Sabtu, 13 November 2021

BRAYA SANTHI BERBAGI

Bertepatan dengan penyajaan galungan 08 November 2021, Paiketan Braya Santhi melakukan aktivitas berbagi kepada 15 krama lingsir yang ada di wilayah Desa Adat Tegenan dengan memberikan sembako senilai 150 ribu perpaket dan 1 orang ditambah kasur dan ditambah masing-masing uang tunai sebesar 100 rb.rupiah. Kegiatan kali ini adalah kegiatan kedua sejak didirikan 6 bulan yang lalu oleh 25 orang anggota dan yang aktif sekarang 10 orang donatur. Pembagian dilakukan ke rumah calon penerima donasi masing masing, untuk wilayah Tegenan utara 5 orang selatan 10 orang berdasarkan penilaian anggota dan Klian Banjar Adat Tegenan Kaler I Komang Janayata. Tujuan dari kegiatan ini bersifat kemanusiaan,membantu mereka yang hidupnya sebatangkara apalagi sakit-sakitan,sehingga dalam perayaan galungan ini dapat sedikit meringankan beban mereka,semoga bantuan kecil ini bermanfaat bagi mereka dan senantiasa diberikan kesehatan dimasa senjanya,astungkara.Karena anggota banyak kesibukan sehingga yang sempat turun hanya bertiga. Donatur yang paling rutin transferan dananya adalah I Ketut Mustika yang tinggal di Jakarta dengan tunai sebesar 250.000 setiap bulannya,terimakaasih kepada kawan-kawan PBS semoga kita semua dilimpahkan rakhmatNya,rahayu.(manixs)

1.Mk.Sujati(sakit-sakitan,sebatangkara)
2.I Wayan Suwija (Sakit-sakitan)
3.Ni Wayan Murya (Struk)
4.Ni Kt.Konten (sakit-sakitan)
5.I Komang Putu (sakit tua)
6.Md.Wartama (sakit patah kaki)
7.Made Mandri (sakit-tua)
8.Meme Bebas (sebatangkara)
9.Meme Tika (sakit-sakitan)
10.Bibi Jati(Sakit-sakitan)
11.Ni Wayan Ginantra (Setruk)
12.Md.Nujani (sebatangkara)
13.Meme Suwi(Lumpuh)
14.Meme Rata(sakit kelenjar gondok)
15.Guru Wayan Tresna(struk ringan)


PEMLASPASAN PARUMAN PR.TULAK TANGGUL BENTENG NISKALA

Bertepatan dengan rahina Sugimanik Bali,tanggal 05 November 2021 dilaksanakan pemlaspasan Paruman dan Apit Lawang di Pura Tulak Tanggul sebagai stana Ratu Gde Sakti di paruman dan Nandiswara serta Mahakala di Apitlawang. Terbangunnya ketiga pelinggih ini karena sebagai pelengkap pelinggih yang sudah ada yang dibangun atas aturan I Wayan Suweden dan Jero Dewi sebagai jan bangul pura tersebut senilai Rp.45 juta tahun 2018 lalu,dasar pembangunan ini atas petunjuk niskala melalui Jero Tapakan Widi dan Jero Dewi yang sudah dimusyawarahkan bersama krama Banjar Adat Tegenan Kelod. Terungkap dalam petunjuk tersebut bahwa Pura Tulak Tanggul adalah benteng niskalanya yang disebut Pemangkalan Agung Desa Adat Tegenan di bagian selatan dan Pura Pekandelan benteng andel-andelnya di bagian utara batas desa,karena itu tempat ini harus mendapat perhatian yang serius apabila ingin selamat dan damai. Kewajiban umat yang harus dilakukan adalah mendirikan tapakan barong celeng yang pada zaman dulu sudah ada dan berfungsi untuk ngelawang setiap galungan dan kuningan untuk menetralisir kekuatan negatif. Kini karena belum bisa diwujudkan kembali maka dibelakang pelinggih di tembok paruman dibuat relif tapakan Barong Celeng. 

