Jumat, 22 Agustus 2025

MISTERI BUDA WAGE DI PURA GUA GALA GALA

Malam itu adalah Buda Wage, malam yang dipercaya banyak orang sebagai malam keramat. Seharian sebelumnya, upacara Melaspas baru saja usai di Pura Gua Gala Gala, sebuah pura langka yang berdiri di antara tebing dan rimbunnya pepohonan. Penduduk sekitar enggan melintas di sana saat malam tiba, apalagi seusai upacara besar. Konon, energi spiritual pura itu sedang dalam puncaknya—sensitif, mudah terganggu.

Namun, seorang penekun spiritual yang dikenal dengan nama Jero Sewa justru datang memedek di malam itu. Sekitar pukul sebelas malam, ia melangkah perlahan menuju pelataran depan gua. Di tangannya, ia membawa sepasang canang wangi, sekuntum bunga, dupa, dan sebuah pasegehan alit sebagai persembahan.

Ia duduk bersila di hadapan dua patung penjaga gua—naga dan ular raksasa dari paras. Patung itu seolah hidup, tatapan mata mereka dingin dan tajam, menyorot langsung ke arah Jero Sewa. Tidak seperti biasanya, suasana pura malam itu terasa berat, menekan, dan mencekam. Tapi Jero Sewa tidak gentar.

Ia tidak datang untuk sembahyang biasa. Diam-diam, niatnya adalah untuk kembali mencoba “mengambil” sesuatu dari dalam gua. Batu. Bukan sembarang batu, melainkan batu-batu sakral yang tumbuh dan menyatu di dinding gua, yang selama ini diyakini sebagai media suci. Ia telah beberapa kali membawa orang lain untuk nangkil, mengambil batu tersebut. Alasannya? Untuk dijadikan sarana penyembuhan pasien-pasiennya. Tapi bisik-bisik warga menyebut, niatnya lebih condong pada ambisi pribadi daripada pelayanan tulus.

Bahkan batu besar pun pernah ia angkut keluar dari gua itu, hanya demi memenuhi permintaan seorang pasien. Ketamakan yang mulai melewati batas.

Malam itu, langit mendadak pekat. Awan hitam menggulung dan menyelimuti area gua, meski hujan tak turun. Angin berhenti bergerak, udara mati. Lalu, suara aneh mulai terdengar. Bukan dari luar, tapi dari dalam pikiran Jero Sewa—melengking, bersautan, seperti jeritan atau peringatan keras yang tak bisa diabaikan. Ia menutup telinga, tapi suara itu tetap menggedor pikirannya.

Dari balik patung naga dan ular, tampak bayangan-bayangan seperti makhluk, samar dan bergerak cepat, memandangnya dengan amarah. Getaran tanah pelan namun pasti mulai terasa. Jero Sewa menggigil, tubuhnya kaku, tak mampu bergerak. Ia tahu, para penjaga dan darma pura murka. Ia telah melanggar batas.

Dengan sisa keberanian, ia bangkit dan berlari tunggang-langgang meninggalkan pelataran gua. Persembahan yang ia bawa tertinggal begitu saja, sementara dupa terus mengepul sendirian, seperti menertawakannya.

Sejak malam itu, Jero Sewa tak pernah lagi terlihat memedek ke Pura Gua Gala Gala. Dan penduduk setempat percaya, siapa pun yang mencoba mengusik tempat suci itu demi kepentingan pribadi, akan mengalami hal yang sama... atau bahkan lebih buruk.

EPISODE 2: LINGLUNG DAN SAKIT

Sejak malam Buda Wage itu, hidup Jero Sewa tak lagi sama.

Pagi harinya, warga Banjar dikejutkan oleh kabar: Jero Sewa ditemukan oleh seorang pemburu, terduduk di bawah pohon pule tua diantara babmbu di pinggir sebuah bulakan, tidak jauh dari rumahnya. Tubuhnya kotor berdebu, wajahnya pucat, mata kosong memandang tanpa arah. Bibirnya komat-kamit seperti sedang berbicara dengan sesuatu yang tak kasat mata.

"Tiang... tiang nenten... tiang ten nyilih...," begitu katanya berulang-ulang.

Ia dibawa pulang oleh keluarganya, namun sejak saat itu ia seperti bukan dirinya lagi. Jero Sewa yang biasanya cerdas dan tenang, kini sering duduk termenung, berbicara sendiri, tertawa-tawa lalu menangis tanpa sebab. Setiap malam, ia menjerit saat tidur, menyebut-nyebut nama batu, gua, dan naga penjaga.

Parahnya lagi, tubuhnya mulai melemah. Beberapa bagian kulitnya menghitam seperti terbakar, dan ia menolak makan. Upacara melukat telah dilakukan oleh beberapa sulinggih, tapi setiap kali air suci menyentuh tubuhnya, Jero Sewa justru menggigil hebat dan menangis seperti anak kecil.

Keluarganya ketakutan. Mereka lalu memanggil seorang tetua spiritual dari Desa sebelah, dikenal sebagai Jero Dukuh Silako, seorang pemangku sepuh yang sangat dihormati. Begitumelihat Jero Sewa, wajah Jero Dukuh langsung berubah serius.

"Jerone sampun ngelintangin wates," begitu tuduhnya. "Batu sane keambil ring gua punika, punika boye batu biasa. Ida sane melinggih ring sajeroning gua punika, menggah pisan." lanjutnya.

Jero Dukuh kemudian melakukan meed kecil di halaman rumah Jero Sewa. Ia menancapkan sebuah tongkat kayu cendana ke tanah dan mulai membaca mantra-mantra kuno. Asap dupa mengepul tebal, dan suara gamelan samar terdengar dari kejauhan, padahal tak ada alat musik di sekitarnya.

Di tengah prosesi, tubuh Jero Sewa tiba-tiba kejang-kejang. Dari mulutnya keluar suara berat, bukan suaranya sendiri:

"Batu sane kaambil punika, wantah awak ida... mulihang! MULIHANG!"

Suasana mendadak mencekam. Semua yang hadir terdiam. Jero Dukuh hanya menunduk dalam, lalu berkata pelan:

"Upacara ngewaliang duene musti kalaksanayang ring Gua Gala Gala. Yen ten, jagi wenten korban selanturnyane."

Keluarga Jero Sewa pun sadar, mereka harus mengembalikan batu-batu itu ke tempat asalnya. Tapi tidak mudah. Batu-batu tersebut sudah tersebar—beberapa berada di rumah pasien Jero Sewa, ada yang sudah dibentuk menjadi sarana pengobatan, bahkan ada yang disimpan dalam kotak besi di kamarnya.

Waktu tidak banyak. Setiap malam, kondisi Jero Sewa memburuk. Dan konon, di malam-malam tertentu, bayangan ular besar mulai terlihat mengelilingi rumahnya...

