenan Kelod karena telah mampu mewujudkan dan melestarikan tradisi leluhur yang sempat punah,kepada panitia pelaksana saya sampaikan salut karena mewujudkan seni budaya yang adi luhung tanpa memungut dana peturunan dari masyarakat,pungkasnya.

Pada acara tersebut sempat ada 2 orang pemangku kerauhan ketika mundut petapakan akan diiringkan mesolah di madya mandala Pura Tulak Tanggul,yang intinya menyampaikan terimakasih kepada umat karena telah mampu mewujudkan tradisi yang punah itu,diharapkan kepada masyarakat untuk meningkatkan srada bhaktinya terhaadap tradisi leluhur sehingga masyarakat damai rahayu. Untuk melestarikan tradisi ini diharapkan keturunan sang perintis(Hyang Ngandeng) bisa mengkordinir dan ngayah nyolahang dan nabuhang gong besi due Tulak Tanggul,yang pentas perdananya pada galungan yang akan datang.

Kami (Suiji,Selahdana,Lanus) yang mengkordinasikan kegiatan ini menyampaikan apresiasi dan terimakasih atas dukungan krama semua sehingga tradisi budaya tak benda ini dapat dilestarikan dan dilanjutkan oleh generasi penerus kita. Kurang lebih dalam kami melaksanakan kegiatan ini,kami mohon maaf yang sebesar besarnya,suksma.(manixs)

Pelaksanaan pemlaspasan petapakan
Pelaksanaan mesolah usai dipasupati

Kerauhan Betari Prajapati
prosesi Masupati
Jero Derwi ngantebang Pemlaspas lan pasupati
Mk.Dalem Mk.Ketut Kania,ngaturang Caru Pemangkalan Agung






Minggu, 30 Juli 2023

DENGAN KEBERSAMAAN SUBAK LIPANG WUJUDKAN IMPIAN.

Hujan lebat yang belakangan ini melanda seantreo Bali,membawa akibat bencana melanda dimana-mana, termasuk di area Subak Lipang banyak terjadi longsor dijaringan irigasinya,sehingga air yang bersumber dari sumber air buka tidak bisa mengairi persawahan Subak Lipang.

Mengatasi musibah tersebut,melalui semangat kebersamaan anggota Subak bergotong royong dengan tenaga ekstra,bahu membahu mengangkat pipa besar yang disumbang oleh Balai Nusa Penida. Klian Subak Lipang I Wayan Megeng memaparkan,selama musim hujan ada 9 lokasi mengalami longsor disepanjang saluran irigasi,yang memang terbentang sepanjang tebing dari sumber air buka ke selatan, terjadi longsor di Dauh Umah hingga mengakibatkan terowongan terputus sepanjang 6 meteran merupa-kan lokasi yang paling parah,disamping posisinya terjal dalam ketinggian puluhan meter juga jalan tidak ada,sehingga perlu tenaga ekstra untuk menanganinya terutama mengangkat pipa dari sunga ke lokasi terowongan,paparnya.

Megeng sosok pekerja keras dan loyal ini,dengan semangat pengabdian tanpa kenal lelah sejak disahkan sebagai klian subak hasil pemilihan tahun 2021,telah banyak melakukan terobosan terutama dalam hal manajemen keuangan dikelola secara transparan,akuntable dan koordinasi yang baik dengan pimpinan adat dan tokoh masyarakat,serta pelaksanaan yadnya berjalan dengan baik menggunakan acuan lontar Dharma Pemaculan serta tidak melupakan sejarah dan tradisi leluhur yang adi luhung. Sosok sederhana dan Sosial ini, tak kenal lelah dan tak perhitungan dalam merintis jalan lingkar Kwanaya-Lipang-Pacung dan Plenda hingga objek wisata air Telaga Surya. Program yang pada awalnya banyak mendapat tantangan terutama dari kelompok kontra program dengan alasan tanahnya agar tidak kena lintasan. Megeng walau agak kurus namun ia sosok tegas dalam mengeksekusi prinsipnya,terbukti dengan berbagai strategi bersama anggota subak mereka yang tadinya menentang kini merelakan tanahnya digunakan jalan setapak karena sudah merasakan dampak dan manfaat adanya jalan lingkar tersebut.