Selanjutnya pada setiap kajeng kliwon uwudan nemonin sasih ke-enem patut dilaksanakan pecaruan panca sanak medurga atau caru pancasanak tawur madya  yakni dasarnya ayam amanca ditambah 1 ekor caru babi butuan belangkalung dipakai caru lengkap dengan olahannya. Untuk tirta pemuput caru wajib nunas di Pura Dalem dan Pr.Dalem Prajapati,sekaligus sebagai upacara caru nakluk merana di Desa Adat Tegenan yang dijadikan pembukaan pelaksanaan masa  mecaru di pakraman dan berakhir pada tilem sasih kesanga. Sebagai kelengkapan caru panca sanak medurga tersebut juga dibuat sungga guling dipasang di atas jalan sebelah Pura Tulak Tanggul di bagian selatan dan diatas jalan disebelah Pura Pekandelan sebagai batas bagian utara desa. sedangkan untuk upacara dimasing-masing rumah tangga agar menancapkan sanggah cucuk di lebuh sebelah kiri dengan banten di sanggah cucuk, tum-peng selem 1,daanan,raka-raka,pisang melablab,canang 2,besiap selem,olahan urab barak urab putih, sate lembat dan calon dan dibawah sanggah cucuk bantennya adalah segehan 5 tanding me be celeng matah,getih atekor,api takepan,tetabuhan tuak arak katur ring Sang Kala Maya Pati,jangan lupa mema-sang sungga guling di angkul-angkul,piuning di Betara guru saka sidan,untuk muput menggunakan tirta yang ditunas di Tulak Tanggul. Petunjuk lainnya dari Jero Tapakan Widhi adalah hendaknya seluruh krama Desa Adat Tegenan wajib hukumnya memuliakan beliau Ratu Lingsir Tanggul Gumi,Ratu Ayu,Sanghyang Suratma,Jogormanik dan Cikra Bala yang berstana di Pura Tulak Tanggul karena lokasi tersebut sebagai tempat melaksanakan upacara Ngaben masal yang merupakan tanah pribadi I Wayan Suweden yang telah direlakan dipinjam untuk digunakan tempat upacara,namun ketika usai ngaben agar dilaksanakan upacara caru rsigana untuk mengembalikan fungsi tempat pengabenan kembali berfungsi sebagai tegalan agar sang pemilik tidak kena kesalahan dari niskala,sedangkan usai meajar-ajar,sekembalinya Dewa Hyang dari Pura Dalem sebelum mepamit dari Margi Catur wajib mepamit dari pelinggih Sanghyang Semawa Gumi di tempat Yadnya Ngaben sebagai ucapan terimakasih dari Dewa Hyang pada penghuni niskala di lokasi tersebut.

Selanjutnya hal itulah sebagai dasar kami untuk melaksanakan upacara ini,sekaligus petunjuk tersebut  sesuai dengan Lontar Roga Sengara Bhumi sebagai salah satu acuan yang digunakan dalam  pelaksanaan caru di Desa Adat. Dari petunjuk itu kami diskusikan dan musyawarahkan kepada krama dan disetujui dengan menggunakan kas Banjar dan Kas Desa Kelod ungkap Klian Banjar Adat Tegenan Kelod saat pemlaspasan. Dana yang dihabiskan Rp.12.958.000,-(diambil dari Kas Banjar Adat Tegenan Kelod Rp.7.173.000 dan kas Desa Jangkepan/Pr.Dalem sebesar Rp.5.785.000) . dengan rincian sebagai berikut:

1.Ongkos Tukang guru Wayan Megeng Cs.                           Rp.  4.580.000,-

2.Material bangunan                                                               Rp.  6.972.000,-

3.Banten,Pedagingan,Pengangge,pengolem,caru,peras dll    Rp.  1.406.000,-

Sedangkan pengerjaan pendirian apit lawang dikerjakan gotong royong oleh karyawan koperasi Mekar Sari bersama ketua seka teruna.