EPISODE 3: UPACARA PEMULANGAN BATU

Langit sore mulai gelap, awan berat kembali menggantung di atas desa. Angin terasa dingin dan kering, membawa bau dupa yang belum dibakar. Hari itu, keluarga Jero Sewa memutuskan untuk melakukan upacara pemulangan batu ke Gua Gala Gala, seperti yang diwasiatkan oleh Jero Dukuh Sila.

Namun, tak semua batu itu bisa ditemukan. Dari lima batu yang pernah diambil, hanya tiga yang bisa dikumpulkan—dua lainnya sudah diberikan kepada pasien dan tidak diketahui keberadaannya. Tetua desa memperingatkan bahwa tanpa keseluruhan batu, ritual ini berisiko tidak sempurna… atau bahkan berbalik membahayakan.

Tetap, mereka harus mencoba.

Menjelang tengah malam, rombongan kecil bergerak diam-diam menuju Gua Gala Gala. Di antara mereka:

  • Jero Dukuh Sila sebagai pemimpin ritual,
  • dua pemangku desa,
  • keluarga Jero Sewa yang membawa batu-batu itu dalam wadah khusus,
  • serta Jero Sewa sendiri, yang digotong di atas usungan, tubuhnya lemah, wajahnya pucat pasi, namun matanya terus bergerak liar seolah melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain.

Sesampainya di gua, suasana berubah drastis. Udara membeku. Sekali lagi, dua patung penjaga—naga dan ular —terlihat menatap tajam ke arah mereka. Dupa dinyalakan, kidung suci dilantunkan. Jero Dukuh mulai menggambar rerajahan di tanah menggunakan air suci dan beras kuning. Batu-batu itu diletakkan di hadapan mulut gua.

Tiba-tiba, Jero Sewa menggeliat keras, tubuhnya melengkung seperti melawan sesuatu. Suara dari dalam dirinya kembali terdengar—bergetar, berat, dan menyayat:

"Durung jangkep... kalih batu malih... wenten ring kaler.. wenten ring kelod!"

Jero Dukuh terdiam. Batu-batu itu memang tidak lengkap. Tapi ritual harus dilanjutkan.

Ia mulai mengucap mantra pemulangan:

"Om catur dewi maha dewi  catur asrama bhetari, Ida Betara Anta Bhoga ring Gua Gala Gala... titiang nglungsur pangaksama. Ida sane kausak asik ring damuh ira, titiang matur suksma lan sida ngewaliang prelinggan ida ring genah sane suci puniki."

Suara gamelan mistis kembali terdengar samar. Angin berputar di dalam gua, asap dupa melingkar seperti ular. Batu-batu itu bergetar pelan... lalu diam.

Namun sekejap kemudian, dari dalam gua terdengar raungan panjang. Tanah bergetar. Asap berubah menjadi hitam pekat. Api kecil muncul di dasar gua, lalu padam. Salah satu pemangku jatuh pingsan di tempat. Jero Dukuh berdiri dengan mata tajam, lalu berteriak:

"Permas! Ida sampun ngerauhin... durus melinggih ring awak Jero Sewa!"

Tubuh Jero Sewa tiba-tiba melayang sebentar, lalu terjatuh. Saat matanya terbuka, bola matanya berubah... tidak sepenuhnya manusia. Dari mulutnya keluar suara asing:

"hana watu... ring jaba pura... yen tan kewaliang, yen kita tan wliang,pejah awaknia,apan dudu lampahnia ...kenak waliakna "

Sejenak sunyi. Ritual dihentikan. Jero Dukuh mengangkat tangan, memberi isyarat untuk segera meninggalkan tempat itu. Batu-batu yang berhasil dikembalikan tetap ditinggal di pelataran gua, ditutup dengan kain putih dan diperciki tirta.

Malam itu, mereka pulang dengan tubuh utuh... tapi tidak dengan hati yang tenang.
Dan benar saja—keesokan harinya, seorang anak kecil di desa yang disebut-sebut pernah ikut "dibekali" batu oleh orangtuanya, mendadak jatuh sakit tanpa sebab.

 

EPISODE 4: BATU TERAKHIR DAN KORBAN PERTAMA

Pagi itu, suasana rumah keluarga Wayan Raka mendadak berubah mencekam. Putra bungsunya, Made Yoga, yang baru berusia tujuh tahun, jatuh sakit secara misterius. Tubuhnya panas tinggi, namun anehnya, tidak berkeringat. Matanya terus terbuka, menatap ke langit-langit, sementara bibirnya bergumam hal-hal yang tidak dimengerti siapa pun.

"Ula agung... nyusup ring jero tembok... ada api... gua... batu..." begitu ia berbisik pelan, berulang-ulang.

Wayan Raka dan istrinya panik. Mereka segera memanggil balian, lalu bidan, namun tidak ada yang bisa menjelaskan kondisi anak itu. Hingga akhirnya, seorang tetua desa menyarankan:

“Tiang rasa, ada hubungan dengan batu itu… keluarga nyidang ngajak ke Jero Dukuh Sila.”

Sore itu, mereka datang ke griya Jero Dukuh dengan wajah memelas. Setelah mendengar cerita lengkap, Jero Dukuh langsung tahu: batu terakhir—yang telah mereka terima dari Jero Sewa beberapa bulan lalu sebagai “sarana perlindungan”—masih ada di altar kecil mereka. Tanpa sadar, mereka telah menjadi bagian dari pelanggaran besar.

Jero Dukuh berkata dengan tegas,

“Made Yoga masih bisa diselamatkan. Tapi keluarga harus matur guru piduka langsung di hadapan Pura Gua Gala Gala, dan batu itu harus dikembalikan malam ini juga.”

Wayan Raka pun tak menunda. Menjelang malam, ia, istrinya, dan anak mereka yang digendong lemah, menuju Pura Gua Gala Gala bersama Jero Dukuh dan dua pemangku. Batu kecil itu dibungkus dengan kain putih dan dibawa dalam bokor dengan canang dan tirta suci.

Di pelataran pura, lilin dan dupa dinyalakan. Di hadapan dua patung penjaga gua yang kini tampak lebih hidup dari sebelumnya, keluarga Made bersujud, menangis, dan memohon ampun:

“Ida sesuhunan sane meraga suci, titiang nenten presida nyanggra dosa sane kasurat ring jagat niskala puniki. Titiang ngaturang guru piduka nunas pengampura. Tityang ngelungsur mangda pyanak titiang prasida waras nutugang tuwuh mewali kadi jati mula.”

Suara lembut seperti desir angin tiba-tiba muncul dari dalam gua. Tidak ada lagi raungan. Tidak ada suara melengking. Hanya sunyi... dan harum bunga cempaka putih yang mendadak menyebar di udara.

Batu itu tiba-tiba terasa berat di tangan Wayan Raka, lalu ringan kembali—seolah ada sesuatu yang diambil dari dalamnya.