Berdasarkan pengalaman tersebut ia senantiasa berkordinasi dengan pihak terkait dari instansi lokal/adat hingga kepemerintahan di loby hingga sering mendapat bantuan,baik berupa alat pertanian seperti Traktor ,bibit padi dll. Contoh lain yang ya lakukan adalah meloby pimpinan Balai agar sisa pipa air baku Telaga Waja yang tersisa tak terpakai bisa diminta dan dimanfaatkan untuk memperbaik trowongan rawan yang terputus,alhasil lobynya sukses,astungkara irigasi subak lipang kedepannya aman terkendali berkat kepemimpinan guru Wayan Megeng.

Dengan semangat kersamaan semua hal bisa diwujudkan,yang penting saling mengerti dan menghargai, jangan berterimakasih pada saat mereka dibutuhkan dan bertemu punggung saat mereka sudah habis masa aktifnya.(manixs)

Guru Wayan Megeng Klian Subak Lipang.

                                               depan trowongan irigai yang putus sdh.diperbaiki
Mengangkat pipa di medan yang ekstrim.





Rabu, 14 Juni 2023

NGABEN KINEMBULAN KRAMA DESA ADAT TEGENAN WARSA 2023

 Desa Adat Tegenan sane megenah ring wawengkon wewidangan Pura Agung Besakih,wantah sinalih tunggil Desa Adat pinaka Desa Pregunung gumanti desa sane dados pekandel ring sepemargin yadnya ring Pura Agung Besakih,antuk punika sajeroning ngemargiang upacara pitra yadnya nenten kelugra ngeseng utawi nunjel layon mangda nenten nyemerin linggih Ida Betara ring Besakih.

Sajeroning ngemargiang upacara ageng panca yadnya sinalih tunggil ipun Pitra Yadnya,sang sane ngemargiang karya, manut Lontar Dewa Tattwa.10 kebaos “Manah lega dadi ayu, aywa ngalem drewya. Mwang kamagutan, kaliliraning wang atuwa aywa mengambekang krodha mwang ujar gangsul.  Ujar menak juga kawedar denira. Mangkana kramaning sang ngarepang karya aywa simpanging budhi mwang krodha”

Artosipun:

Manah sane ledang lascaria sane patut gamel ,sampunang alem/bridbid ring padruwean yening sampun keanggen meyadnya,sampunang piwal ring piteket nak lingsir sane wikan,sampunang brahmantya,mebaos kasar lan degag.baos sane becik alus banban patut uncarang.Asapunika kepatutan anake sane ngemargyang yadnya. Sampunang piwal ring manah suci Nirmala pinaka agem-ageman ngeyasaang karya.

Selantur ipun manut lontar Widhi Sastra Tutur Tapeni Yadnya(72-73), kebaosang     “…ngaran ling nira Bhatari Tapeni, ngaran Bhatari Uma Dewi sira Hyang ring Pura Dalem, maka lingga gama kerthi ulahing wong kamanusan.  Adruwe pariwara watek apsari maka, Dewi Kancak, Dewi Pradnya, Dewi Wastu mwang Dewi Sidhi, ika pariwaranira mekabehan.