Pelaksanaan pemlaspasan dilakukan oleh Jero Dewi janbangul Pr.Tulak Tanggul,namun karena "berhalangan" maka yang bersangkutan minta bantuan pelaksanaan pemlaspas kepada pemangku janbangul Pr,Manik Gni. Pada kesempatan itu hadir pula Bendesa Desa Adat Tegenan yang diwakili oleh I Ketut Wana Yasa A.Md.Par selaku petajuhnya,menyampaikan apresiasinya pada krama Banjar Kelod yang sudah bisa membantu Desa Adat dalam menata dan melestarikan tradisi leluhur yang sempat sirna yakni upacara caru sasih kenem yang akan dimulai pada kajeng kliwon uwudan sasih kenem ini, paparnya. Kami dari Desa Adat sangat berterimakasih dan menyambut baik langkah-langkah yang diambil krama banjar demi kerahayuan dan keselamatan kita semua apalagi petunjuk jero tapakan sangat sesuai dengan acuan sastra yang ada,jangan sampai di Tulak Tanggul sebagai tempat pengabenan Adat yang nota bena tanah milik pribadi yang sudah direlakan justru endingnya membebani sang pemilik karena kekurangan pelaksanaan upacara yang kita lakukan,kaasihan pemilik tanahnya. Kedepan akan kita benahi sehingga kita semua tenang dan aman melaksanakan kewajiban pada leluhur untuk itu atas nama Jero Bandesa dan krama adat saya minta maaf dan terimakasih atas kerelaan guru Wayan Suweden telah mempasilitasi pelaksanaan ngaben bersama Desa Adat Tegenan hingga bisa berjalan lancar,seterusnya.ucap jero petajuh.(medio051121manixs)

Pembangunan Paruman dan Apit Lawang (45%)

Sudah mencapai 70%

Ketua ST.I Wayan Teguh Pramarta membantu memasang Apit Laawang
Karyawan Koperasi Mekar Sari ngayah masang Apit Lawang

Klian Banjar Adat Tegenan Kelod ikut masang Apit Lawang

 

Paruman dan Apit lawang selesai diplaspas (selesai 100%),

Tampak di tembok belakang relif Barong Celeng ayah-ayah I Nyoman Selahdana

Jumat, 12 November 2021

AKHIRNYA PR.PRAJAPATI TUNTAS DIPLASPAS

Pr.Prajapati Desa Adat Tegenan yang merupakan pura huluning setra adalah salah satu rangkaian dari Pr.Kahyangan Tiga Desa, karena Pr.Prajapati merupakan satu kesatuan dengan Pr.Dalem Putra sebagai Pura Kahyangan Tiga. Melandasi hal tersebut tahun anggaran 2021 BKK provinsi Bali sebesar Rp.133,5 juta, difokuskan untuk pembangunan pondasi dan Tembok penyengker beserta candi bentar dan apit lawang dari batu padas yang dikerjakan oleh I Komang Manta dengan nilai tenderan tembok dan candi Rp.103 jt. dan 2 buah apit lawang seharga Rp.12 jt rupiah. Sedangkan pondasi yang banyak menelan dana swadaya masyarakat yang bersumber dari urunan krama masing-masing Rp.50.000,- terkumpul dana dari Br.Adat Tegean Kelod Peturunan 147 KK =Rp.7.350.000,- punia Rp.7.263.000,- dengan sumbangan material 1 truk Batu dari I Kt.Mustika dari Br.Tegenan Kaler Peturunan 174KK=Rp.8.700.000,- dan Punia sementara terkumpul  Rp.800.000,- dengan sumbangan material berupa Pasir  dari I Km.Jana dan beberapa sak semen. sedangkan tenaga kerja masing-masing krama banjar bekerja setengah hari kali empat dengan jumlah Krama 321,jadi total HOK 642 x Rp.100.000= Rp.64.200.000,- sementara kekurangan dana sekitar 27 juta masih ditalangi oleh Koperasi Mekar Sari dan Kas banjar Adat Tegenan Kelod hingga bantuan cair. Hal tersebut diungkapkan oleh I Wayan Suiji dalam laporannya selaku panitia pelaksana bersama I Komang Jana Klian Banjar Adat Tegenan kaler. Dalam kesempatan itu Suiji juga mengajak seluruh krama banjar untuk iklas dan yakin akan keberadaan Pr.Prajapati ,jangan sampai tidak peduli akan keberadaanya,karena bagaimanapun juga tempat ini adalah tempat terakhir kita nantinya,dan untuk selamanya.Sangat disayangkan kalau sampai itu terjadi artinya tidak punya kaplingan untuk ditinggali nanti,astungkara hari ini Jumat Klion Sungsang(Sugimanik Bali),5 November 2021 berkat kerja keras krama banjar semua,Pr.Prajapati bisa diplaspas,selorohnya,juga disambut senyuman oleh Komang Jana rekan seprofesinya.