Made Yoga, yang tadi lemas dan pucat, perlahan membuka mata. Ia menatap ibunya dan berbisik,

“Bu… ular nagane sudah pergi…”

Semua yang hadir bersyukur. Upacara matur guru piduka telah diterima. Satu jiwa diselamatkan.

Namun sebelum mereka pergi, Jero Dukuh berdiri menghadap ke arah gua, dan berkata dengan lantang:

“Titiang ngaturang pangaksama sane pinih utama. Ring jagat sane suci puniki, sampun wenten sane ngemit. Nenten dados malih ngusak asik ngambil duen ida iriki,ila ila dahat yen purun kadi asapunika.”

Dan sejak malam itu, tak ada lagi yang berani mengambil batu dari Gua Gala Gala. Pura itu kembali hening... tapi semua warga tahu, hening bukan berarti kosong.

 

 

EPISODE 5: TOBAT DAN KEHENINGAN BARU

Hari-hari berlalu. Setelah upacara pemulangan batu terakhir dan permohonan guru piduka, perlahan kondisi Jero Sewa mulai membaik. Tubuhnya yang sebelumnya kurus dan lemah, mulai terisi kembali. Tatapannya yang dulunya kosong dan dihantui, kini terlihat tenang, meskipun masih menyimpan bekas rasa bersalah yang dalam.

Ia banyak berdiam diri, tak lagi memamerkan “kemampuannya” seperti dulu. Tak lagi menerima pasien, tak lagi memaksa orang untuk ikut nangkil ke gua suci itu. Bahkan ia mulai menjauh dari urusan spiritual—bukan karena membenci, tapi karena sadar: ia telah melewati batas yang tak seharusnya dilanggar.

"Tiang sadar, tiang ten penyungsung pura punika... nenten pernah ikut ngayah, apalagi mabangun. Napi malih nganggen punika demi ajengan sareng gengsi... puniki salah tiang sane paling ageng,” katanya suatu hari di balai banjar, di hadapan para pemangku dan tetua desa.

Ia bertobat. Dengan tulus.Warga pun mulai memahami, dan secara perlahan memaafkan. Tapi sejak saat itu, Gua Gala Gala dijaga lebih ketat. Tidak ada lagi orang sembarangan masuk. Sebuah pelinggih baru dibangun di pelataran, dan 5 pancuran yang disebut beliau Panca Amertha untuk melukat dibuat dari sumber mata air pesucian Ida Bhetara Besakih—air yang dipercaya bisa menyucikan raga dan pikiran.Kini sudah mulai banyak orang yang nangkil terutama nangkilang Dewa Hyang untuk disucikan sebelum ke pura Dalem Puri.

Namun semuanya harus sesuai aturan. Siapa pun yang ingin ke sana, harus minta izin pada pemangku, membawa persembahan yang layak, dan terutama: niat yang tulus, bukan ambisi pribadi.

Batu bertuah? Abu hitam sakral? Ya, itu masih ada di dalam gua. Tapi sekarang, tak seorang pun berani menyentuhnya tanpa restu. Mereka sadar, tempat suci bukan ladang untuk kepentingan pribadi.

Kini, Gua Gala Gala menjadi tempat suci yang hidup, bukan karena ramai atau mewah, tapi karena dijaga dengan hati-hati dan dihormati dengan tulus.

Dan Jero Sewa? Ia memilih tinggal di rumah sederhana disebelah pohon bambu, hidup sederhana bersama anak istrinya, dan ia bertobat dan rasa terima kasih karena diberi kesempatan kedua.

Akhir Cerita

Semoga kita semua bisa belajar, bahwa tempat suci adalah warisan leluhur yang harus dijaga, bukan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi mencari nafkah dan ingat jangan pernah mengambil apa yang bukan hak kita dari tempat suci.

Semoga semua rahayu. Om Santih Santih Santih Om.

Rabu, 20 Agustus 2025

TEROPONG LANGIT DI POHON GENITRI

 (Berdasarkan kisah nyata yang dipercaya terjadi di Pura Manik Gni)

Bali, tahun 1968. Di sebuah desa dekat  Tegal Suci, berdiri sebuah pohon yang tumbuh tak seperti pohon biasa. Genitri — begitu warga menyebutnya. Tapi yang satu ini bukan genitri sembarangan. Cabang-cabangnya saling bertaut membentuk sebuah lubang alami, seolah membuka jalan menuju langit. Orang tua desa menyebutnya "Teropong Ida Betara Besakih ke Segara."

Warga yang bersih hatinya, konon bisa melihat sinar biru menyembur dari lubang itu, naik ke langit tanpa ujung. Seperti jalan spiritual, jalur niskala yang hanya muncul saat Ida Betara dari Besakih berlayar ke laut dalam prosesi melasti.

Namun, tidak semua orang percaya... terutama   si pemilik tanah tempat pohon itu tumbuh.

Tahun 1968, pohon itu mulai mengganggu lahannya yang hendak ditanami padi gogo,sinar matahari terhalang oleh pohon itu. Ia memanggil penebang untuk menumbangkannya. Begitu gergaji motor menyentuh kulit kayu, langit mendadak gelap, angin bertiup keras dari segala arah. Burung-burung bersahutan, dan petir menyambar, meski hujan tak turun.

Seketika saat itu pemilik tanah menggeliat geliat kesakitan, Perutnya dipegang sambil merintih sakit, terasa seperti ditusuk-tusuk dari dalam. Ia muntah, gemetar, dan tubuhnya demam tinggi. Dokter desa tak bisa menemukan penyebabnya. Barulah setelah didatangkan seorang balian, semuanya terungkap:

“Pohon itu bukan milikmu. Itu kayu kramat milik Betara dari Besakih. Jika ditebang, kau melukai tubuh-Nya sendiri…”

Sejak saat itu, tak ada yang berani menyentuh pohon itu lagi.

Bertahun-tahun kemudian, desa kembali diguncang kejadian aneh: kesurupan massal di banjar kajanan. Beberapa remaja tiba-tiba bicara dengan suara berat, menyebut nama yang sama berulang kali:

"Manik Gni... Manik Gni... bangunkan istanaku... tempat Dewa Banda Siwa harus dibangun kembali..."

Petunjuk itu akhirnya mengarah ke pohon genitri tua, yang sudah ditinggalkan begitu lama. Para tetua menyadari — tempat itu bukan tempat biasa. Di sanalah kemudian dibangun Pura Manik Gni, sebagai stana Dewa Banda Siwa,Bhetari Sri Mas Manik Jenjen sesuai petunjuk alam gaib dari Ida sesuhunan terutama roh suci dari Gunung Renjani kemudian disebut Bhetari Renjani.