Uduh sira sang umara yadnya, sang parama kerti sang akinkin akerti yasa, nguni weh ta kita sang anggaduh gama-gaman, rengo lingku mangke, dak, sun warahi kita parikraman ing bhkati astiti ring gama tirta, aja sira tan mitulu ri hing ning sastra iki, nimita kweh wetun ikang yadnya, sapta yadnya, sapta yadnya luire: Aswameda yadnya, Siwa yadnya, Dewa yadnya,  Rsi yadnya, Pitra yadnya, Bhuta yadnya, Manusa yadnya, samadania limuwih-aken pada luwih ika tinemuni ya, palan ing yadnya, samangkana juga wineh utamaning kang yadnya, patemuang kunang kang  Agama, Ugama, muang Igama, apan ika ngaran pamurtian Sanghyang Tri Murti, tan wenang amalaku yadnya yan tan ingangge tattwa, ika ingaran Wuta, yan tan ingangge solah ayu sang umara yadnya, ika ingaran Tuli, muah tan ingannge yadnya ngaran rumpuh tan sida karyania, apan sukmania ika kadi anggan sira, ana hulu, ana awak, muang ana juga sukunia, mangkana utamaning kang yadnya. Apan sukmania, yadnya palan ikan yadnya wahya diatmika nemu sira rahayu”…..

Suksmanipun:

..”meparab Bhatari Tapeni utawi Bhatari Uma Dewi, Ida wantah sungsungan ring Pura Dalem, Ida pinaka pengrajeg uger-uger ngemargiang agama ring panegara krama, Ida keabih olih para widyadari sane meparab Dewi Kancak, Dewi Pradnya, Dewi Wastu lan Dewi Sidhi, nika wantah pengabih ida sami.

Uduh dewa-dewa ane lakar ngelarang Yadnya, manira ngicen pewarah-warah kapinang idewa ane demen nyalanang agama, pirengang pewarah manira ne jani,pamekas cening ajak makejang ane demen nyalanang agama tirta/Hindu , sujatine anak liu pepalihan yadnyane, ada pepitu bebacakan yadnya luire ; Aswameda yadnya, Siwa yadnya, Dewa yad-nya,  Rsi yadnya, Pitra yadnya, Bhuta yadnya, Manusa yadnya, mekejang padé utama, keto masi manira ngicen piteket tetuek nyalanang ajaran agama, ugama lan igama sawireh buka tetelu ento tusing ada len tuah Sanghynag Tri Murti nyekala, adungang nyen pantaraning upakara; yadnya muah tattwane, sawireh ento madan yadnya, yening mimpas uli Tattwane ento kebaos “buta”, yening sing manut uli uger-ugering nyalanang yadnya ento madan “bongol”, lan yen sing nganggo upakara ento suksmane “rumpuh’, nirdon gegaene,ento mekejang tusing ada len tuah niasa ukudan iraga , adá ulu/sirah, adá awak/ukudan, lan adá batis, ento kautaman iraga meyadnya, mekarma sekala lan niskala,lakar sida nemuang ane madan morksartam jagatita ya ca iti dharma,baos dane Mk.Manik manggala prawartaka ngaben kinembulan Desa Adat Tegenan.

Selantur ipun dane majarang,Ngaben Kinembulan suksmanipun wantah ngemargiang Upacara Pitra Yadnya sareng-sareng pantaraning krama sane megenah ring Desa Adat Tegenan utawi wargi sios sane kekuubang olih sinalih tunggil krama Desa Adat Tegenan nginutin tata titi sedaging perarem  Desa Adat Tegenan. Manut dane kruna ngaben mawit saking makudang-kudang pinampen,nanging tugesne mekadi ring sor puniki;

1.     wit ipun saking kruna Ngabu(menadosang abu) polih pengiring in kesandiang dados Ngaben inggih punika pula pali menadosang layon punika kageseng dados abu melarapan gni yadiastun alit ngangge nyasa utawi simbul,mekadi ring Tegenan sane kageseng wantah pengawak/simbul layon.

2.     Wenten taler maosang wit ipun saking kruna beyá,polih pengeter ngá pengiring in dados kruna ngábeyánin artos ipun mekelin (tarpana), mawinan Pitra Yadnya punika wenten upecara mekelin/penanjen sang ilang sane sampun mantuk ke desa wayah.