Sementara itu Bandesa Desa Adat Tegenan tidak bisa hadir karena mengikuti rapat MDA Kecamatan, maka dalam kesempatan ini hadir petajuh Bandesa I Ketut Wana Yasa,A.Md.Par dalam sambrama wecananya menyampaikan apresiasi atas kerja keras krama ngayah bergotong royong dalam membangun pondasi penyengker Pr.Prajapati,sebab tanpa kerjasama dan kerja iklas krama bersama Panitia yang dengan semangat ngayahnya,juga prajuru Desa dan Banjar,para penglingsir sami,niscaya hal ini tidak akan bisa kita wujudkan. Kedepan mari kita lebih tingkatkan untuk membangun desa kita, kepada saudara klian Banjar Adat saya minta bantuan untuk lebih mensosialisasikan kepada kramanya masing-masing agar kedepannya punya kesadaran untuk semua krama bakti kepada Betara Prajapati, tidak terkecuali karena ini tanggungjawab kita bersama dan disini kita akan berakhir. Seperti hari ini sdr.Komang Jana Klian Banjar Tegenan Kaler bersama kramanya saya tugaskan mlaspas disini di Pr.Prajapati,sedangkan sdr.Klian Banjar Tegenan Kelod bersama kramanya hari ini jam 14.00 saya tugaskan mlaspas di Pr.Kahyangan Tulak Tanggul sebagai benteng niskala Desa Adat Tegenan,dan dana pembangunan Paruman beserta 2 apitlawangnyapun ditalangi oleh Banjar Adat Tegenan Kelod dan Pr. itu adalah tanggungjawab Desa Adat  sekaligus sebagai tanggungjawab kita bersama karena sebagai tempat ngaben bersama krama Desa Adat Tegenan. Kepada Penglingsir Sabha Desa,Kertha Desa, Jero Mangku yang tergabung dalam Paiketan Pinandita Dharma Kerti yang hadir hari iniatas nama bandesa tityang ucapkan terimakasih atas segala dukungannya dan atas rakhmat Tuhan Yang Maha Esa pamekas atas anugrah Ida Bhetari Prajapati,maka Panitia Pelaksana Pemugaran Penyengker dan candi serta Apitlawang Pr.Prajapati seijin Jero bandesa pada hari ini saya nyatakan dibubarkan karena tugasnya sedah selesai sekaligus atas nama krama saya ucakpan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya semoga Ida Hyang Widhi melimpahkan karunia dan rakhmatNya kepada kita semua. Sedangkan untuk program lanjutan yaitu papingisasi dan penataan taman serta pembangunan bale pesanekan pungkasnya.Acara pemlaspasan di laksanakan oleh Jero Surya Dharma pemangku Pr.Prajapati sedangkan persembahyangan bersama dipimpin ketua Paiketan Pinandita Jero Mk.Krisnadana (#051121#manixs).



I Kt.Wana Yasa Petajuh Bandesa



Suasana saat mlaspas

Selasa, 02 November 2021

ST.WERDHI SESANA WUJUDKAN BHAKTI MANDALA KRIYA

Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 93,ST.Werdhi Sesana melaksanakan kegiatan kerja bakti di Palemahan Desa Adat Tegenan sebagi pengimplementasian motto Desa Adat Tegenan yakni Bhakti Mandala Kriya  yang artinya Cinta tanah kelahiran dengan mewujudkan karya nyata. Hal tersebut diungkapkan I Wayan Teguh Pramartha ketua ST Werdhi Sesana,disela-sela kesibukannya bekerja bakti membersihkan lingkungan sepanjang jalan dari Balai Desa menuju Pr.Dalem Desa Adat Tegenan. kegiatan ini rutin dilaksanakan terutama menjelang hari raya Galungan dan hari besar lainnya. dengan dilaksanakan kegiatan ini diharapkan generasi muda mempunyai jiwa patriotisma di era millenial untuk cinta pada tanah kelahiran khususnya dan Indonesia pada umumnya,disamping itu rasa kebersamaan dan saling memahami akan tugas dan tanggungjawab yang akan diterimakan kepada generasi muda di masa yang akan datang,ungkap Teguh.