Sejak pura itu berdiri, banyak penekun spiritual datang. Mereka bermeditasi di bawah pohon genitri. Ada yang mengaku melihat mata ketiga terbuka. Ada yang merasakan tubuhnya melayang. Dan selalu, saat malam Purnama Kapat atau Tilem Kadasa, sinar biru itu muncul kembali, menembus langit dengan cahaya tenang, seperti napas Dewa Siwa sendiri.

Pohon genitri itu kini disebut sebagai Rudraksha Hidup, air mata Siwa. Buahnya tak dipetik sembarangan. Hanya mereka yang mendapat “isyarat” dari mimpi atau lingsir pura yang boleh mengumpulkan bijinya — sebagai tasbih spiritual yang dipercaya membawa perlindungan dan kebijaksanaan.


Kini, tak ada satu pun warga yang berani duduk membelakangi pohon itu. Bahkan anak-anak pun diberi tahu sejak kecil:

"Kalau kau melihat cahaya biru di malam hari, jangan menatapnya. Tundukkan kepala, dan sebut nama-Nya. Karena mungkin, kau sedang dilihat balik oleh mata Siwa..."

Pura ini didirikan oleh sekelompok petani ternak yang kemudian menjadi sungsungannya dan tempat memohonkan keselamatamn ternak dan tanaman pertanian peliharaannya, juga Pura ini memiliki usaha koperasi yang selalu dimohonkan kesuksesan dan kerahayuan oleh pemangku jan bangulnya,rahayu (manixs)



ISTRI SEJATI PELITA JIWA PENJAGA DHARMA,SUAMI SEJATI PELINDUNG MAHLIGAI RUMAH TANGGA

Saling melengkapi


Dalam sunyi kehidupan yang tak selalu ramah, seorang pria menemukan cahayanya pada sosok yang tampak lembut namun menyimpan kekuatan yang tak terhingga — istri sejatinya.

Istri bukan sekadar pendamping dalam senyuman dan duka, tapi ia adalah Saha-Dharmini, yakni belahan jiwa yang mendampingi menapak jalan dharma bersama suaminya. Ia bukan bayangan yang berjalan di belakang, tapi cahaya yang menyinari jalan di sisi — terkadang di depan, mana kala suami tersesat arah.

Bila kehidupan adalah pertempuran antara dharma dan adharma, maka istri sejati ibarat Parwati yang bersedia menjelma menjadi Mahakali, mengerahkan seluruh daya dan cintanya demi menjaga kehormatan sang suami. Ia mungkin tampak lembut, namun jika cinta dan kebenarannya terganggu, maka seluruh semesta akan menyaksikan kekuatan cinta seorang istri — cinta yang mampu menjadi badai menghancurkan segala kebatilan demi kebenaran.

Istri juga adalah Gṛhini,ia adalah  penopang utama rumah tangga. Rumah bukan hanya soal dinding dan atap tempat berlindung, tapi tempat di mana hati berlabuh, dan dalam rumah itulah ia menciptakan kedamaian. Dengan kasih sayang, ia mendidik anak-anak, menjaga api dapur tetap menyala, dan menyatukan serpihan-serpihan kelelahan sang suami menjadi semangat baru. Istri bukan hanya penghuni rumah, tapi jiwa rumah itu sendiri.

Disisi lain istri juga berperan sebagai  Lakṣmī, dimana istri sesungguhnya adalah sumber rezeki, keberuntungan, dan kemakmuran. Bukan karena ia membawa emas atau perak, tapi karena kehadirannya mengundang berkah. Di wajahnya yang penuh cinta, rumah menjadi tempat yang dirindukan; dalam doanya yang hening, hidup menjadi ringan untuk dijalani.

Dalam Kitab suci  Manawa Dharmasastra dan Manusmrti menyesebutkan:

"Yatra nāryastu pūjyante ramante tatra devatāḥ"  artinya

"Di mana wanita dihormati, di sanalah para dewa bersuka cita." Sloka itu mengajarkan pada kita, bahwa suami yang bijak tahu, bahwa dengan menghormati istrinya, ia tengah menghormati semesta — dan dengan menyakitinya, ia mencederai dharma itu sendiri,saling mengerti,saling melengkapi itulah sesungguhnya suami-istri.

Namun lebih dari itu semua, istri sejati adalah pengantar menuju moksha. Ia bukan sekadar teman dunia, tapi pasangan dalam perjalanan jiwa. Ia hadir bukan hanya untuk menyatukan tubuh, tetapi untuk menuntun hati menuju keheningan abadi.

Cinta dalam bentuk tertingginya bukan hanya tentang memiliki, tapi tentang menjadi satu dalam tujuan hidup yang luhur. Dan di sanalah, di tengah riuhnya dunia dan sunyinya malam, seorang pria tahu dalam dirinya, ada seorang wanita yang bukan hanya mencintai — tetapi menyempurnakan.

Demiikian halnya dalam ajaran Hindu, peran suami dalam menjaga dan melindungi istri memiliki dasar yang kuat, baik secara etis, spiritual, maupun sosial. Hubungan suami-istri dipandang sebagai ikatan suci (dharma) yang tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga bertujuan untuk mencapai moksha (pembebasan spiritual). Berikut adalah bagaimana seorang suami seharusnya menjaga istrinya menurut ajaran Hindu:

 

1. Melindungi istri sebagai bagian dari Dharma (kewajiban suci)

Dalam Hindu, dharma seorang suami adalah melindungi, menafkahi, dan memperlakukan istri dengan penuh kasih dan hormat. Suami dianggap sebagai pelindung keluarga secara fisik dan spiritual, dan menjaga istrinya adalah bagian dari pelaksanaan dharma tersebut.

2. Menjadi pendamping spiritual istri

Suami tidak hanya bertanggung jawab secara materi, tapi juga membimbing istri menuju kemajuan rohani. Dalam pernikahan Hindu (vivaha samskara), suami dan istri adalah mitra spiritual yang bekerja sama dalam menjalani dharma, artha, kama, dan akhirnya moksha.

Selama upacara pernikahan Hindu (seperti dalam Saptapadi), suami dan istri mengambil tujuh langkah bersama dan membuat tujuh janji, termasuk:

  • Saling melindungi,
  • Saling mempercayai,
  • Saling menghormati,
  • Saling mendukung secara spiritual dan moral.

3. Melindungi kehormatan dan martabat istri

Seorang suami Hindu diajarkan untuk menjaga nama baik dan kehormatan istrinya. Ia tidak boleh mempermalukannya di depan umum, tidak boleh berlaku kasar, dan harus melindungi istri dari pengaruh buruk atau tindakan orang lain yang merendahkan.

4. Menghindari kekerasan atau pengabaian

Ajaran Hindu menekankan pada ahimsa (tidak menyakiti), termasuk terhadap pasangan hidup. Seorang suami yang benar tidak akan menggunakan kekerasan fisik maupun verbal terhadap istrinya. Sebaliknya, ia bersikap lembut, sabar, dan penuh kasih.