3.     Taler wenten maosang mewit saking kruna api polih pengeter ngá lan pengiring in dados kruna ngapiin ngandi dados ngapen,aksara pá nyatirupa dados aksara bá mawinan ngapen dados aksara ngaben. Api pinaka nyasa Brahma lan Brahman,tetuek ipun mangda sang pitara presida mewali ke Brahman pinaka Sang Sangkan paraning dumadi.

 

Dane taler majarang,ngaben suksmanipun wantah nyuciang angga sariran imanusa sane kebaos Stula Sarira sane mawit saking Panca Maha Bhuta (Akasa,Apah,Teja,bayu lan Pertiwi) kauriping olih Sanghyang Atma taler keiket dening Panca tan matra (Sabda Tan Matra,) sane kebakta saking karma duke mahurip. Mangda presida suci/bersih,sida amor ring acintya mawinan patut kemargiang upacara Ngaben.

Dadosne ngaben punika wantah upacara penyucian sanghyang atma saking panca maha Bhuta mangda presida ngewaliang kegenah suang-suang lan ngelepas sanghyang atma saking stula sarira.

Wenten tigang palet sane patut kemargiang sajeroning ngemargiang upacara Pitra Yadnya,minekadi :

a.     Ngaskara

Ngaskara pinaka serana nyuciang Sanghyang Atma saking Preta manadi Pitara,mangda presida ngungsi Nuah Loka.

b.     Tirta Pengentas.

Tirta Pengentas pinaka piranti memutus sifat  kepurusan (kejiwa-an) lan predana (kebendaan),mangda presida ngungsi brahmaloka.

c.     Prelina.

Prelina piranti ngelebur sarira sang lampus mangda mewali kesangkan paraning dumadi,sanghyang atma mewali ke Parama-atma,prakertin ipun mewali ke bhuana agung,suksman iun ngewaliang ke genah sane patut.

 

 

A.    ATMA WEDANA

Upacara Atma Wedana kebaos Ngeroras utawi Maligya,Mamukur, Nyekah miwah sane siosan,pinaka upacara lanturan saking upacara ngaben sane gumanti metetujon ngelepasang Sanghyang Atma saking Stula Sarira,yeni ng atma wedana ngelepasang Sanghyang Atma saking Suksma sarira mangda presida ngungsi Bhuah Loka. Suksma Sarira sane medasar  Panca Tan Matra,Dasendria miwah sane siosan kasuciang melarapan upacara ngeroras metetujon taler mangda Sanghyang Atma presida amor ing acintya melarapan pengastiti yasa kerti  pertisentanan-ipun taler medasar karma wersanan sanghyang atma. Antuk punika sajeroning atma wedana setata kedasarin antuk tigang sampir minekadi :

a.   Cinandi Bang pinaka niasa Puspa Lingga Sekah,pinaka lingga Sang Dewa Pitara/Leluhur Sanghyang Atma,sanghyang atma sane kekarya-nin pinaka meraga sisya.

b.   Cinandi Petak,pinaka prelambang Puspa Lingga Sangge,pinaka lingga Sang Hyang Antaratma/Dewa hyang pinaka Guru Nabe.

c.   Cinande Hijo mepinda Daksina Lingga pinaka stana Sanghyang Paramatma,Bhetara Kawitan pinaka witning kahuripan ring bhuana agung. Sajeroning pemargia,maiter pang tiga murwa daksina ring bale peyadnyan,pinaka nyasa Sang Pitra manadi Sang Pitara lantur dados Sang Dewa Pitara. Nika mawinan patut pisan titenin ngemargiang yadnya medasar antuk manah suci Nirmala kadi kasurat ring Lontar Dewa tatwa 10,kadi ring ajeng.

 

 Asapunika ketelatarang olih manggala prawartaka karya Mk.Manik Puspayoga ritatkala ngawitin paruman ngerincikang dudonan karya pitra yadnya ring Bale Desa Adat Tegenan daweg rahina Wraspati Wage Watugunung,pinanggal 18 Mei 2023