Unsur pemerintahan Desa Dinas, Mk.Gede Tangkas Klian Banjar Dinas Tegenan juga menyampaikan apresiasinya terhadap aktivitas anak-anak muda Tegenan,yang sudah bekegiatan positif untuk bekerja bakti sebagai wujud cinta desa kelahiran dan bakti pada pertiwi sebagai wujud cinta negeri,ibaratnya dari desa membangun negeri.

Sementara itu petajuh Bendesa ,I Ketut Wana Yasa A.Md.Par mengungkapkan rasa terimakasihnya,pada generasi muda yang patut dicontoh melakukan aktipitas positip seperti itu lebih-lebih menjelang hari besar Hindu yang disebut Galungan sebagai tonggak kemenangan Dharma melawan Adharma,ini sudah dibuktikan oleh anak-anak kita mampu mengekang diri menundukan sang Kala Tiga dalam diri sehingga mampu memberikan contoh nyata melalui kerja bakti membersihkan lingkungan secara bersama-sama,sehingga sepanjang jalan dari Balai Desa menuju Pura Dalem tanmap bersih dan asri sehingga dalam melaksanakan persembahyangan nanti akan lebih nyaman dan adem,apalagi nanti akan dipancangkan penjor kemenangan disisi kanan kiri jalan menuju Pr Puseh Bale Agung dan Pr.Dalem,tentu sangat mendukung konsep Desa Adat Tegenan yang BISA (Bersih,Indah, Sehat dan Aman). Namun sangat disayangkan dari kegiatan yang sering dilakukan oleh ST.Werdhi Sesana,masih ada anggotanya yang jarang bahkan tidak pernah hadir dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh ST Werdhi Sesana,untuk itu lewat kesempatan ini atas nama Bandesa dan saya selaku Petajuh Bandesa berharap anak-anak lowongkan waktu untuk ikut dalam kegiatan tersebut, lebih-lebih yang sudah berpendidikan tinggi berilah contoh adik-adik kalian,bangun desa kita. Begitu juga orang tuanya hendaknya mendorong anak-anaknya yang jarang hadir untuk bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan dimaksud,mari bangun desa kita,kalau tidak kita bersama,siapa lagi ?...pungkasnya.




Sabtu, 25 September 2021

WARIGA BELOG

 

Krama Bali dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan  penting dalam kehidupannya ,selalu mencari hari yang baik yang dikenal dengan Dewasa Ayu,dengan melakukan kegiatan pada hari yang baik diharapkan kegiatan tersebut bisa berjalan lancar dan sukses berpahala yang baik.

Misalnya melakukan pernikahan, membangun rumah,membeli mobil dan kegiaan lainnya. Salah satu cara untuk mendapatkan hari baik adalah berpedoman pada Wariga yang asal katanya dari kata War-I dan Ga,war adalah “warah” artinya petunjuk,I sama dengan Indik artinya tentang ,sedangkan Ga adalah marga artinya jalan. Dengan demikian Wariga artinya petunjuk tentang jalan yang baik dalam berkegiatan,

Banyak wariga yang bisa dipedomani antara lain Wariga Krimping,Kalender,Tika,Wariga Belog dan lainnya. Nah yang akan kita bahas dalam kesempatan ini salah satunya adalah Wariga Belog yang dipublikasikan oleh Ki Dalang Bayu Edan dengan judul Mencari Hari Baik,Berdasarkan Hari Kelahiran yang bersumber dari Gria Giri Kusuma.