5. Memberikan rasa aman lahir dan batin

Suami bertugas memberikan:

  • Keamanan fisik (tempat tinggal, perlindungan dari bahaya),
  • Stabilitas ekonomi (nafkah dan kebutuhan rumah tangga),
  • Keseimbangan emosional dan spiritual (dukungan saat istri menghadapi kesulitan hidup),
  • Perlindungan moral, termasuk menjaga istri dari godaan atau tindakan yang bertentangan dengan nilai dharma.

Kesimpulan:

Dalam ajaran Hindu, seorang suami menjaga istrinya bukan karena ia memiliki kuasa atasnya, tetapi karena ia berkewajiban menjalankan dharma sebagai pelindung, pendamping spiritual, dan mitra sejati. Ia harus menjalankan peran ini dengan cinta, kesetiaan, dan tanggung jawab.

Senin, 26 Mei 2025

Kajeng Kliwon Uwudan,Sasih Kenem di Pura Tulak Tanggul

Hujan turun rintik-rintik malam itu. Udara di Desa Tegenan terasa lebih dingin dari biasanya. Malam Kajeng Kliwon Uwudan memang dikenal sebagai malam paling rawan, malam ketika para bhuta kala berkeliaran, mencari celah di antara dunia manusia. Tapi tidak semua orang percaya. Termasuk Wira.

Ia baru saja pulang dari Denpasar, membawa rasa kota yang mulai mengikis keyakinan lama. Bagi Wira, upacara Mecaru di Pura Tulak Tanggul hanyalah serangkaian simbol yang terlalu dilebih-lebihkan. Ia bahkan tak menghadiri upacara yang dipimpin oleh Jero Dewi tadi sore.

"Ah, pura tua. Dulu saja hilang tertimbun lahar, sekarang dibersihkan, langsung dipuja-puja lagi," gumamnya sambil melangkah ke arah pura yang terletak di ujung selatan desa.

Langit mendung menggantung seperti awan maut. Cahaya kilat sesekali membelah langit, dan setiap kali itu terjadi, Wira melihat bayangan di balik pelinggih. Ia tertarik. Penasaran. Barong Bangkung itu baru saja di-stanakan kembali — katanya, Ratu Gde Sakti Tanggul Gumi yang menjaga desa dari gangguan roh jahat.

Ia masuk ke pelataran pura tanpa menghaturkan pejati.

Suasana terasa... salah.

Angin berhenti. Rintik hujan tak lagi menyentuh tanah. Sunyi. Lalu...

Gong!

Suara gamelan terdengar dari arah jeroan pura, padahal tak ada siapa pun. Lonceng-lonceng kecil di kepala Barong Bangkung tiba-tiba bergetar sendiri. Sosoknya tampak lebih besar dari yang Wira lihat siang tadi. Mata barong itu memerah, gigi-gigi besar mencuat, dan mulutnya perlahan membuka.

Wira menahan napas. Ia mencoba berbalik, tapi tubuhnya seolah terpaku. Matanya tak bisa lepas dari tatapan Barong itu.

Tiba-tiba... "Ngueekk... Ngueekkk..."

Suara babi hutan terdengar dari balik hutan bambu. Bukan satu. Banyak. Mereka mendekat. Nafas Wira tercekat. Dari kegelapan, muncul sosok-sosok bayangan, bukan manusia, bukan juga hewan. Seperti bentuk setengah jadi, berkepala anjing, bertangan manusia, dan bertaring tajam. Wira ingin berteriak — tapi suaranya lenyap.

Barong Bangkung itu bergerak. Ya, benar-benar bergerak. Tanpa ada yang menuntun, ia melangkah ke arah Wira. Setiap langkah membuat tanah bergetar halus. Suara lonceng semakin nyaring.

"Jangan datang ke sini tanpa ijin..." suara berat, seperti datang dari dalam tanah, menggema di kepalanya.

Tiba-tiba... gelap.

Wira ditemukan keesokan paginya di jaba pura. Tubuhnya dingin, kulitnya pucat. Matanya melotot, mulutnya komat-kamit menyebut satu nama:

"Sanghyang... Suratma..."

Ia tak bisa bicara selama tiga hari. Jero Dewi harus menghaturkan banten dan melakukan penglukatan agar rohnya kembali stabil. Barulah Wira bercerita — bahwa malam itu ia melihat "dunia lain", dunia di mana para bhuta dan lelembut mendiami sela-sela pura, menunggu manusia yang lupa adat dan lupa sopan santun.

Sejak saat itu, tak ada yang berani masuk ke Pura Tulak Tanggul tanpa pejati. Dan setiap malam Kajeng Kliwon, warga selalu menghaturkan banten kepada Barong Bangkung — Ratu Gde Sakti Tanggul Gumi. Karena semua tahu, beliau bukan sekadar pelindung...(manixs)

Bhetari Durga Dewi

Ratu Gde Sakti Tanggul Gumi


Jumat, 23 Mei 2025

"NAGA AGUNG DAN ULAR EMAS DI PINTU NISKALA"

Malam itu langit Tegenan gelap. Hanya bulan sabit yang menggantung malu di antara awan. Angin dari arah Telaga Waja berembus dingin membawa aroma lembab dari sungai dan bebatuan basah. Di tepian utara aliran sungai itu, tersembunyi sebuah goa suci yang tak bisa sembarang orang mendatanginya—Goa Gala Gala Pura Langse, tempat bersemayamnya dua roh agung dari alam niskala.

Ida Bagus Wiratha, seorang pemangku  dari desa sebelah, telah bermimpi tiga malam berturut-turut: seberkas cahaya emas melingkar-lingkar di dalam air, lalu muncul suara halus memanggilnya, “Sapa raga, sucikan diri. Buka jalan leluhur...”

Malam ini malam Jumat kajeng Klion enyitan, ia datang seorang diri. Membawa sesajen bunga cempaka lengkap dengan pejatinya, air kumkuman, dan dupa wangi wangian, Ia menapaki jalan licin menuju mulut goa, tubuhnya menggigil bukan karena dingin, tetapi karena aura goa yang pekat, berat... seakan ada mata tak kasat memandang dari balik kegelapan.

Ia mulai masuk kedalam goa sembari mengucapkan Om Swastyastu, kedatangannya  disambut suara gemericik air seperti ombak kecil ,lalu dengan sesaji pangkonan petak-jenar, pesegehan alit dan doa sederhana, ia kemudian menyembah lalu mengambil air suci itu. Airnya bening namun terasa hidup, mengalir dari celah batu ke dalam kolam alami, setelah itu  ia keluar dari goa. Sebelum melakukan apapun, ia melukat di jaba pura—dengan memerciki dirinya dengan air suci tadi,lalu membiarkan air menyentuh ubun-ubunnya, pundaknya, dadanya. Setiap tetes air seolah membawa bisikan mantra yang tak ia mengerti maknanya.