Petunjuk ini tidak mutlak seratus persen kebenarannya,namun sebaiknya juga menjadi pertimbangan semisal mencari di kalender,nunas dewasa dan atau mencari di sumber lainnya baru disimpulkan,karena sekarang sangat banyak sumber yang dapat dibaca terutama melalui google,media sosial dan media cetak,namun ingat kata kuncinya adalah : dina ayu wewaran alah dening pawukon,pawukon alah dening tanggal panglong,tanggal panglong alah dening sasih,sasih alah dening dauh,nanging dauh alah dening ning.Artinya apabila mencari hari baik hanya berdasarkan wewaran,itu dikalahkan dengan hari baik berdasarkan  pawukon dan pawukon dikalahkan hari baik berdasarkan tanggal panglong,demikian juga tanggal panglong dikalahkan oleh sasih,kalau sasih dikalahkan oleh waktu atau dauh,sedangkan dauh dikalahkan oleh ning.  Ning itu artinya ketulus iklasan dalam mengambil pekerjaan,justru itu yang paling menentukan hasilnya,karena itu wariga belog ini dianggap salah satu petunjuk jalan yang patut diperhitungkan sesuai sradha kita masing-masing.

 

Nah bagaimana cara mencari hari baik berdasarkan Wariga Belog ?

Dalam menentukan hari baik berdasarkan wariga ini sebenarnya sangat mudah,yaitu dengan menggabungkan urip Sapta wara dan panca Wara hari kelahiran dengan hari/dina bayun gumi(hari rencana berkegiatan) dibagi empat(4) dengan sebutan sebagai berikut :

1.      Guru hari yang sangat baik melakukan kegiatan ayu palania nilai A

2.      Ratu hari yang sedang dan bisa dilaksanakan kegiatannya tapi biasa saja nilai B

3.      Lara hari yang kurang baik untuk berkegiatan. Nilai C

4.      Pati hari yang sangat jelek dan berbahaya nilai D

 

Catatan :

Urip Sapta Wara :                                                       Urip Panca Wara :

1.Redite/Minggu (5)                                                    1.Umanis (5)

2.Soma/Senin (4)                                                        2.Pahing (9)

3.Anggara/Selasa (3)                                                  3.Pon (7)

4.Buda/Rabu (7)                                                          4.Wage (4)

5.Wraspati/Kamis (8)                                                 5.Klion (8)

6.Sukra/Jumat (6)

7.Saniscara/Sabtu (9)

 

Contoh : Gde Robet lahir Buda Umanis Medangsia akan berkegiatan hari Soma Pon Gumbreg

               apakah baik ?,mari kita coba cari hasilnya.

               Urip hari kelahiran Gde Robet Buda (7)+Umanis(5)  = 12

               Hari rencana kegiatan               Soma(4)+Pon(7)        = 11 +

                                                                                  Jumlah      = 23 dibagi 4 dapat 5 sisa 3.

               Urutan ke 3 artinya LARA kurang baik untuk melaksanakan kegiatan.

               Gampang kan ?  silahkan dicoba !!!

Demikian uraian singkat tentang Wariga Belog semoga ada manfaatnya (manix,25092021)

Jumat, 17 September 2021

ADA APA DENGAN YADNYA SESA ?

   

Kehidupan ritualitas krama Bali,memang beraneka rupa ,semuanya sebagai wujud syukur atas berkah yang dilimpahkan “Ia Yang Maha Kuasa”,yang pelaksanaannya dilakukan baik dalam keseharian, mingguan, bulanan, enam bulanan maupun tahunan.

Salah satu ritual harian adalah kegiatan setelah selesai memasak dan sebelum sarapan/makan dipagi hari disebut mesaiban/ngejot atau yadnya sesa,karena dalam sastra suci Bhagawadgita disebutkan “barang siapa yang makan sebelum mempersembahkan kepadaKu(Tuhan),maka sesungguhnya ia adalah pemakan dosa”,karena itulah me-yadnya sesa sebelum makan wajib hukumnya. Disamping itu dalam  Kitab Manawa Dharma Sastra Adhyaya III 69 dan 75 dinyatakan: Dosa-dosa yang kita lakukan saat mempersiapkan hidangan sehari-hari itu bisa dihapuskan dengan melakukan yadnya sesa.