Tak jauh dari tirta suci, dinding goa tampak hitam berkilau. Ia mengusapnya dengan tangan, meninggalkan serbuk hitam lembut di telapak tangannya. Di desanya, serbuk ini diyakini bisa menyembuhkan penyakit kulit menahun—kulit melepuh, borok, hingga penyakit yang tak ditemukan penyebabnya oleh dukun maupun para dokter.

Namun malam ini bukan untuk meminta kesembuhan, melainkan membuka jalan untuk ‘nangkilang’ leluhur. Dalam tradisi Banjar Adat Tegenan Kelod, sebelum seseorang dapat menyampaikan doa atau maksud nangkilang leluhur di Pura Dalem Puri, ia semestinya terlebih dahulu harus menghadap dan menyucikan beliau roh para leluhur di Pura Langse ini—sebagai gerbang antara sekala dan niskala.

Wiratha menaruh sesajen di atas batu datar, lalu mulai melantunkan kidung kuno. Seketika, udara di dalam goa berubah. Api dupa diatas banten sesaji didepan pelinggih menari tak menentu, air suci bergetar, dan dari kejauhan terdengar suara mendesis—panjang, bergema.

Dari sudut goa yang gelap, muncul kilauan keemasan. Ular besar, sisiknya seperti emas cair, melata tenang menuju altar. Matanya tak merah, namun bersinar hangat, menyelidik langsung ke dalam batin Wiratha. Ia tahu... itulah Bhetari Ratu Mas Sri Amertha.

Tak lama, tanah sedikit bergetar, batu-batu kecil berderak. Asap dupa mengental, lalu dari balik kabut, naga besar bermata hitam berkilau muncul, tubuhnya memenuhi separuh goa. Nafasnya berat namun penuh keagungan Beliaulah Bhetara Ananthaboga.

Keduanya berdiam sejenak, lalu ular emas membuka mulut, mengeluarkan suara tak seperti suara manusia, namun langsung menggema di benak Wiratha:

“Sucikan maksudmu. Bersihkan niatmu. Maka leluhur akan menjawab.”

Wirata menunduk dalam-dalam,kemudian tak terasa air matanya jatuh menetesi natar pemujaan  . Ia tahu, malam ini ia tidak hanya membuka jalan untuk leluhurnya, tapi juga membuka pintu bagi dirinya sendiri—menuju kehidupan yang lebih bersih, lebih selaras dengan semesta yang agung ciptaan Sang Murbeng Dumadi.

Pagi menjelang, goa kembali sunyi. Wiratha pamit dengan wajah basah tapi tenang. Di belakangnya, dinding goa berkilau hitam, dan berhembus angin suci mengalir merasuk kerelung hati membawa kedamaian jiwa. Tak ada yang tahu pertemuan suci dimalam yang merindingkan bulu kuduk itu, kecuali alam, leluhur, dan niskala.

Sejak malam itu, Pura Langse tidak hanya dikenal sebagai tempat melukat, tapi juga sebagai pintu hidup kedua—bagi siapa saja yang benar-benar ingin bertemu dengan dirinya sendiri, dan dengan roh leluhurnya.(Manixs) 

Pura Langse

Gua Gala Gala Gerbang Niskala ke Dalem Puri,Besakih


Minggu, 04 Mei 2025

PEKELING PELAWANGAN IDA BHETARA RATU GDE SAKTI TANGGUL GUMI

Pura Tulak Tanggul adalah salah satu Pura Kahyang Desa di Desa Adat Tegenan yang mempunyai fungsi sebagai pura penetralisir merana atau wabah penyait yang masuk ke wewidangan desa adat, konon di pura ini adalah tempat didirikannya bentang penjaga batas selatan,sedangkan dibatas utara ada benteng andalan yang kemudian berdiri Pura Pekandelan. Pura Tulak Tanggul sebagai tempat pelaksanaan upacara nangluk merana yang dilaksanakan setiap tahun yaitu pada hari Kajeng Klion uwudan sasih kenem,kemudian upacara pewatekan Ida Bhetara jatuh pada Sukra Umanis Ukir sedangkan pada Piodalan Ida Bhetara Dalem yaitu Buda Wage Klau,beliau ikut ngiring ke Pura Dalem nyejer selama tiga hari sampai penyineban. Sedangkan Ida Bhetara Ratu Gde Sakti Tanggul Gumi katuran ngelawang ke tanggun desa diutara di decker tempek lemo dan selatan sampai di Pacung, apabila hari Kuningan jatuh pada sasih Ke-nem,Ke-pitu,Ke-wulu dan Ke-sanga.

Demikian halnya upacara pada hari Tumpek Kuningan ini jatuh pada rahina Saniscara penanggal pang nem sasih Jiyesta icaka 1947 (03 Mei 2025)  sehingga tidak dilaksanakan ngelawang, hanya upacara pekeling pelawangan yang dipimpin oleh Mk.Manik,karena jero mk jan bangulnya berhalangan , upacara pekeling juga dihadiri oleh Jero Bendesa,Klian Seket,Klian Banjar Adat ,Ketua paiketan Serati dan warga masyarakat yang sempat hadir.