Apa bentuk persembahan itu ?, seshungguhnya sangatlah sederhana,karena kuncinya apa yang kita masak dan yang akan kita makan itulah yang kita persembahkan terlebih dahulu. Begitu selesai masak,ambil nasi,lauk dan garam seadanya. Ambil wadah (nare,nyiru atau sejenisnya) kemudian ambil daun pisang dipotong 5x5cm dan buat anak rantau bisa menggunakan kertas yang bersih , kalau memang sulit mencari daun pisang ,kemudian diatas daun pisang/kertas itu, diisi nasi dan lauk kemudian taburkan garam,ambil sepasang canang dan dupa serta air segelas sukla.

Selanjutnya, dimana sepatutnya kita melaksanakan ritual itu ? dan mengapa semestinya ditempat itu kita melaksanakan ritual itu ?

Tempat pelaksanaan yadnya sesa atau ngejot menurut kitab Manu Smerti adalah di

lima tempat penting me-yadnya sesa.antara lain :

1.     Ditempat pembunuhan tidak sengaja yaitu di lesung,sangihan,sapu ,ditujukan kepada Sanghyang Sri Suda Bumi.

2.     Di tempat makan diatas meja atau diatas tempat penyimpan makanan kepada Sanghyang Sudewi.

3.     Ditempat masak/tungku/kompor ditujukan kepada Sanghyang Maya Gati

4.     Ditempat penyaringan/kuskusan /penyantokan/pisau/talenan dan sejenisnya ditujukan kepada Sanghyang Tenggeng Jati.

5.     Di Merajan/Plangkiran/laci tempat jualan kepada Sanghyang Puspa Dewi.

Sedangkan menurut kitab Menawa Dharma Sastra ada lima tempat juga untuk melakukan Yadnya Sesa sebagai unsur Panca Maha Bhuta antara lain di Merajan/Plangkiran sebagai unsur Akasa ,jalikan sebagai unsur Teja,Jeding pawon sebagai unsur Apah,Lesung dan Sangian/Sampat sebagai unsur Pertiwi,Tempat Makan sebagai unsur Bayu.

Pada initinya di tempat-tempat itu kita melakukan pembantaian atau pembu-nuhan sehingga wajib melakukan penyupatan sekaligus permohonan maaf,juga mengucapkan syukur atas limpahan anugrahNya. Misalnya  kita ngejot  di tempat sapu,karena dengan menyapu banyak kumatat-kumitit seperti semut,cacing,lalat, ulat dan sejenisnya dengan tidak sengaja kita bunuh,demikian juga pada pisau ,talenan dan kompor atau tungku kita pakai mengolah sayur,daging semua itu awalnya adalah makluk hidup yang bernyawa kita binasakan baik untuk kita makan maupun untuk yadnya,patut kita supat. Sedangkan ditempat makan/ penyimpanan makanan dan di Merajan/plangkiran itu wujud rasa terimakasih dan syukur kita pada Sang Pencipta pemilik semesta ini.

Doa-doa dalam kita melakukan Yadnya Sesa :

 

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada Hyang Widhi melalui Istadewata (ditempat air,dapur,beras/tempat nasi dan pelinggih/pelangkiran doanya adalah:

OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA DEWA SUKHA PRADHANA YA NAMAH SWAHA.

Artinya: Om Hyang Widhi, sebagai paramatma daripada atma semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud Dewa.

 

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada simbol-simbol Hyang Widhi yang bersifat bhuta, Yaitu Yadnya Sesa yang ditempatkan pada pertiwi/tanah doanya:

OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA BHUTA, KALA, DURGHA SUKHA PRADANA YA NAMAH SWAHA.

Artinya: Om Sang Hyang Widhi, Engkaulah paramatma daripada atma, semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud bhuta,kala dan durgha.

 

Atau bisa juga dengan atur pada yang ditujukan kepada Sanghyang-Sanghyang yang disebutkan diatas tadi.

 

Kesimpulannya dengan tahu bersyukur dan berterimakasih kita kepada Tuhan melalui ritual Yadnya Sesa,maka makanan yang kita nikmati akan berkah dan menjadi makanan yang halal tidak berdosa kita makan,sekaligus menjadi makanan yang sehat dan bermanfaat bagi tubuh kita Sang Bhuana Alit ini.

          Demikian uraian ini semoga ada manfaatnya,terimakasih.(manixs,gianyar auto 2000/10.43/18092021/sabtu)