Bendesa Desa Adat Tegenan  Jero Ketut Wana Yasa,disela sela kegiatan menyampaikan bahwa Pura ini sangat penting sebagai tempat penetralisiran wabah yang masuk kedesa kita,baik itu wabah terhadap manusia,hewan maupun tumbuhan,sehingga semua warga mestinya wajib mengikuti dan melaksanakan upacara ini terutama pada upacara nangluk merana banjar Kelod dan Kaja wajib ikut,tidak hanya untuk nangluk merana tetapi juga pada saat upacara ngaben ,semua peserta ngaben wajib mepejati di Pura ini sebagai stana Ida Bhetara atau Sanghyang Suratma,ya,karena itu logikanya kita semua akan mati dan diaben, disinilah kita dimintakan ijin terlebih dulu dan ketika hidup disinilah kita mohon perlindungan keselamatan urip, agar merana/wabah penyakit tidak masuk menimpa kita,makanya  ada upacara nangluk merana dengan pelaksanaan caru pemangkalan agung yang dilaksanakan setiap tahun. Upacara nangluk merana ini tidak buatan kita,maunya kita,ini sudah tradisi dari leluhur,makanya disini ada barong bangkung,seperti kisah dalam lontar tentang upacara nangluk merana,disana disebutkan,munculnya upacara nangluk merana dimulai dari kisah Ida Bhetara Gni Jaya yang berstana di Gunung Lempuyang Luhur yang memiliki ribuan ternak babi yang dipimpin oleh ki babi sati,babi hitam besar dengan dahi putih  sedangkan saudara Ida Bhetara Gni Jaya yaitu Bhetari Dewi Danu,hoby bertani di daerah Danau Batur dan gunung Batur yang sangat subur. Suatu hari,kakaknya bhetari Dewi Danu  yakni Ida Bhetara Gni Jaya berkunjung ke Batur diikuti oleh ribuan babinya,beliau langsung ke istana sang dewi,sedangkan Bhetari Dewi Danu sedang di kebun menyaksikan serangan babi  di kebunnya, tanamannya semua rusak dimakan oleh babi,disanalah sang Dewi murka dan membunuh semua babi tersebut beliau tidak tahu bahwa itu milik kakaknya. Kemudian dengan hati kesal dan marah,sambil mengutuk sang pemilik babi yang tidak bertanggungjawab,maka ia pulang dan betapa kagetnya sambil matur sembah bakti kepada kakaknya,yang tumben mengunjunginya. Disanalah ia menceritakan baru habis membunuh babi yang merusak tanamannya dan mendengar cerita itu betapa kagetnya bahwa babi kesayangan kakaknya yakni ki sati juga dibunuh oleh Dewi Danu. Betapa marahnya Ida Bhetara Gni Jaya dan karena saking marahnya beliau lalu mengutuk pastu agar bangkai babi itu berbau busuk biar mengganggu kehidupan penduduk Batur. Disanalah Dewi danuh mohon ampun karena tidak tahu babi babi itu ternyata milik kakaknya,akhirnya bangkai bangkai babi itupun terpaksa dibuang kelaut yang menyebabkan laut baunya amis hingga mengakibatkan ikan-ikan dan tumbuhan laut terganggu. 

Melihat situasi itu betapa murkanya Dewa Baruna penguasa laut dan mengutuk agar bau itu menjadi merana/wabah penyakit yang mengganggu penduduk bumi terutama mulai musim pancaroba yakni sasih kenem,kepitu,kawolu hingga kesanga.

Mendengar kejadian dan peristiwa itu akhirnya Bhetara Pacupati turun ke Bali untuk mendamaikan dua bersaudara itu yang sekaligus adalah putra putri belia Hyang Pacupati, sekaligus beliau mencarikan solusinya. Kalian berdua sama sama salah, kamu nanak Gni Jaya knapa piaraanmu tidak dikandangkan,liar sehingga merugikan adikmu,kamu Dewi juga salah,kenapa babi itu langsung kamu eksekusi dan kenapa dibuang ke laut sehingga mengganggu kehidupan laut , karena ini sudah terjadi kalian harus saling memaafkan dan agar wabah tersebut tidak menyebabkan korban, maka di sasih kenem sampai kawolu kalian wajib melakukan upacara Nangluk Merana dipersembahkan kepada Hyang Baruna mengadakan caru di masing masing desa,sedangkan pada sasih kesanga krama wajib melakukan taur untuk nyomya para bhuta kala agar warga/manusia tidak diganggu dan terjalin hubungan yang harmonis dilingkungan desa adat,sabda Bhetara Pasupati pada putra putrinya. Sejak itulah kemudian dilaksanakan upacara nangluk merana hingga sekarang ungkap Jero Kt Wana.(manixs)

Mk.Manik didampingi ketua serati saat ngantebang pekeling.

Jero Klian Seket tampak hidmat mengikuti prosesi pekeling

Upacara di ajeng Ida Bhetara Ratu Gde Sakti Tanggul Gumi
 
Upacara Pekeling Pelawangan Ida Bhetara Ratu Gde Sakti Tanggul Gumi
Saat Berlangsung (doc.Jr.Bendesa) 






Selasa, 03 September 2024

KISAH DEWI ANJANI DI PURA MANIK GNI

Pura Manik Gni di Banjar Adat Tegenan Kelod adalah salah satu pura pemaksan yang unik karena berdiri kokoh sebuah pohon Rudraksa/Genitri yang konon bentuknya sangat unik riwayatnya tumbuh di tegalan sebagai tempat pemelastian Betara Lingsir Gunung Agung Besakih,sehingga tegalan itu diberi nama Tegal Suci. Di tahun 1963 setelah kejadian Gunung Agung meletus tumbuhlah sebatang pohon kecil yang bernama Genitri,entah dari mana asal muasalnya yang disekitarnya tidak ada jenis pohon itu karena sudah luluh lantak semua tumbuhan akibat efek letusan Gunung Agung,namun tiba-tiba tumbuh pohon tersebut. Dalam perjalanan waktu sekitar tahun 1966 mulailah bercocok tanam padi gaga dan pohon tersebut sedah tumbuh dengan cepat,pemilik pohon kakak beradik mau menebang pohon tersebut untuk dijadikan humus tanaman padi,namun sang adik yang naik mau memotong batang rantingnya,tiba-tiba kakaknya menjerit kesakitan perutnya tiba-tiba sakit keras,akhirnya batang pohonpun dibiarkan tidak jadi dipotong.

Akhirnya mereka pulang dan mencariakn obat buat sang kakak,mencari orang pintar dan bersabdalah Tuhan bahwa pohon itu tidak boleh ditebang karena sebagai tekernya Ida Betara Besakih,ketika melasti untuk meneropong segara,jadi pohon itu berfungsi sebagai teropong.

Semenjak itu pohon itu tidak berani diapa apakan sehingga tumbuh dengan cepat menjadi pohon yang besar di pinggir tegal suci,dalam pertumbuhannya,bekas potongan waktu kecil berubah bentuk dan cabangnya menyatu dengan cabang yang lainnya kemudian terlihat seperti lingkaran dan berlubang seperti teropong. Ditempat ini sering orang pada hari-hari suci melihat sinar biru dari tanah hingga tak terlihat ujungnya di langit dan selanjutnya dibuatkan pelinggih bebaturan oleh pemiliknya sejak 1966.

Ditempat ini awalnya merupakan tempat yang tidak ada penghuninya,maka mulai tahun 1990 pemilik lahan mulai membangun untuk tempat tinggal,godaan dan penderitaan mulai timbul,hingga suatu saat mau membangun disebelah pohon itu,istrinya bermimpi bahwa batasnya tidak boleh terlalu dekat dengan pohon tersebut. Suaminya tidak percaya hingga dicarikanlah orang pintar dan ternyata apa yang termimpikan benar adanya siorang pintar tidak berani melewati batas tersebut karena pohon itu telah dijaga,kalua ingin selamat jangan langgar batas tersebut baru dia berani mencarikan lokasi tempat pemukiman. Hingga mau tak mau suaminya menuruti permintaan orang pintar tersebut. Selanjutnya mulai membangun,godaan dan penderitaan,sakit,hutang bertumuk dan istri linglung pernah dialami,selanjutnya mohon petunjuk kesana kemari sampai tempat yang jauh dan akhirnya disuruh upacara rsigana bahkan sampai 2 kali karena yang muput upacara tersebut harus sulinggih dan semua petunjuk itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh taqwa kehadapan beliau termasuk penghuni pohon tersebut. Barulah kemudian sedikit demi sedikit ada perubahan nasib sejak 1997 mendapat pekerjaan yang layak,dengan hati tulus terus berdoa dan mengabdikan diri paada Tuhan dan masyarakat. Dengan pengalaman hidup dan pergaulan mulai dipercaya dalam pergaulan dan puncaknya tahun 2002 bulan Maret terjadilah di Br.kajanan warga masyarakat 9 orang yang kesurupan dari berbagai kekuatan merasuki raga mereka ada dari Nusa,dari luhur ,Betara sakti ,buda rulay,Suranadi,Antaboga dan sebagainya. Penataan pura di wilayah Tegenan semua ditelusuri,yang tadi sudah lenyap /tidak ada agar dibangun lagi dan dilengkapi,antara lain Pr.Gua Gala-Gala,Pucaksari,Pekandelan dan di pohon genitri ini agar dibangun Pura. Suatu ketika hari purnama datanglah mereka yang kelinggihan tersebut bersama masyarakat tumpah ruah mengiringi ke tempat pohon genitri itu disanalah beliau semua kerauhan dan memberi nasehat agar dibangun pura yang diberi nama Pura Manik Gni dan yang distanakan adalah yang sudah dari awal melinggih digedong tersebut adalah Betari Sri Mas Manik Jenjen dan paling utara bentuk Padma adalah Betara Banda Siwa sebagai stana Betara ratu Lingsir di Luhur Gunung Agung,diselatannya adalah Padma tiga berstana Ratu Gde,Niang Sakti dan Niang Petak juga nantinya paling selatan adalah Sanghyang Ludra Rareangonsedangkan disebelah utara didirikan PAruman untuk Nawa Dewata,Dewi Kwan Im,Sanghyang Anta Boga dan Merta Boga. Dibelakang dekat pohon ada pelinggih distanakan Betara Manik Gni dan Sangkara serta di pohon ada bebaturan kecil distanakan penjaga utusan dari Gunung Renjani Lombok beliau dipanggil Dewi Anjani yang welas asih dan diberi tugas membimbing dan menuntun pengiringnya,sekaligus menjalani reinkarnasinya di pohon ini.

Menurut petunjuk beliau didirikanlah pura dan penguatnya laksanakanlah rencana mendirikan Koperasi,maka bulan April rencana pendirian Koperasi bias dengan cepat direalisasikan dan sekaligus it u adalah sebagai milik Pura dan dijaga sebagai laba Pura serta kelompok ternak yang sudah ada sebagai penyungsungnya,nanti akan dibantu,begitu petunjuk beliau. Benar sekali tahun 2004 kelompok terpilih sebagai penerima BLM  dari pusat senilai 305 Juta dan itulah dipakai untuk modal pendirian Koperasi dan kesejahtraan Kelompok sebagai paica Ida Betara Manik Gni yang ditransformasikan oleh Dewi Anjani sebagai pengawal dari luar daerah dan bantuan itupun dating dari pusat.

Sejak 2002 beliau Dewi Anjani berstana di Pr.Manik Gni melayani para Dewa Betara Betari karena pada awalnya beliau disebut jin Putih sehingga disebut makluk halus dan sebagainya,suatu ketika di tahun akhir 2002 kami pertama kali datang ke Lombok mejejauman ke Pura tempat beliau distanakan di Pura Gunung Sari menghaturkan rasa syukur karena beliau telah membantu menuntun kami dalam menjalankan tugas dan kegiatan hidup.

Dalam mitos di Lombok beliau adalah Dewi yang dipuja dan dihormati karena beliau menjadi ratu jin penguasa Gunung Renjani yang disakralkan,namun dalam kisah Pewayangan beliau adalah putri dari Maha Rsi Gautama yang memiliki cupu manik asta gina sehingga dapat melihat dunia sampai ke lapisan ke tujuh sehingga beliau diangkat jadi ratunya makluk halus,yang menjadi rebutan saudaranya yakni sugriwadan subali. Dalam perebutan cupu manik itulah menyebabkan ayahndanya marah dan cupu itu dilempar jatuh ketelaga,sehingga pada saat kedua saudara laki-lakinya Dewi Anjani mencari cupu itu dia menyelam ketelaga dan berubah wujud menjadi kera. Sedangkan Dewi Anjani dalam menjalankan tapa menjada katak dan Betara Guru lewat melihat Dewi sedang telanjang maka betara Guru mengirim daun yang diterbangkan oleh Dewa Bayu untuk menutupi tubuhnya namun Dewi Anjani hamil yang kemudian melahirkan Hanuman.

Kembali ke kisah Dewi Anjani di Manik Gni,yang sudah 19 tahun sebagai penuntun dan pengabdi di pura Manik Gni karena adanya kayu Rudraksa itu,maka hari ini Tumpek Uye,panglong 9 sasih Kasa icaka 1943 tanggal 3 Juli 2021 lewat mimpi beliau sesuhunan bersabda bahwa Dewi Anjani mulai hari ini beliau sudah selesai menjalani tugas reinkarnasi sebagai Dewi dan kembali ke Kahyangan sebagai Betari Gunung Renjani bukan lagi sebutannya sebagai Dewi Anjani dan untuk menggantikan tugasnya pelayanan Tuhan di Pura Manik Gni maka beliau menugaskan Dewi Pagar darii Pura Pucak Sari menggantikan posisinya menjaga Pura MAnik Gni dan Koperasi Mekar Sari. Namun ada perubahan ketentuan setiap hari suci Purnama agar di Pura Manik Gni dihaturkan Pejati sari dan pada saat tilem maturan pangkonan putih kuning dengan segehan manacawarna dan kajeng klion segehan brumbun. Betari Renjani bila ngaturin beliau bisa ngayeng dan menyebut nama beliau bisa distanakan di Paruman dengan suguhan sebagai betari.

Demikianlah kisah beliau yang sudah melindungi dan menjaga di Pura Manik Gni,pesan terakhir beliau agar Karyawan Koperasi senantiasa diingatkan agar bekerja keras dan teliti untuk menjaga Laba Pura berupa Koperasi,dari awal beliau sudah menjaga dan melindungi agar membawa nama baik dan menjadi baik sehingga kalau tidak dilaksanakan dengan baik maka akan membawa nama buruk dan beliaupun akan disalahkan sehingga wanti-wanti pesannya agar menjaga nama baik sampai anak cucu,maka jagalah ahlak dan jangan sampai tergoda oleh godaan setan. Itu pesan beliau.

Terimakasih Betari atas anugrah dan tuntunanMu semoga kami bisa melaksanakan amanatMu dengan baik demi nama baik dan kerahayuan bersama,astungkara.rahayu.